Mengayun Angklung di Gawai
Dhany Irfan, seorang pegiat kesenian Jawa Barat di Tokyo, Jepang, mengembangkan aplikasi iAngklung karena ingin melestarikan angklung secara digital, sekaligus sebagai media pembelajaran di sekolah yang kesulitan mendapatkan alat musik angklung dalam bentuk fisik.

Bertepatan dengan Hari Angklung Sedunia pada 16 November 2022, Dhany Irfan bekerja sama dengan Chandra Tresnadi, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, merilis alat pendukung aplikasi yang diberi nama Ayun agar pengguna iAngklung bisa merasakan sensasi seperti bermain angklung sesungguhnya.

Pada masa pandemi seperti saat ini, keberadaan angklung digital terbukti efektif dalam pembelajaran seni musik jarak jauh. Kehadiran aplikasi ini juga diharapkan bisa mendekatkan angklung kepada generasi muda yang lebih melek teknologi melalui gawai mereka.
Dhany Irfan (kiri) pengembang iAngklung dan Chandra Tresnadi (kanan) dosen FSRD ITB yang membuat alat Ayun untuk angklung digital.
Dhany membuat aplikasi iAngklung dengan merekam satu per satu alat musik angklung guna mendapatkan suara yang autentik.
Pertunjukan iAngklung yang dibawakan oleh Angklung Medical Orchestra, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat. Aplikasi ini juga pernah tercatat dalam Museum Rekor Indonesia atas atraksi permainan angklung digital yang diikuti oleh ribuan peserta.
Aplikasi iAngklung dan Ayun menurut rencana akan digunakan dalam konser angklung yang melibatkan penyandang disabilitas di Jepang.