Tanya Jawab Virus Korona

Ini adalah pertanyaan mendasar Virus Korona. Pakar dari NHK menjawab pertanyaan dari pendengar tentang virus korona baru. Mohon pelajari lebih lanjut mengenai Virus Korona.

Q209: Informasi tentang vaksinasi (38)

Dalam bagian ke-38 serial informasi tentang vaksinasi, pertanyaannya adalah, “Bagaimana efikasi vaksin Sinopharm?"

Perusahaan farmasi nasional Cina, Sinopharm, mengembangkan vaksin yang dimatikan. Virus itu dimatikan dalam proses pengembangan vaksin.

Menurut situs web Sinopharm, program vaksin tersebut dilakukan di Cina dan negara lain, serta dalam tahap akhir uji klinis. Vaksin itu telah menunjukkan tingkat efikasi 86 persen di Uni Emirat Arab dan 79,34 persen di Cina.

Informasi ini akurat hingga 7 April.

Q208: Informasi tentang vaksinasi (37)

Dalam bagian ke-37 serial Informasi tentang vaksinasi akan membahas "Bagaimana efikasi vaksin Sputnik V buatan Rusia?"

Pusat Nasional Epidemilogi dan Mikrobiologi Gamaleya mengumumkan hasil uji klinis terhadap vaksin Sputnik V yang diproduksi secara domestik. Pusat itu menyebutkan bahwa di antara 19.866 orang yang berpartisipasi, sebanyak 16 orang dari 14.964 yang menerima vaksin mengalami gejala COVID-19. Sementara dari 4.902 yang mendapatkan plasebo, 62 orang mengalami gejala COVID-19. Pusat itu mengatakan vaksin tersebut memiliki tingkat efikasi 91,6 persen.

Pusat itu mengatakan 20 orang yang mengalami gejala serius seluruhnya menerima plasebo. Pusat itu menyebutkan vaksin tersebut 100 persen efektif untuk mencegah gejala serius dalam 21 hari pertama setelah vaksinasi. Program vaksin Sputnik V telah dilakukan di Rusia dan negara lain.

Informasi ini akurat hingga 6 April.

Q207: Informasi tentang vaksinasi (36)

Dalam bagian ke-36 serial tentang vaksinasi akan membahas mengenai “Bagaimana efikasi vaksin Novavax?”

Perusahan bioteknologi Amerika Serikat (AS) mengumumkan hasil uji klinis yang dilakukan di Inggris. Disebutkan diantara lebih dari 15.000 orang yang berpartisipasi, enam orang yang menerima vaksin itu dan 56 orang yang menerima plasebo terkonfirmasi mengalami gejala COVID-19. Perusahaan itu mengatakan vaksin tersebut memiliki tingkat efikasi 89,3 persen.

Informasi ini akurat hingga 5 April.

Q206: Skema pencegahan virus korona yang baru di sejumlah kota di Jepang

Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk menerapkan skema pencegahan virus korona yang baru bagi provinsi Osaka, Hyogo, dan Miyagi mulai 5 April. Pertanyaan kali ini adalah, "Langkah-langkah seperti apa yang akan diterapkan dalam skema tersebut dan bagaimana perbedaannya ketika keadaan darurat dideklarasikan?"

Skema baru ini berdasarkan pada sebuah revisi UU khusus langkah-langkah pencegahan virus yang berlaku pada 13 Februari 2021. UU itu mengizinkan langkah-langkah intensif pencegahan virus untuk diterapkan bahkan ketika keadaan darurat tidak diberlakukan. Sebuah keadaan darurat menargetkan seluruh provinsi. Skema yang baru mengizinkan para gubernur provinsi yang ditunjuk oleh pemerintah pusat untuk menargetkan kota secara spesifik.

Dalam skema baru tersebut, sama seperti dalam keadaan darurat, gubernur dapat meminta para pemilik bisnis untuk memperpendek jam bukanya dan jika mereka tidak mematuhinya, pemerintah dapat memerintahkan mereka untuk menerapkannya. Otoritas dapat mengungkapkan nama-nama perusahaan tersebut.

Pemerintah juga dapat melakukan pemeriksaan di lokasi ketika dibutuhkan. Bagaimanapun, dalam skema baru itu, otoritas tidak dapat meminta untuk penutupan bisnis sementara, yang mungkin dilakukan dalam keadaan darurat.

Para pemilik bisnis yang menolak untuk mematuhi perintah atau menolak pemeriksaan di tempat tanpa alasan yang dibenarkan, akan dapat menghadapi denda hingga 200.000 yen, atau sekitar 1.800 dolar, dalam skema baru tersebut. Dalam keadaan darurat, para pelanggar dapat dikenakan denda hingga 300.000 yen, atau sekitar 2.700 dolar.

Informasi ini akurat hingga 2 April.

Q205: Informasi tentang vaksinasi (35)

Ini merupakan bagian ke-35 dari serial informasi mengenai vaksinasi, pertanyaannya adalah “Bagaimana efikasi vaksin Johnson & Johnson?”

Perusahaan farmasi AS mengatakan dalam sebuah laporan sementara mengenai uji klinis yang melibatkan 43.783 orang bahwa 468 diantara orang yang hasil tesnya mengalami gejala COVID-19.

Johnson & Johnson merupakan vaksin dosis tunggal. Perusahaan itu mengatakan vaksin tersebut 66 persen efektif dalam mencegah gejala moderat hingga serius 28 hari setelah vaksinasi. Perusahaan itu juga mengatakan vaksin itu memiliki tingkat efikasi 85 persen dalam mencegah gejala yang serius.

Informasi ini akurat hingga 1 April.

Q204: Informasi tentang vaksinasi (34)

Ini merupakan bagian ke-34 dari serial mengenai informasi tentang vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah “Bagaimana efikasi vaksin AstraZeneca?”.

Perusahaan farmasi Inggris mengatakan vaksinnya 76 persen efektif dalam mencegah gejala COVID-19. AstraZeneca mengumumkan bahwa pada 25 Maret telah memastikan gejala pada 190 dari 32.449 orang yang ikut serta dalam fase akhir uji klinis di AS, Cile, dan Peru serta membandingkan data dari mereka yang diberikan vaksin dan plasebo.

AstraZeneca menurunkan tingkat efikasi dengan tiga persen poin setelah badan kesehatan AS mendesak perusahaan itu untuk merilis data terbaru. Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di AS mengatakan analisis sementara AstraZeneca mungkin memasukkan informasi yang belum diperbarui yang “mungkin menyediakan pandangan yang tidak lengkap dari efikasi data.”

AstraZeneca mengatakan ada delapan kasus parah, tetapi mereka terjadi dalam kelompok yang diberikan plasebo, dan karena itu, vaksinnya 100 persen efektif dalam mencegah penyakit yang parah atau kritis.

Informasi ini akurat hingga 31 Maret.

Q203: Informasi tentang vaksinasi (33)

Ini merupakan bagian ke-33 dari serial informasi tentang vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah “Bagaimana efikasi dari vaksin moderna?”

Hasil yang diungkapkan oleh perusahaan bioteknologi AS, Moderna, menunjukkan bahwa 30.420 orang ikut serta dalam fase akhir uji klinis untuk vaksin virus korona produksinya. Disebutkan 15.210 peserta diberikan vaksin dan 11 dari mereka mengalami gejala COVID-19, sementara 15.210 orang diberikan plasebo dan 185 orang diantaranya menunjukkan gejala. Perusahaan itu menyebutkan karena itu efikasi vaksinnya adalah 94,1 persen.

Informasi ini akurat hingga 30 Maret.

Q202: Informasi tentang vaksinasi (32)

Ini merupakan bagian ke-32 dari serial informasi tentang vaksinasi. Dalam pembahasan mengenai vaksin ini, kami mengulas tentang efikasi vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Amerika Serikat Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech.

Sebuah makalah mengenai sejumlah hasil uji klinis vaksin itu menyebutkan 43.448 orang ambil bagian dalam tes tahap terakhir.

Efikasi vaksin tersebut dinilai dengan membandingkan kelompok orang yang menerima vaksin dan kelompok lainnya yang diberikan plasebo atau vaksin palsu.

Pada analisis terhadap 18.198 dari 21.720 orang yang belum terinfeksi COVID-19 sebelumnya dan telah mendapatkan vaksin, delapan orang mengalami gejala virus korona setelah uji klinis tersebut.

Di antara 18.325 dari 21.728 orang yang diberikan plasebo, 162 orang mengalami gejala.

Hal ini berarti vaksin tersebut 95 persen efektif dalam mencegah munculnya gejala COVID-19.

Informasi ini akurat hingga 29 Maret 2021.

Q201: Informasi tentang vaksinasi (31)

Ini merupakan bagian ke-31 dari serial informasi tentang vaksinasi. Kami akan mengulas tentang sejumlah merek vaksin dan efikasinya satu per satu.

Banyak pengembang vaksin virus korona telah mengumumkan hasil uji klinisnya guna menunjukkan seberapa efektif produknya.

Efikasi sebuah vaksin dinilai dengan membandingkan sekelompok orang yang divaksinasi dengan vaksin tersebut dan kelompok lainnya yang diberikan plasebo atau vaksin palsu.

Jika rasio orang yang mengalami gejala virus korona lebih rendah dalam kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok plasebo, vaksin tersebut dinilai efektif dalam mencegah penyakit ini.

Vaksin tersebut dikembangkan secara bersama oleh raksasa farmasi Amerika Serikat Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech serta vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan obat AS lainnya, Moderna, sama-sama memiliki tingkat efikasi di atas 90 persen dalam uji klinis yang menargetkan puluhan ribu orang. Kementerian Kesehatan Jepang telah menandatangani kontrak bagi kedua vaksin tersebut.

Apa makna tingkat efikasi di atas 90 persen? Mari berasumsi bahwa 100 orang mengalami sejumlah gejala setelah periode waktu tertentu usai diberikan plasebo, sementara kurang dari 10 orang di antara mereka yang divaksinasi mengalami gejala setelah periode waktu tertentu. Dengan membandingkan kedua jumlah tersebut, vaksin ini ditetapkan telah berkontribusi dalam menghambat meluasnya COVID-19 pada lebih dari 90 persen orang.

Namun, kita harus ingat bahwa mereka yang divaksinasi masih dapat terinfeksi virus korona. Maka dari itu, penting untuk terus melakukan langkah pencegahan, seperti mengenakan masker dan menghindari tempat tertutup, tempat ramai, dan kontak dekat, meski setelah program vaksinasi dilakukan sepenuhnya.

Pada pembahasan berikutnya, kami akan mengulas setiap vaksin utama yang digunakan di dunia untuk melihat seberapa efektif vaksin tersebut.

Informasi ini akurat hingga 26 Maret 2021.

Q200: Informasi tentang vaksinasi (30)

Dalam bagian ke-30 dari serial mengenai vaksinasi, kami melanjutkan melihat karakteristik varian-varian serta efikasi vaksin.

Wada Koji, seorang pakar kesehatan masyarakat dan juga profesor di Universitas Kesehatan dan Kesejahteraan Internasional, menjelaskan situasi terkini penularan varian-varian di Jepang.

Wada mengatakan terdapat banyak hal yang belum kita ketahui mengenai penularan di Jepang. Namun, mengingat situasi di luar negeri, kita harus memandang bahwa sulit untuk membendung penyebaran varian-varian itu dan varian-varian tersebut akan menjadi penyebab utama penularan di Jepang juga.

Ia menyatakan penularan dengan varian-varian itu sebagai sumber utamanya dapat meningkatkan kecepatan penularan dan jumlah kasus.

Menurut Wada, langkah-langkah yang harus diambil oleh perorangan untuk mencegah penularan varian tidaklah berbeda dari pencegahan dari varian awal. Namun, ia juga menyatakan bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas langkah-langkah antipenularan dapat diganti di banyak organisasi pada awal tahun fiskal yang baru, sehingga dalam sejumlah kasus sulit untuk mengambil langkah-langkah yang konsisten dan berlanjut.

Ia mengatakan hal seperti ini terlihat dalam periode yang sama tahun lalu. Ia menyerukan untuk melaksanakan langkah-langkah yang telah diambil sejauh ini dengan cara yang lebih cepat, khususnya di fasilitas perawatan lansia, institusi medis, dan pemerintah kota.

Ditambahkannya, juga penting untuk memperkuat pemantauan penyebaran varian-varian. Ia mengatakan pemerintah harus membuat peraturan guna memungkinkan mendeteksi varian dari sampel-sampel yang diuji oleh lembaga-lembaga swasta.

Informasi ini tertanggal 25 Maret.

Q199: Informasi tentang vaksinasi (29)

Ini adalah bagian ke-29 serial mengenai vaksinasi dan kami kembali melihat karakteristik varian-varian serta efikasi vaksin. Hari ini kami mengangkat jenis-jenis varian yang relatif baru.

Di Jepang, satu orang yang masuk dari Filipina pada 25 Februari dipastikan membawa satu varian yang berbeda dari varian yang umum di Inggris, Afrika Selatan, atau Brasil. Varian ini memiliki mutasi yang disebut N501Y serta mutasi spike yang disebut E484K, yang membantu virus ini menghindari serangan dari antibodi.

Institut Nasional Penyakit Menular Jepang mengatakan varian ini, yang sebelumnya dilaporkan di Filipina, dapat lebih menular dibandingkan varian awal, dan varian ini bisa menjadi ancaman sebesar varian-varian lain yang menyebar di penjuru dunia.

Jepang juga mendeteksi hampir 400 kasus varian lain dengan mutasi E484K hingga 3 Maret. Varian ini tidak memiliki mutasi N501Y, yang berarti kecil kemungkinan lebih menular dibandingkan varian awal. Namun, para peneliti mengatakan sejumlah mutasi varian ini mungkin telah terjadi di Jepang.

Institut Nasional Penyakit Menular menyatakan ini adalah "varian dalam perhatian." Para peneliti tengah mempelajari lebih lanjut varian ini melalui analisis gen dan metode-metode lainnya.

Informasi ini tertanggal 24 Maret.

Q198: Informasi tentang vaksinasi (28)

Dalam bagian ke-28 dari serial mengenai vaksinasi, kami melanjutkan melihat karakteristik varian-varian serta efikasi vaksin. Hari ini, kami membahas varian yang pertama kali terdeteksi di Brasil.

Varian ini pertama kali dilaporkan di Jepang pada 6 Januari tahun ini dari seorang pelaku perjalanan dari Brasil.

Varian ini diyakini pertama kali muncul di Manaus, Brasil utara pada 4 Desember 2020. Hingga Januari, 91 persen kasus yang dilaporkan di Manaus dikatakan tertular varian ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian ini "lebih menular dibandingkan varian-varian yang beredar sebelumnya" dan bahwa 32 negara dan kawasan telah melaporkan kasus-kasus hingga 9 Maret. WHO mengatakan efek parah varian ini "berdampak terbatas."

Badan dunia itu mengatakan penularan kembali oleh varian ini telah dilaporkan. Hal ini karena varian ini, serta juga varian yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan, memiliki mutasi spike yang disebut E484K, yang dapat menghindari serangan dari antibodi.

WHO mengatakan potensi dampaknya terhadap vaksin tengah diselidiki.

Informasi ini tertanggal 23 Maret.

Q197: Informasi tentang vaksinasi (27)

Dalam bagian ke-27 dari serial vaksinasi membahas tentang pertanyaan ketiga untuk topik keefektifan vaksin terhadap galur mutan. “Apa yang kita ketahui mengenai varian virus korona yang pertama kali dikonfirmasi di Afrika Selatan?”

Varian Afrika Selatan diyakini telah muncul pada awal Agustus 2020. Dalam pengurutan yang dilakukan oleh otoritas kesehatan Afrika Selatan pada pertengahan November, varian itu mencakup mayoritas kasus virus korona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian Afrika Selatan 50 persen lebih mudah menular daripada varian yang beredar sebelumnya serta telah terdeteksi di 58 negara, kawasan, dan area hingga 9 Maret. Namun, WHO mengatakan tidak ada bukti yang mengatakan bahwa varian ini mengakibatkan penyakit yang lebih parah bagi orang yang tertular.

Varian Afrika Selatan membawa mutasi yang disebut E484K, yang memungkinkan virus tersebut menghindar dari serangan antibodi yang dihasilkan tubuh kita dan mengisyaratkan kemungkinan risiko reinfeksi lebih tinggi. Ada pula sejumlah kajian yang menunjukkan bahwa antibodi penetralisir yang dinduksi oleh vaksin adalah kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan ini. Para produsen vaksin mengatakan produknya masih cukup efektif melawan varian ini, tetapi pihaknya terus mempelajari efikasinya.

Informasi ini tertanggal 22 Maret.

Q196: Informasi tentang vaksinasi (26)

Dalam bagian ke-26 dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami angkat kali ini mengenai keefektifan vaksin terhadap galur mutan, yaitu “Apa yang kita ketahui mengenai varian yang pertama dikonfirmasi di Inggris?”

Varian ini pertama kali dilaporkan di Inggris awal Desember 2020. Namun, analisis virus retroaktif mengungkapkan bahwa ada beberapa pasien yang tertular galur mutan ini lebih awal pada 20 September.

Pusat Pengendalian dan Pengawasan Penyakit Menular Eropa mengatakan sejumlah kajian telah menemukan varian tersebut 36 hingga 75 persen lebih menular dibandingkan varian virus itu sebelumnya.

Inggris mengalami antara 10.000 hingga 20.000 kasus baru tiap hari pada awal Desember. Namun, angka tersebut naik di atas 50.000 pada akhir Desember. Pada Januari, angka itu melampaui 60.000 pada beberapa hari. Para peneliti meyakini lonjakan itu diakibatkan banyaknya penyebaran galur mutan.

WHO mengatakan, hingga 9 Maret varian ini telah dikonfirmasi pada 111 negara dan kawasan di seluruh dunia.

Pemerintah Inggris mencurigai varian tersebut bisa jadi lebih bertanggung jawab atas lonjakan tingkat opname dan risiko kematian dibandingkan virus yang konvensional. Para peneliti tengah melakukan kajian guna memverifikasi teori ini. Kabar baiknya adalah varian ini diyakini tidak memiliki dampak besar terhadap keefektifan vaksinasi.

Informasi ini tertanggal 19 Maret.

Q195: Informasi tentang vaksinasi (25)

Dalam bagian ke-25 serial mengenai vaksinasi, pertanyaannya mengenai keefektifan vaksin terhadap galur mutan, yaitu “Varian apa yang khususnya kita harus waspadai?”

Sejumlah varian baru virus korona telah dikonfirmasi di lebih dari 100 negara dan kawasan di dunia. Pada virus korona baru, mutasi terjadi di sekitar dua area dalam informasi genetikanya setiap bulan. Namun biasanya, perubahan ini tidak berimbas terhadap kemampuan penularan dan pategonisitas, atau kemampuan virus untuk menimbulkan penyakit.

Namun, mutasi dapat membuat sejumlah varian menjadi lebih mudah menular atau kuat terhadap serangan sistem kekebalan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah di seluruh dunia telah mengakuinya sebagai “varian yang paling mengkhawatirkan” serta meningkatkan pengawasan terhadapnya.

Ada tiga varian yang masuk dalam tingkat waspada tinggi, yaitu varian yang pertama muncul di Inggris, varian yang pertama kali dikonfirmasi di Afrika Selatan, dan varian yang menyebar di Brasil. Ketiganya sama-sama memiliki mutasi yang disebut N501Y. Para peneliti meyakini bahwa mutasi itu mengakibatkan perubahan terhadap proyeksi permukaannya, yang membantunya memasuki sel manusia, sehingga lebih mudah menular ke manusia lainnya.

Informasi ini tertanggal 18 Maret.

Q194: Informasi tentang vaksinasi (24)

Kali ini kami akan menyampaikan bagian ke-24 serial informasi tentang vaksinasi. Pertanyaannya adalah “Kondisi seperti apa yang digambarkan sebagai kekebalan komunitas?”

Ketika lebih dari jumlah orang tertentu dalam sebuah populasi mengembangkan sebuah kekebalan terhadap virus atau kuman, maka ketika seseorang terinfeksi, penyakit tersebut tidak menyebar ke orang lain, itulah sebuah kondisi yang disebut “kekebalan komunitas” telah tercapai.

Harus diingat berapa persen orang yang harus divaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas itu tergantung pada jenis penyakit menularnya.

Para pakar juga mengatakan ada sejumlah kasus vaksin dapat mencegah seseorang mengalami sakit yang serius tetapi tidak efektif dalam membendung penyebarannya. Ini artinya kekebalan komunitas tidak dapat dicapai meski jika banyak orang mendapatkan vaksinasi. Para pakar tersebut mengatakan belum jelas apakah kekebalan komunitas akan dapat dicapai dalam kasus virus korona.

Informasi ini tertanggal 17 Maret 2021.

Q193: Informasi tentang vaksinasi (23)

Kali ini kami akan menyampaikan bagian ke-23 dari serial mengenai “informasi tentang vaksinasi”. Pertanyaan kali ini adalah “Bagaimana melindungi diri dari kecurangan dan penipuan yang memanfaatkan vaksinasi untuk mendapatkan keuntungan?”

Badan Urusan Konsumen mengatakan telah menerima konsultasi dari orang-orang yang mendapatkan telepon meragukan atau surat elektronik yang mencurigakan berkaitan dengan vaksinasi COVID-19. Salah satu contohnya, satu orang menerima telepon dari seseorang yang diasumsikan merupakan petugas dari kantor pemerintah daerah, yang meminta orang itu untuk mentransfer uang sebesar 100.000 yen ke akun bank yang ditentukan secepatnya sebagai syarat mendapatkan vaksinasi. Penelpon itu mengatakan uang itu akan dikembalikan kemudian.

Dalam kasus lain, yang disebutkan oleh Pusat Urusan Konsumen Nasional, satu orang menerima pesan pendek atas nama Menteri Dalam Negeri, yang meminta agar mengakses tautan tertentu untuk mendapatkan vaksinasi.

Pejabat badan tersebut mengatakan bahwa pemerintah daerah tidak akan meminta bayaran atau informasi pribadi melalui panggilan telepon atau surat elektronik berkaitan dengan vaksinasi COVID-19. Sebuah survei yang dilakukan badan tersebut menunjukkan 80 persen orang menjadi korban atau mengalami masalah kecurangan yang berkaitan dengan virus korona mengatakan mereka menduga tidak ada menjadi korban karena mereka berhati-hati terhadap kecurangan atau penipuan.

Pusat Urusan Konsumen Nasional menyediakan layanan konsultasi melalui telepon secara gratis bagi orang yang menerima panggilan telepon meragukan atau surat elektronik yang mungkin mencari keuntungan dari vaksinasi. Konsultasi ini hanya tersedia dalam bahasa Jepang.

Nomor telepon untuk layanan bantuan adalah 0120-797-188. Layanan ini tersedia mulai pukul 10.00-16.00 pada hari kerja dan akhir pekan.

Informasi ini tertanggal 16 Maret.

Q192: Informasi tentang vaksinasi (22)

Pertanyaan di bagian ke-22 serial mengenai vaksinasi adalah “apakah kita bisa terinfeksi dari vaksin virus korona?”

Tidak mungkin bagi kita untuk terinfeksi virus korona dari jenis vaksin yang digunakan di Jepang, yaitu “vaksin gen.” Vaksin yang mengandung galur materi “mRNA” ini berisi informasi genetik dari “spike protein” yang berbentuk runcing di permukaan virus. Materi “mRNA” berperan sebagai cetak biru di dalam sel manusia untuk memproduksi “spike protein.”

Materi “mRNA” ini disebut-sebut sangat aman karena kurang stabil dan langsung larut saat disuntikkan sebagai vaksin, serta tidak bertahan di dalam tubuh. Materi ini juga dinilai aman karena tidak masuk ke dalam inti sel yang mengandung gen manusia.

Vaksin yang menimbulkan penyakit sangat jarang terjadi. Kasus ini pernah terjadi untuk jenis vaksin hidup yang dilemahkan misalnya yang digunakan untuk polio. Vaksin jenis ini menggunakan virus hidup yang dilemahkan.

Seluruh vaksin virus korona yang saat ini digunakan adalah aman dari risiko tersebut karena semuanya bukan vaksin hidup.

Informasi tertanggal 15 Maret.

Q191: Informasi tentang vaksinasi (21)

Pertanyaan di bagian ke-21 dalam serial mengenai vaksinasi adalah “Apakah pemberian vaksin virus korona melalui suntikan intramuskuler atau ke dalam otot tubuh terasa lebih sakit?”

Kebanyakan vaksin virus korona dirancang untuk diberikan melalui suntikan intramuskuler. Para pakar menegaskan bahwa injeksi ini tidak menyebabkan rasa sakit yang berlebihan meski suntikannya masuk ke dalam otot. Dalam injeksi intramuskuler, vaksin disuntik ke dalam otot di bawah lemak subkutan yang ada di bawah kulit. Jarum diinjeksi dengan sudut 90 derajat di bagian lengan atas.

Di Jepang, metode yang lazim dilakukan dalam vaksinasi termasuk untuk vaksin flu biasa adalah injeksi subkutan yang dimasukkan ke dalam lapisan antara kulit dan otot. Namun, suntikan intramuskuler diyakini bisa membuat vaksin menyerap lebih cepat.

Profesor Okada Kenji dari Akademi Perawat Fukuoka yang juga menjabat sebagai Presiden Asosiasi Vaksinologi Jepang mengatakan bahwa di luar Jepang, suntikan intramuskuler biasa digunakan untuk vaksin reguler. Ia mengatakan tidak semua suntikan intramuskuler menyebabkan rasa sakit berlebihan dibandingkan injeksi subkutan, tergantung dari bahan yang terkandung dalam vaksinnya.

Ia juga menegaskan bahwa setiap orang memiliki persepsi sakit yang berbeda-beda. Namun, Profesor Okada juga mengatakan ada sejumlah laporan dari beberapa negara bahwa vaksin virus korona menimbulkan rasa sakit yang intens di titik suntikannya ketimbang suntikan vaksin lainnya.

Ia mengatakan bahwa para tenaga kesehatan harus memberikan penjelasan menyeluruh kepada orang-orang saat bersiap untuk disuntik vaksin. Sedangkan mereka yang menerima suntikan disarankan untuk berupaya mengalihkan perhatiannya dari suntikan dan fokus ke hal lain.

Informasi tertanggal 12 Maret.

Q190: Informasi tentang vaksinasi (20)

Dalam bagian ke-20 dari serial mengenai vaksinasi, kami akan membahas kembali pertanyaan “Apakah kita harus menerima vaksinasi virus korona? Apa yang harus dilakukan?”

Okabe Nobuhiko adalah Direktur Jenderal Institut Kesehatan Masyarakat Kota Kawasaki. Ia juga merupakan anggota panel penasihat untuk respons pemerintah terhadap virus korona. Okabe mengatakan bahwa sejauh ini, tampaknya tidak ada efek samping yang sangat mengkhawatirkan dari vaksin-vaksin tersebut, setidaknya berdasarkan data uji klinis serta informasi dari negara-negara yang tengah menjalankan program vaksinasi.

Ia mengatakan bahwa dibandingkan vaksin influenza dan lainnya, vaksin virus korona mungkin akan lebih menyebabkan rasa sakit saat disuntikkan. Pembengkakan di bagian yang disuntik juga mungkin akan terjadi lebih lama. Namun, Okabe menambahkan bahwa data yang dikumpulkan sejauh ini menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasusnya, gejala-gejala tersebut hilang setelah beberapa waktu.

Meski begitu, Okabe juga mengatakan harus ada sebuah sistem yang diterapkan agar orang-orang dapat berkonsultasi dengan profesional atau mendapatkan layanan medis ketika mereka merasa khawatir.

Okabe mengungkapkan bahwa jika ada yang menanyakan apakah dirinya akan menerima vaksin, ia akan menjawab, “Ya.” Ia mengatakan bahwa jika tertular virus korona, kita bisa saja hanya mengalami gejala ringan, tetapi kita juga bisa menderita sakit parah.

Menurut Okabe, jika kita membandingkan risiko sakit parah akibat virus korona dengan risiko mengalami efek samping serius dari vaksin, ia meyakini bahwa keuntungan vaksin untuk mencegah munculnya gejala lebih besar daripada risiko efek sampingnya.

Namun, Okabe mengatakan bahwa sejumlah orang tidak dapat menerima suntikan vaksin akibat kondisi kesehatannya, sementara sejumlah lainnya menolak untuk divaksin dengan alasan apa pun. Ia mengungkapkan bahwa keputusan tiap individu harus dihormati.

Informasi ini tertanggal 8 Maret.

Q189: Informasi tentang vaksinasi (19)

Pertanyaan dalam bagian ke-19 dari serial mengenai vaksinasi ini adalah “Apakah kita harus menerima vaksinasi virus korona? Apa yang harus dilakukan?”

Ada banyak informasi yang beredar mengenai vaksinasi virus korona. Hal ini menyebabkan orang-orang bertanya-tanya apakah mereka harus mendapat vaksinasi. Profesor Ishii Ken dari Institut Ilmu Kedokteran, Universitas Tokyo, adalah peneliti terkemuka mengenai vaksin dengan pengalaman kerja bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat saat mengkaji uji klinis vaksin. Berikut pendapatnya mengenai vaksin yang rencananya akan digunakan di Jepang.

Ia mengatakan bahwa efikasi dan keamanan semua vaksin tersebut didukung oleh data yang transparan. Ia menyebutkan tampaknya tidak ada masalah dengan vaksin-vaksin tersebut.

Profesor Ishii mengungkapkan bahwa sebelumnya ia memiliki kekhawatiran atas perkembangan cepat vaksin. Namun, setelah melihat jumlah orang yang ikut serta dalam uji klinis, serta keakurasiannya, ia menyimpulkan bahwa tidak ada masalah sama sekali.

Profesor Ishii menyatakan tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kemungkinan efek samping jangka panjang dari vaksin-vaksin tersebut, dan masih belum jelas apakah dampak negatif akan muncul dalam beberapa tahun setelah vaksinasi. Meskipun demikian, ia mengatakan bahwa selain risiko kemungkinan semacam itu, yang mungkin akan muncul dalam beberapa tahun, semuanya diketahui secara terbuka. Menurutnya, keuntungan mendapat vaksinasi lebih besar daripada risiko tertular virus dan mengalami gejala parah.

Profesor Ishii mengatakan bahwa dengan tersedianya vaksin saat ini, orang-orang serta masyarakat menghadapi pertanyaan apakah harus mendapat suntikan. Ia mengungkapkan bahwa dari sudut pandang ilmiah, orang yang yang masuk dalam kelompok berisiko tinggi, khususnya yang berusia 65 tahun atau lebih, harus divaksinasi. Ia juga merekomendasikan agar para anggota keluarga dari lansia atau orang-orang dengan kondisi kesehatan khusus menerima vaksinasi untuk melindungi keluarga mereka.

Menurut Profesor Ishii, risiko penularan akan terus ada jika orang-orang memilih untuk tidak disuntik vaksin. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk memperoleh vaksin ada di tangan tiap orang. Namun, ia menyebutkan bahwa keputusan itu harus diambil dengan mempertimbangkan anggota keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Informasi ini tertanggal 5 Maret.

Q188: Informasi tentang vaksinasi (18)

Pertanyaan dalam bagian ke-18 dari serial mengenai vaksinasi, adalah “Apakah kita tetap perlu mengenakan masker, menghindari tempat tertutup dan ramai, atau melakukan langkah-langkah pencegahan lainnya terhadap virus korona, bahkan setelah divaksinasi?”

Para pakar mengungkapkan bahwa orang-orang harus tetap melakukan langkah-langkah pencegahan semacam itu untuk sementara hingga efikasi vaksinasi telah dipastikan di komunitas mereka.

Vaksin yang tengah digunakan di Jepang telah dikonfirmasi 95 persen efektif menekan gejala dalam uji klinis. Namun, hal ini bukan berarti vaksinasi bisa mencegah munculnya gejala sama sekali.

Selain itu, masih belum diketahui apakah vaksin bisa mencegah orang tertular virus korona. Anda tetap bisa tertular virus korona, meskipun tidak menunjukkan gejala setelah mendapat vaksinasi. Itulah mengapa Anda masih berisiko menyebarkan virus ke sekeliling jika tidak mengambil langkah-langkah pencegahan penularan.

Vaksinasi dimulai di seluruh dunia belum lama ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) AS menyatakan bahwa dibutuhkan data lebih banyak untuk memastikan apakah efek vaksin bisa bertahan untuk waktu yang lama.

CDC dan para pakar lainnya mengungkapkan bahwa setelah divaksinasi, orang-orang harus terus mengenakan masker, menggunakan disinfektan, menghindari tempat-tempat tertutup dan ramai, serta melakukan langkah-langkah pencegahan penularan lainnya untuk saat ini.

Informasi ini tertanggal 4 Maret.

Q187: Informasi tentang vaksinasi (17)

Kali ini kami menghadirkan pembahasan ke-17 mengenai vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah apakah boleh meminum antipiretik atau obat pereda nyeri jika mengalami demam atau merasakan sakit setelah divaksinasi.

Diketahui bahwa sejumlah orang mengalami demam atau merasakan sakit setelah menerima vaksin virus korona. Pada banyak kasus, hal ini terjadi dalam satu atau dua hari setelah divaksinasi. Gejala-gejala ini biasanya bertahan hanya beberapa hari. Situs Kementerian Kesehatan Jepang menyebutkan bahwa orang-orang yang mengalami gejala ini “harus meminum antipiretik atau obat pereda nyeri yang tepat serta mengamati kemajuan kondisi tubuh selama beberapa hari.”

Meski demikian, sejumlah langkah harus dilakukan seperti mengunjungi institusi medis atau berkonsultasi dengan dokter jika terjadi demam lebih dari dua hari. Salah satu langkah tersebut juga harus dilakukan ketika terjadi kondisi serius atau gejala lain yang belum pernah dilaporkan.

Nakayama Tetsuo, profesor yang ditunjuk khusus di Universitas Kitasato yang adalah pakar vaksin, mengatakan bahwa gejala-gejala seperti demam dan sakit terjadi saat fungsi imun aktif. Menurutnya, meminum antipiretik atau pereda nyeri tidak akan berdampak terhadap imunitas.

Nakayama berpendapat bahwa jika seseorang mengalami demam tinggi atau di atas 38,5 derajat atau mengalami rasa sakit yang parah, mungkin lebih baik meminum antipiretik atau obat lainnya guna meredakan penderitaan tersebut.

Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (CDC) mengimbau agar berhati-hati dalam meminum antipiretik atau pengobatan guna melawan rasa sakit sebelum vaksinasi. Dikatakan langkah tersebut “tidak direkomendasikan” karena masih belum jelas efeknya terhadap vaksinasi itu sendiri.

Informasi ini tertanggal 3 Maret 2021.

Q186: Informasi tentang vaksinasi (16)

Kali ini kami menghadirkan pembahasan ke-16 mengenai vaksinasi. Pertanyaannya adalah, “Apakah wanita hamil sebaiknya divaksinasi?”

Asosiasi Jepang bagi Penyakit Menular dalam Obstetri dan Ginekologi dan Asosiasi Jepang bagi Obstetri dan Ginekologi mengeluarkan pernyataan berikut ini pada Januari 2021 terkait bagaimana vaksinasi virus korona akan berpengaruh terhadap wanita hamil.

Pernyataan itu menyebutkan tidak dilaporkan adanya kejadian buruk yang fatal selama uji klinis. Namun, kebijakan mengenai vaksinasi berbeda di tiap negara. Amerika Serikat (AS) mengatakan wanita hamil tidak boleh dikecualikan dari vaksinasi, sementara Inggris tidak merekomendasikan wanita hamil divaksinasi dengan menyebut kurangnya data yang memadai.

Kedua asosiasi medis Jepang tersebut menyimpulkan bahwa informasi mengenai vaksinasi bagi wanita hamil belum dapat dipastikan, dari aspek keamanan vaksin, efek samping jangka menengah hingga jangka panjang, maupun efek buruk terhadap janin dan bayi yang baru dilahirkan. Mereka mengatakan tidak mengecualikan wanita hamil dari vaksinasi, tetapi dalam kasus bila mereka akan divaksinasi, para pakar kesehatan harus memberikan penjelasan memadai kepada wanita tersebut dan memeriksa keadaan janin sebelum vaksinasi.

Asosiasi medis tersebut juga merekomendasikan wanita yang ingin memiliki bayi untuk divaksinasi, jika memungkinkan, sebelum mereka hamil. Mereka meminta wanita hamil untuk berkonsultasi dengan spesialis kebidanan dan kandungan sebelumnya.

Informasi ini tertanggal 2 Maret 2021.

Q185: Informasi tentang vaksinasi (15)

Ini adalah bagian ke-15 dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami bahas kali ini adalah, "Apakah Anda perlu mendapatkan vaksinasi jika pernah mengalami COVID-19?"

Sebelumnya dalam programa ini, kami melaporkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan imunisasi dalam kasus seperti ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) juga menyerukan pasien yang telah pulih agar mendapatkan vaksinasi.

Di situs webnya, CDC merujuk pada vaksin jenis mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer dan Moderna yang sedang diberikan di AS. CDC menjelaskan bahwa data uji klinis menunjukkan vaksin itu aman bagi orang-orang yang pernah terjangkit COVID-19.

CDC mengatakan, "Anda harus divaksinasi terlepas dari apakah Anda pernah terjangkit COVID-19 atau tidak. Ini karena para pakar belum mengetahui seberapa lama Anda terlindungi dari kembali sakit setelah pulih dari COVID-19." Dikatakan tingkat imunitas alami yang didapatkan akibat tertular berbeda bagi tiap orang.

CDC menambahkan, "Jika Anda mendapat perawatan COVID-19 dengan antibodi monoklonal atau plasma konvalesen, Anda harus menunggu selama 90 hari sebelum mendapatkan vaksinasi COVID-19." Dikatakan Anda harus berkonsultasi dengan dokter.

Informasi ini tertanggal 1 Maret.

Q184: Informasi tentang vaksinasi (14)

Dalam bagian ke-14 serial mengenai vaksinasi hari ini, kami membahas pertanyaan, "Apakah vaksinasi dapat memicu anafilaksis?"

Anafilaksis setelah vaksinasi telah dilaporkan di Amerika Serikat (AS) dan tempat-tempat lain yang menggelar program vaksinasi lebih awal.

Sebuah laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS mengatakan 21 kasus anafilaksis terdeteksi setelah pemberian hampir 1,9 juta dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech antara 14 hingga 23 Desember.

CDC juga melaporkan bahwa 10 kasus anafilaksis terdeteksi setelah 4 juta lebih dosis pertama vaksin Moderna antara 21 Desember hingga 10 Januari.

CDC mengatakan sebagian besar kasus anafilaksis terjadi di orang-orang yang memiliki sejarah alergi dan bahwa semua orang yang informasi susulannya tersedia telah pulih.

CDC mengatakan reaksi anafilaksis jarang sekali terjadi setelah vaksinasi tetapi berpotensi mematikan dan memerlukan perawatan segera.

Menurut CDC, tempat-tempat vaksinasi harus memiliki peralatan dan staf yang semestinya guna menjamin semua orang yang diduga mengalami anafilaksis dapat segera ditangani, misalnya dengan suntikan epinefrin. Dikatakan semua penerima vaksin harus diinstruksikan meminta penanganan medis segera jika mengalami tanda-tanda atau gejala reaksi alergi setelah meninggalkan tempat vaksinasi.

Anafilaksis adalah reaksi alergi parah. Namun, dokter mengatakan reaksi ini jarang sekali mematikan jika segera ditangani, termasuk dengan suntikan epinefrin.

Kementerian Kesehatan Jepang menjelaskan di situs webnya bahwa tempat vaksinasi dan lembaga medis dilengkapi obat-obatan dan barang-barang lain yang diperlukan sehingga dapat dengan segera menangani anafilaksis setelah vaksinasi.

Informasi ini tertanggal 26 Februari.

Q183: Informasi tentang vaksinasi (13)

Ini adalah bagian ke-13 dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami bahas kali ini adalah, "Apakah ada kebijakan bantuan untuk efek samping?"

Pemerintah Jepang memiliki sistem untuk memberikan bantuan bagi orang-orang yang mengalami efek samping.

Undang-undang vaksinasi Jepang mencakup orang-orang yang mendapatkan vaksinasi virus korona. Jadi, pemerintah akan menanggung biaya medis atau membayar pensiun cacat bagi siapa pun yang mengalami efek samping yang berat.

Informasi ini tertanggal 25 Februari.

Q182: Informasi tentang vaksinasi (12)

Ini merupakan bagian ke-12 dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami bahas kali ini adalah, “Apakah terjadi efek samping? Adakah kasus kematian?”

Efek samping dapat terjadi terhadap segala vaksin. Efek samping juga telah dilaporkan pada vaksin virus korona. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Amerika Serikat (AS), reaksi yang paling umum dilaporkan dari vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech, serta dari vaksin yang dikembangkan perusahaan AS Moderna, adalah sakit dan bengkak, kemerahan, menggigil, merasa lelah, dan sakit kepala. Reaksi-reaksi ini biasanya muncul dalam satu atau dua hari setelah menerima vaksinasi dan kerap menghilang dalam beberapa hari. Meskipun jarang, ada laporan gejala sedang hingga parah yang berdampak cukup berat bagi kehidupan sehari-hari.

Menurut laporan mengenai vaksin Pfizer-BioNTech, berdasarkan keterangan pers dan uji klinis perusahaan itu, gejala-gejala berat termasuk 3,8 persen mengalami rasa lelah dan 2 persen mengalami sakit kepala. Dari 40.000 orang yang berpartisipasi dalam uji klinis tersebut, dua orang penerima vaksin meninggal dunia. Namun, empat lainnya yang diberikan suntikan plasebo seperti vaksin juga meninggal. Jadi laporan itu mengatakan kematian tersebut tampaknya tidak terkait dengan vaksin itu.

Informasi ini akurat hingga 24 Februari.

Q181: Informasi tentang vaksinasi (11)

Episode ini adalah bagian ke-11 dari serial kami mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami ulas adalah efek samping apa yang ada dari vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech.

Komite penasihat imunisasi Amerika Serikat telah menyusun data mengenai efek samping yang dilaporkan terhadap vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech. Sebuah penelitian terhadap sekitar 997.000 orang yang telah diberikan vaksin tersebut menunjukkan, bahwa setelah menerima dosis yang pertama, 67,7 persen melaporkan adanya sakit di titik penyuntikan, 28,6 persen melaporkan rasa lelah, 25,6 persen melaporkan sakit kepala, 17,2 persen melaporkan pegal otot, 7,4 persen melaporkan demam, 7,1 persen melaporkan nyeri persendian, 7 persen melaporkan rasa mengigil, 7 persen lain melaporkan mual, dan 6,8 persen melaporkan bengkak. Reaksi alergi yang parah setelah vaksinasi juga telah dilaporkan.

Satu kajian terhadap 9.943.247 dosis vaksin Pfizer-BioNTech yang diberikan hingga 18 Januari menemukan dilaporkannya 50 kasus anafilaksis, yaitu reaksi alergi yang parah. Ini artinya ada 1,0057 kasus anafilaksis pada setiap 200.000 dosis yang diberikan. Anafilaksis terjadi pada orang-orang berusia antara 26 hingga 63 tahun, dengan usia median 38,5 tahun.

Wanita mencakup 94 persen dari kasus tersebut. Permulaan terjadinya anafilaksis adalah dalam 15 setelah dilakukannya vaksinasi pada 74 persen kasusnya, serta dalam 30 menit pada 90 persen kasusnya. Delapan puluh persen kasusnya dilaporkan terjadi pada orang-orang dengan catatan medis memiliki reaksi alergi, termasuk terhadap obat dan makanan.

Informasi ini akurat hingga 22 Februari.

Q180: Informasi tentang vaksinasi (10)

Ini merupakan bagian ke-10 dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah masalah kesehatan apa yang harus kita perhatikan sebelum dan setelah menerima vaksinasi virus korona.

Bisa jadi ada kasus berupa orang-orang yang merasa kurang sehat dianjurkan untuk tidak menerima vaksinasi. Kementerian Kesehatan menyarankan mereka yang merasa kurang sehat atau mengalami demam 37,5 derajat Celsius atau lebih, agar tidak menerima vaksinasi. Sementara bagi orang-orang yang memiliki penyakit lain atau sedang menjalani perawatan medis, kementerian merekomendasikan mereka untuk mendapatkan opini dokter di tempat pemeriksaan sebelum vaksinasi. Kementerian juga menyerukan agar para penerima vaksin untuk tetap berada di lokasi vaksinasi setidaknya 15 menit setelah inokulasi dilakukan, guna memastikan mereka tidak mengalami reaksi alergi. Kementerian mengatakan jika mereka mendapati adanya kejanggalan, mereka harus menghubungi dokter. Mandi setelah vaksinasi diperbolehkan, tetapi harus berhati-hati agar tidak menggosok titik vaksinasi. Pada hari dilakukannya vaksinasi, kita tidak boleh melakukan olahraga yang berat.

Profesor Nakayama Tetsuo dari Universitas Kitasato yang merupakan pakar mengenai vaksin mengatakan, mandi atau bahkan minum alkohol diperbolehkan selama dalam jumlah yang wajar, meskipun minum terlalu banyak sudah pasti dilarang.

Namun, kita harus tahu bahwa kita mungkin akan merasa pusing atau mengalami hiperventilasi akibat takut akan vaksin. Ini mungkin akan membuat penerima vaksin lainnya merasa cemas, kalau kasus-kasus tersebut terjadi di lokasi vaksinasi massal. Direktur Jenderal Institut Kesehatan Masyarakat Kota Kawasaki Okabe Nobuhiko yang juga adalah anggota panel virus korona pemerintah mengatakan, penting untuk menerapkan sistem yang menyediakan konsultasi bagi orang-orang yang khawatir mengenai vaksinasi.

Informasi akurat hingga 19 Februari.

Q179: Informasi tentang vaksinasi (9)

Kali ini kami hadirkan bagian kesembilan serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah, apakah vaksin digunakan untuk melindungi diri kita sendiri dari virus atau untuk mencegah orang-orang yang terinfeksi virus agar tidak menjadi sakit parah?

Vaksin untuk virus korona baru dinilai bisa membantu mencegah munculnya gejala atau menjadi sakit serius ketimbang memberikan perlindungan dari virus.

Para pakar mengatakan, secara umum vaksin diharapkan bisa membantu untuk mencegah penularan, mencegah munculnya gejala atau menjadi sakit parah, dan menciptakan apa yang disebut kekebalan massal.

Sulit untuk memverifikasi apakah vaksin tertentu efektif dalam mencegah penularan, karena banyak orang yang terinfeksi tetapi tanpa gejala. Selain itu, diperlukan analisis sel yang detail untuk menemukan virus yang telah masuk ke dalam tubuh.

Badan Perangkat Medis dan Farmasi, PMDA, merupakan institusi yang mengevaluasi obat-obatan di Jepang. Badan ini menyatakan, untuk mengevaluasi vaksin virus korona baru, uji klinis diperlukan, secara prinsip, untuk menilai efikasi vaksin dalam mencegah timbulnya gejala pada orang-orang yang terinfeksi virus.

Uji klinis di AS dan Eropa mengindikasikan bukan hanya efikasi vaksin yang mencegah timbulnya gejala di pasien, tetapi juga seberapa efektif vaksin dalam melindungi orang-orang dari gejala yang serius.

PMDA juga memasukkan efektivitas vaksin dalam mencegah pasien dari sakit serius dalam kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi vaksin virus korona.

Mencapai kekebalan massal juga menjadi salah satu yang diharapkan dari vaksinasi virus korona. WHO memperkirakan bahwa untuk mencapai kekebalan massal di dunia, maka vaksinasi harus mencakup 70 persen populasi dunia. WHO mengatakan, dengan kondisi saat ini, tampaknya sulit mencapai target itu pada akhir tahun ini.

Informasi ini akurat hingga 18 Februari.

Q178: Informasi tentang vaksinasi (8)

Kali ini kami hadirkan bagian kedelapan serial mengenai vaksinasi. Kami akan membahas tentang vaksin mRNA.

Sebuah “vaksin gen” yang mengandung galur materi gen dari virus korona baru telah dikomersialisasikan. Pada 17 Februari, Jepang memulai program vaksinasi COVID-19 dengan menggunakan vaksin yang dikembangkan bersama oleh Pfizer dari AS dan BioNTech dari Jerman. Vaksin ini dan vaksin lainnya yang dikembangkan Moderna dari AS adalah vaksin mRNA yang mengandung materi gen tersebut.

Vaksin ini bekerja dengan menyuntikkan mRNA yang mengandung informasi genetik dari “spike protein” (yang berbentuk seperti paku) di permukaan virus, ke dalam tubuh manusia. Vaksin mRNA berperan sebagai cetak biru di dalam sel manusia untuk memproduki “spike protein.”

Sistem kekebalan tubuh kemudian bekerja menciptakan banyak antibodi untuk melawan “spike protein” tersebut. Antibodi itu langsung menyerang saat virus sesungguhnya memasuki tubuh.

Bagaimanapun, mRNA kurang stabil dan langsung larut saat disuntikkan sebagai vaksin, serta tidak bertahan di dalam tubuh.

Vaksin mRNA disebut-sebut sangat aman karena tidak masuk ke dalam inti sel yang mengandung gen manusia.

Informasi ini akurat hingga 17 Februari.

Q177: Informasi tentang vaksinasi (7)

Pertanyaan di bagian ketujuh serial mengenai vaksinasi adalah, penyakit bawaan apa saja yang akan mendapatkan prioritas program vaksinasi COVID-19 di Jepang.

Kementerian Kesehatan Jepang telah menyusun daftarnya, termasuk di antaranya adalah penjakit jantung dan ginjal kronis, gangguan pernapasan, penyakit yang menyebabkan gangguan imunitas seperti kanker, dan apnea tidur atau gangguan pernapasan saat tidur. Mereka yang dirawat di rumah sakit atau rutin ke dokter karena penyakit bawaan tersebut akan diberikan prioritas.

Otoritas tidak akan mensyaratkan para pasien untuk menyerahkan surat keterangan atas kondisi kesehatan mereka. Para pasien hanya perlu mengisi kuesioner.
Orang-orang dengan indeks massa tubuh mencapai 30 atau lebih juga akan mendapatkan prioritas. Jumlah orang dewasa yang masuk dalam kategori obesitas atau memiliki penyakit bawaan di Jepang diperkirakan mencapai sekitar 8,2 juta.

Informasi ini akurat hingga 16 Februari.

Q176: Informasi tentang vaksinasi (6)

Kali ini kami akan menyampaikan bagian keenam dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaannya adalah siapa yang pertama kali mendapatkan vaksinasi?

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan prioritas vaksinasi pertama kali akan diberikan kepada pekerja medis. Kemudian akan diikuti oleh orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas, lalu mereka yang bekerja di fasilitas perawatan lansia serta orang dengan masalah kesehatan.

Kementerian itu berencana untuk menyetujui, dalam kondisi tertentu, vaksinasi bagi para staf di fasilitas perawatan lansia dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan para lansia, misalnya, ketika dokter datang ke tempat itu untuk memberikan vaksin. Kementerian mengatakan hal itu bertujuan untuk mencegah klaster penularan di fasilitas tersebut.

Kondisi itu termasuk kehadiran dokter yang memeriksa kesehatan para lansia di fasilitas tersebut secara rutin. Hal itu untuk memastikan ada seseorang yang mengamati kondisi para lansia setelah mendapatkan vaksinasi di tempat yang sama dengan para staf tersebut.

Vaksinasi akan diberikan hanya kepada mereka yang ingin mendapatkannya. Sejumlah lansia mungkin akan sulit untuk mengonfirmasikan apakah mereka ingin divaksinasi atau tidak. Dalam kasus itu, kementerian meminta keputusan itu diambil oleh keluarga lansia dan dokter.

Informasi ini akurat hingga 5 Februari.

Q175: Informasi tentang vaksinasi (5)

Kali ini kami akan membawakan bagian kelima dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan hari ini adalah “Bagaimana vaksin diberikan di lokasi-lokasi vaksinasi?”

Untuk vaksinasi massal, penerima vaksin harus menyerahkan kupon yang dikirimkan ke rumah penduduk oleh pemerintah kota di bagian penerimaan. Identitas mereka akan dicek melalui SIM, kartu asuransi, atau lainnya.

Penerima vaksin kemudian harus mengisi kuesioner mengenai kondisi kesehatan, riwayat kesehatan, dan menjalani pemeriksaan oleh dokter untuk menentukan apakah mereka bisa menerima vaksin.

Jika tidak ada masalah hingga tahap ini, penerima vaksin bisa mendapat suntikan. Proses vaksinasi diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua menit per orang.

Setelah disuntik, tiap orang akan menerima sertifikat yang mencantumkan tanggal penyuntikan serta nama vaksin yang mereka terima. Sertifikat ini diperlukan ketika menerima vaksinasi dosis kedua.

Yang perlu diperhatikan oleh penerima vaksin adalah mereka tidak bisa segera pulang ke rumah setelah mendapat suntikan. Kementerian Kesehatan Jepang meminta penerima vaksin untuk tetap berada di lokasi vaksinasi selama lebih dari 15 menit di area khusus yang disiapkan untuk mengamati kondisi mereka.

Berdasarkan uji klinis yang dilakukan di luar negeri, sejumlah penerima suntikan dari vaksin yang akan dipasok ke Jepang melaporkan gejala sakit kepala dan merasa lelah setelah menerima vaksinasi. Kasus langka reaksi anafilaksis yang menunjukkan reaksi alergi parah terhadap vaksin juga telah dilaporkan di Amerika Serikat dan sejumlah wilayah lainnya di seluruh dunia.

Pos-pos bantuan juga akan disiapkan di lokasi vaksinasi bagi penerima vaksin yang merasa sakit setelah mendapat suntikan.

Informasi ini akurat hingga 5 Februari.

Q174: Informasi tentang vaksinasi (4)

Kali ini kami akan menghadirkan bagian keempat dari serial mengenai vaksinasi. Pertanyaan hari ini adalah “Bagaimana dan di mana vaksin COVID-19 diberikan di Jepang?”

Pemerintah-pemerintah kota harus memberikan vaksin dengan mengikuti panduan dari pemerintah pusat. Orang-orang yang ingin mendapatkan vaksinasi diharapkan untuk melakukannya di kota tempat mereka terdaftar sebagai penduduk. Sebagai pengecualian, orang-orang yang tinggal jauh dari rumah karena alasan pekerjaan, atau mereka tengah dirawat di rumah sakit, diperbolehkan untuk menerima vaksin di kota lain.

Kupon yang dibutuhkan untuk menerima vaksinasi akan dikirimkan ke alamat rumah Anda melalui pos dari otoritas kota. Jika Anda membawa salah satu kupon ini ke lokasi vaksinasi, Anda akan mendapatkan vaksinasi secara gratis. Meskipun demikian, Anda harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu melalui telepon atau lainnya. Tempat-tempat yang akan menjadi lokasi vaksinasi adalah institusi medis, balai komunitas, dan gedung olahraga.

Dalam bagian berikutnya, kami akan membahas tentang prosedur spesifik untuk vaksinasi.

Informasi ini akurat hingga 4 Februari.

Q173: Informasi tentang vaksinasi (3)

Dalam bagian ketiga pembahasan mengenai vaksin, pertanyaan yang diajukan adalah tentang durasi imunitas yang diberikan vaksin COVID-19.

Berbagai vaksin COVID-19 telah atau tengah dikembangkan di Jepang dan di luar negeri. Namun, belum diketahui seberapa lama efektivitasnya bertahan karena uji klinis dan vaksinasi di luar negeri baru saja dimulai.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan vaksin-vaksin tersebut tampaknya juga efektif dalam melawan galur virus korona baru yang bermutasi. Para pejabat kementerian menyebutkan virus-virus pada umumnya bermutasi secara konstan dan mutasi kecil tampaknya tidak membuat efikasi vaksin menghilang.

Terdapat sejumlah hasil tes yang menunjukkan bahwa orang-orang yang menerima suntikan vaksin Pfizer dan vaksin-vaksin lainnya yang saat ini tersedia, membentuk antibodi yang juga ampuh melawan berbagai varian virus korona. Para pejabat kementerian mengatakan mereka akan memastikan efikasi dan keamanan vaksin-vaksin itu, termasuk efektivitas terhadap galur-galur yang bermutasi dalam serangkaian uji coba yang tengah berlangsung di Jepang.

Informasi ini akurat hingga 3 Februari 2021.

Q172: Informasi tentang vaksinasi (2)

Dalam bagian kedua pembahasan mengenai vaksin, pertanyaan yang diajukan adalah tentang mengapa vaksinasi penting.

Vaksinasi bertujuan memberikan imunitas atau memperkuat sistem kekebalan tubuh. Vaksin diperkirakan dapat mencegah orang-orang mengalami gejala atau menderita kondisi serius. Selain itu, vaksin diperkirakan dapat membendung penyebaran penyakit dalam masyarakat.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan sejumlah hasil uji coba klinis di luar negeri menunjukkan bahwa vaksin virus korona baru efektif dalam mencegah kondisi parah dan gejala-gejala seperti demam.

Jika vaksinasi terhadap banyak orang dapat membantu mengurangi jumlah pasien sakit parah serta jumlah kematian akibat penyakit ini, beban terhadap sistem perawatan kesehatan akan berkurang.

Informasi ini akurat hingga 2 Februari 2021.

Q171: Informasi tentang vaksinasi (1)

Warga asing yang tinggal di Jepang termasuk dalam program vaksinasi Jepang dan dapat menerima vaksin yang didanai pemerintah. Serial ini merupakan lanjutan pembahasan mengenai vaksin, guna membantu sekitar tiga juta warga asing di Jepang mendapatkan vaksinasi tanpa mengalami hambatan. Pertanyaan dalam pembahasan pertama kali ini adalah tentang vaksin bagi orang asing yang tinggal di Jepang.

Warga asing yang tinggal di Jepang dapat menerima vaksin virus korona di wilayah tempat mereka terdaftar sebagai penduduk.

Program vaksinasi Jepang yang dimulai pada 17 Februari akan diberikan pertama bagi para pekerja kesehatan, kemudian secara bertahap mencakup warga lanjut usia, orang-orang dengan masalah kesehatan dan lainnya. Vaksinasi bagi warga lansia diperkirakan akan dimulai pada sekitar April.

Terkait di mana bisa mendapatkan vaksin, tempat-tempat vaksinasi pada prinsipnya akan diadakan di wilayah tempat orang-orang terdaftar sebagai penduduk.

Pemerintah berencana mengirim kupon yang diperlukan untuk mendapatkan vaksinasi ke rumah-rumah warga. Vaksinasi ini diberikan secara gratis.

Informasi ini akurat hingga 15 Februari 2021.

Q170: Mengenai dukungan pemerintah bagi para pekerja yang terpaksa mengambil cuti akibat pandemi virus korona (2)

Kali ini kami menyampaikan bagian kedua dari serial tentang dukungan pemerintah bagi para pekerja yang terpaksa mengambil cuti akibat pandemi virus korona. Topiknya adalah bagaimana mengajukan permohonan bagi program ini dan ke mana mengajukan pertanyaan.

Program ini adalah bagi para pekerja perusahaan kecil dan menengah, yang diinstruksikan perusahaan cuti bekerja akibat pandemi dan perusahaan tidak memberikan upah yang wajib dibayar berdasarkan hukum. Pemagang kerja teknis yang bekerja di perusahaan seperti ini juga memiliki hak yang sama.

Pekerja dapat menerima 80 persen upah yang mereka terima sebelum cuti, dengan nilai maksimum 11.000 yen per hari, untuk periode mereka tidak dapat bekerja sejak April tahun lalu. Program ini akan mencakup periode hingga akhir bulan berikutnya setelah bulan saat keadaan darurat dicabut.

Per 21 Januari, pemerintah telah menerima hampir 810 ribu permohonan dan memutuskan untuk membayar total lebih dari 63,6 miliar yen. Pekerja maupun perusahaan dapat mengajukan permohonan bagi dukungan ini, melalui surat maupun daring.

Situs web Kementerian Tenaga Kerja memuat informasi mengenai permohonan ini dalam bahasa Jepang, Inggris, Portugis, Spanyol, dan Cina. Situs web Organisasi Pemagangan Kerja Teknis untuk Orang Asing (OTIT) memuat informasi dalam bahasa Cina, Vietnam, Tagalog, Indonesia, Thailand, Inggris, Kamboja, dan Burma.

Kementerian Tenaga Kerja menyediakan layanan telepon bebas biaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tetapi hanya dalam bahasa Jepang. Nomornya adalah 0120-221-276. Jam layanan antara 8.30 pagi hingga 8.00 malam dari Senin hingga Jumat, dan antara 8.30 pagi hingga 5.15 sore pada akhir pekan dan hari libur.

Informasi ini akurat hingga 29 Januari.

Situs web Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan adalah

https://www.mhlw.go.jp/stf/kyugyoshienkin.html#otoiawasesaki (dalam bahasa Jepang, Inggris, Portugis, Spanyol, dan Cina)

Situs web Organisasi Pemagangan Kerja Teknis untuk Orang Asing adalah

https://www.otit.go.jp/CoV2_jissyu_seikatsu/ (dalam bahasa Jepang, Cina, Vietnam, Tagalog, Indonesia, Thailand, Inggris, Kamboja, dan Burma).

Q169: Mengenai dukungan pemerintah bagi para pekerja yang terpaksa mengambil cuti akibat pandemi virus korona (1)

Ini merupakan bagian pertama dari serial mengenai dukungan pemerintah bagi para pekerja yang terpaksa mengambil cuti akibat pandemi virus korona.

Kementerian Tenaga Kerja Jepang mengatakan warga yang cuti bekerja akibat wabah dan perusahaannya tidak membayar upah yang wajib diberikan berdasarkan hukum, berhak mendapatkan tunjangan hingga 28 Februari. Kini para pejabat mengatakan program dukungan itu diperpanjang hingga akhir bulan berikutnya setelah bulan saat keadaan darurat dicabut.

Undang-undang standar ketenagakerjaan Jepang menyatakan perusahaan harus membayar sekurangnya 60 persen upah ketika perusahaan menginstruksikan pekerjanya cuti dengan alasan perusahaan sendiri. Namun, sejumlah perusahaan tidak membayar upah dengan alasan usaha yang melemah dan alasan-alasan lain. Kementerian mengimbau para pekerja untuk mengajukan permohonan untuk program dukungan tersebut jika hal ini terjadi.

Program ini adalah bagi para pekerja di perusahaan kecil dan menengah, yang terpaksa cuti bekerja untuk sementara waktu sejak April tahun lalu. Mereka dapat menerima 80 persen upah yang mereka terima sebelum cuti dengan nilai maksimum 11.000 yen per hari.

Pekerja maupun perusahaan dapat mengajukan permohonan untuk dukungan tersebut. Para pejabat kementerian mendorong pekerja untuk mengajukan permohonan meskipun perusahaan tidak kooperatif. Dalam bagian berikutnya, kami akan menyampaikan bagaimana cara mengajukan permohonan dan siapa yang harus dihubungi untuk informasi lebih lanjut.

Informasi ini akurat hingga 28 Januari.

Q168: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (7)

Kali ini kami hadirkan bagian ketujuh serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi. Pertanyaan kali ini terkait penggunaan vaksin virus korona Pfizer untuk anak-anak usia 15 tahun ke bawah.

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien menyampaikan komentarnya dalam konferensi pers daring pada 7 Januari 2021.

Ia mengatakan secara umum komite tidak merekomendasi vaksin ini bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun karena WHO tidak memiliki datanya.

Ia mengatakan, uji klinis sejauh ini tidak diikuti oleh anak-anak di bawah usia 16 tahun, tetapi penelitian terus berlanjut untuk mendapatkan informasi terkait efikasi vaksin bagi anak-anak berusia 12 hingga 16 tahun, jadi akan ada lebih banyak informasi yang didapat pada masa mendatang.

Namun, ia juga mengatakan orang-orang yang bertanggung jawab atas vaksinasi bisa memilih untuk memberikan vaksin kepada anak-anak yang memiliki riwayat penyakit serius atau berisiko mengalami dampak negatif yang sangat serius dari penularan virus korona setelah berkonsultasi dengan keluarganya. Bagaimanapun, ia menekankan bahwa WHO tidak merekomendasikan vaksinasi bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun secara umum.

Q167: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (6)

Kali ini, kami hadirkan bagian keenam serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi. Pertanyaan kali ini adalah berapa lama efek vaksinasi akan bertahan?

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien menyampaikan komentarnya dalam konferensi pers daring pada 7 Januari 2021.

Ia mengatakan uji klinis telah dimulai pada musim semi lalu dan saat ini penggunaan vaksin tersebut masih dalam tahap awal. Ia mengatakan, rentang waktu imunitas akan bertahan bisa dipelajari dengan terus mengikuti orang-orang yang ikut dalam uji klinis tersebut, oleh karena itu WHO belum mengetahui jawaban atas masalah ini.

Ia menambahkan bahwa WHO mengharapkan dan memperkirakan akan terjadi imunitas yang tahan lama. Ia mengatakan, WHO juga mencermati orang-orang yang pernah terinfeksi COVID-19. Hal itu akan memberikan sejumlah indikasi atas seberapa lama daya tahan imunitas yang terbentuk secara alami dan mungkin juga akan berlaku bagi imunitas yang didapat dari vaksin.

Ia menegaskan kembali bahwa terlalu dini untuk menentukan berapa lama imunitas akan bertahan.

Q166: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (5)

Pertanyaan di bagian kelima serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi adalah, apakah tidak ada masalah jika seseorang menerima jenis vaksin berbeda untuk vaksinasi pertama dan kedua.

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien dalam konferensi pers daring 7 Januari 2021 mengatakan, lebih dari satu vaksin telah digunakan di beberapa negara.

Ia mengakui bahwa WHO tidak memiliki data tentang mencampur dan mencocokkan vaksin yang berbeda. Namun, ia mengatakan bahwa jika seseorang telah mendapatkan vaksin pertama dari Pfizer, maka orang tersebut harus mendapatkan dosis kedua dari vaksin yang sama.

Ia menambahkan, WHO mengetahui bahwa beberapa negara menggunakan vaksin berbeda untuk dosis pertama dan kedua. Ia mengatakan masalah ini merupakan bidang penelitian yang sangat penting dan WHO akan memprioritaskan penelitian semacam itu untuk membuat rekomendasi.

Q165: "Batas waktu pendaftaran program subsidi untuk usaha kecil dan menegah diperpanjang hingga 15 Februari"

Kali ini kami membahas tentang program subsidi untuk membantu usaha kecil dan menegah menopang bisnisnya dan membayar sewa di tengah pandemi. Pada 15 Januari, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Perindustrian menyebutkan para pengusaha dapat mengajukan permohonan subdisi hingga 15 Februari, jika mereka melaporkan mengenai pendaftarannya selambatnya akhir Januari. Batas waktu penyerahan sebelumnya adalah 15 Januari.

“Program Subsidi untuk menopang bisnis” pemerintah ini menyediakan hingga 2 juta yen untuk membantu usaha kecil dan menengah yang pendapatannya turun secara signifikan akibat pandemi virus korona. “Program subdisi untuk mendukung sewa usaha” menawarkan dana untuk membantu pengusaha membayar sewa.

Kementerian itu mengatakan tidak memperpanjang program subsidi itu. Namun, memutuskan untuk memperpanjang periode pendaftaran hingga 15 Februari, dengan mempertimbangkan sejumlah usaha yang mungkin menghadapi kesulitan dalam mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan karena deklarasi keadaan darurat. Namun, para pengusaha harus melaporkan terlebih dahulu selambatnya 31 Januari, alasan singkat untuk menyerahkan permohonan dalam periode perpanjangan.

Informasi ini akurat hingga 22 Januari.

Q164: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (4)

Kali ini kami menghadirkan bagian keempat dari pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai vaksinasi. Pertanyaan yang kami ketengahkan hari ini adalah, apakah orang-orang yang telah pulih dari penularan harus divaksinasi.

Berikut yang dikatakan oleh Ketua Kelompok Kerja Kelompok Penasihat Strategis Pakar Imunisasi WHO, Alejandro Cravioto, yang berbicara dalam konferensi pers daring 7 Januari 2021.

Ia mengatakan, salah satu rekomendasi utama WHO adalah orang-orang yang pernah tertular COVID, yang terdiagnosis melalui tes PCR atau antigen, tidak sebaiknya dikecualikan dari mendapatkan vaksinasi. Cravioto menyebutkan bahwa pihaknya tidak tahu berapa lama daya tahan efek alami untuk melindungi seseorang agar tidak tertular lagi. Cravioto mengatakan, suatu jurnal yang dirilis pada 6 Januari mengatakan bahwa orang-orang itu terlindungi hingga selama 8 bulan, tetapi data tersebut tidak cukup untuk mengecualikan orang dari vaksinasi.

Ditambahkannya, di sisi lain jika seseorang yang sudah pernah terinfeksi, ingin menunggu sejenak dan memberi kesempatan orang lain yang memiliki risiko agar divaksinasi terlebih dahulu, hal itu merupakan keputusan yang harus dibuat masing-masing orang.

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien, mengeluarkan komentar berikut dalam konferensi daring yang sama.

Ia mengatakan, dunia barus saja memulai vaksinasi dan setiap negara berupaya memberikannya kepada kelompok orang dengan prioritas tertinggi. Terdapat kemungkinan kecil orang-orang yang pernah tertular akan tertular lagi dalam 6 bulan. Namun, O`Brien mengatakan WHO tidak menyarankan program vaksinasi itu mengecualikan atau menunda vaksinasi orang-orang seperti itu.

Informasi ini akurat hingga 21 Januari 2021.

Q163: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (3)

Kali ini kami membawakan bagian ketiga dari serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi. Pertanyaan adalah apakah orang-orang yang memiliki masalah kesehatan lain harus divaksinasi.

Berikut yang dikatakan oleh Ketua Kelompok Kerja Kelompok Penasihat Strategis Pakar Imunisasi WHO, Alejandro Cravioto, yang berbicara dalam konferensi pers daring 7 Januari 2021.

Cravioto mengatakan apakah orang-orang harus divaksinasi, tergantung dari jenis penyakit lain apa yang mereka idap. Ia mengatakan, sudah jelas bahwa siapa pun yang memiliki reaksi alergi kuat terhadap segala vaksinasi tidak boleh mendapatkan vaksinasi ini. Namun, menurutnya jika seseorang memiliki alergi terhadap makanan atau produk lain, pihaknya tidak melihat adalah kontraindikasi untuk menggunakan vaksin tersebut. Ia menambahkan, pihaknya merekomendasikan melakukan vaksinasi pada tempat yang dapat merawat reaksi alergi parah secara efektif dan cepat.

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien, mengeluarkan komentar berikut dalam konferensi daring yang sama.

Menurutnya, orang-orang yang memiliki masalah kesehatan lain, orang yang mempunyai penyakit jantung, penyakit paru-paru, diabetes atau obesitas, adalah orang-orang yang sebenarnya berisiko lebih tinggi mengalami dampak serius dari penularan COVID. O`Brien mengatakan, mereka yang memiliki penyakit lain sebenarnya adalah orang-orang yang ditargetkan untuk diimunisasi.

O`Brien menambahkan, pihaknya belum memiliki data atau apakah vaksinasi menimbulkan risiko bagi wanita hamil. Namun, ia menekankan bahwa tidak ada alasan untuk meyakini bahwa vaksin itu akan berbahaya bagi wanita hamil atau bayi yang dikandungnya. Menurutnya, pihaknya merekomendasikan wanita hamil dalam grup rekomendasi tertinggi, terutama mereka yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, untuk berdiskusi dengan penyedia vaksinnya dan membahas risikonya tertular COVID, serta jika memang terdapat risiko signifikan, ia bisa mendapatkan vaksinasi.

Menurut O`Brien, orang-orang pengidap HIV harus mendapatkan vaksinasi dan siapa pun yang memiliki kondisi yang dapat membuat mereka berisiko mengalami penyakit serius akibat COVID, harus mendapatkan vaksinasi.

Informasi ini akurat hingga 20 Januari 2021.

Q162: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (2)

Kali ini, kami membawakan bagian kedua dari serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi. Pertanyaannya adalah, “Apakah vaksinasi bisa melawan varian-varian virus?”.

Dunia kini mengalami penyebaran pesat galur termutasi virus korona baru. Berikut yang dikatakan oleh Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O`Brien, dalam konferensi pers daring 7 Januari 2021.

Dikatakannya, ketika vaksin telah dikembangkan dan dites, vaksin sudah diuji terhadap sejumlah galur virus yang berbeda. Menurutnya, virus berubah sepanjang waktu dan hal itu merupakan bagian normal dari virus. O`Brien mengatakan, pertanyaannya adalah apakah virus itu berubah dalam cara yang memengaruhi penyakit itu sendiri atau berdampak terhadap pengobatan, atau dalam hal ini, apakah berdampak terhadap vaksin.

Direktur WHO itu mengatakan kita telah mendengar mengenai sejumlah varian yang muncul di berbagai tempat di dunia, yang mengakibatkan kekhawatiran mengenai penularan, serta evaluasi tengah dilakukan mengenai apakah vaksin yang ada akan terdampak.

Namun, menurutnya apa yang dapat dikatakan dengan keyakinan kuat adalah kita perlu meneruskan vaksinasi secepat mungkin. O`Brien mengatakan perubahan yang tengah terlihat pada varian-varian tersebut tampaknya tidak akan mengubah manfaat vaksin.

Informasi ini akurat hingga 19 Januari 2021.

Q161: Mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi (1)

Tulisan ini merupakan bagian pertama dari serial mengenai pandangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap vaksinasi.

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO, Kate O’Brien berbicara dalam konferensi pers daring pada 7 Januari lalu.

Ia mengatakan, “Sesuatu berubah dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini ada sejumlah vaksin yang telah menunjukkan benar-benar bekerja.”

Menurut O’Brien,”Beberapa vaksin itu telah memperoleh izin dari sejumlah negara.” Ia menambahkan, “Vaksin-vaksin tersebut saat ini di berbagai negara yang memiliki pendapatan besar” dan juga diharapkan secepatnya akan dilakukan di negara dengan pendapatan lebih rendah dan menengah.

O’Brien mengatakan setidaknya ada tiga vaksin yang telah dievaluasi oleh regulator yang memiliki standar tertinggi dalam mengkaji data vaksin. Ia mengatakan sejumlah regulator ini melihat data mengenai keamanan, efikasi, dan kualitas pembuatannya. Ia menambahkan ada tiga vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer, yang telah diizinkan penggunaannya oleh setidaknya salah satu otoritas dengan standar yang baik.

Menurut O’Brien, ada juga vaksin yang telah mempublikasikan hasil efikasinya dan masih dalam proses mengkaji data mereka. Ia menjelaskan vaksin-vaksin itu dari Cina seperti Sinopharm dan Sinovac, vaksin Rusia yang dikembangkan oleh institute Gamaleya.

O’Brien menganggap yang paling penting adalah “ada saluran vaksin yang sangat besar yang melalui uji kilinis terhadap manusia dan kami akan terus memantau situasi yang sangat dinamis dalam beberapa pekan dan bulan mendatang.” Ia mengatakan regulator akan “memverifikasi apakah data-data itu cukup untuk mengizinkan vaksin-vaksin itu digunakan untuk populasi secara umum.”

Informasi ini akurat hingga 18 Januari.

Q160:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 9)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah “Pemerintah Jepang menyatakan keadaan darurat akan diberlakukan hingga 7 Februari, apa yang terjadi setelah itu?”

Omi Shigeru, kepala panel penasihat pemerintah untuk merespons virus korona, menyinggung isu tersebut dalam sidang di Komite Kabinet Majelis Tinggi pada 14 Januari. Ia mengatakan jika jumlah kasus penularan menurun seperti diperkirakan di hari menjelang 7 Februari, maka langkah-langkah yang diterapkan selama keadaan darurat dapat dilonggarkan secara bertahap. Namun, ia mengatakan jika jumlah kasus masih tidak banyak berubah atau sedikit naik, atau turun di tingkat moderat, itu berarti langkah-langkah keadaan darurat sekarang ini tidak cukup dan harus diterapkan langkah-langkah anti-penularan yang lebih kuat.

Ia mengatakan para ahli akan memantau situasi penularan untuk menilai efektivitas langkah-langkah yang diterapkan pada saat ini. Ia mengatakan penilaian tersebut dapat digunakan untuk memutuskan langkah-langkah yang lebih kuat seperti apa yang harus diambil. Ia mengatakan salah satu yang dapat menjadi pilihan adalah mungkin meminta pengusaha untuk menutup sementara operasinya. Omi mengisyaratkan bahwa ketika menganalisis situasi penularan, panel penasihat akan mengambil skenario di mana keadaan darurat tidak menunjukan hasil yang diharapkan dan mendiskusikan langkah-langkah tambahan yang dibutuhkan.

Informasi ini akurat hingga 15 Januari.

Q159:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 8)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan hari ini adalah “Apa yang harus dilakukan sehubungan dengan vaksinasi rutin dan pemeriksaan kesehatan di tengah pemberlakuan keadaan darurat?”

Kementerian Kesehatan Jepang memperingatkan lewat situs webnya serta media lainnya bahwa jika orang-orang secara berlebihan menahan diri untuk datang ke institusi medis, hal itu bisa meningkatkan risiko kesehatan.
Khususnya, bayi dan anak-anak yang tidak divaksin pada usia yang ditetapkan secara hukum bisa mengalami risiko lebih tinggi terkena penyakit menular yang serius.

Kementerian juga menyerukan kepada para orang tua agar membawa anaknya menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Ini bisa menjadi kesempatan berharga untuk memperoleh nasihat dari pakar mengenai pertumbuhan anak mereka. Selain itu, kementerian juga merekomendasikan agar orang-orang menjalani pemeriksaan kanker secara rutin karena kanker pada stadium awal bisa jadi tidak menunjukkan gejala.

Kementerian menyatakan bahwa langkah pencegahan penularan dengan disinfeksi dan ventilasi diterapkan sepenuhnya di institusi-institusi medis serta tempat-tempat pemeriksaan kesehatan. Jadi, orang-orang disarankan untuk mencari bantuan kesehatan yang semestinya, meskipun di tengah pandemi, melalui konsultasi dengan dokter keluarga dan pakar lainnya. Kementerian menyarankan agar orang-orang tidak menahan diri menggunakan layanan semacam itu dengan pertimbangan sendiri.

Informasi ini berdasarkan data yang akurat hingga 14 Januari.

Q158:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 7)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan hari ini adalah “Laporan di berita menyebutkan bahwa jumlah orang yang keluar rumah tidak berkurang sebanyak saat pemberlakuan keadaan darurat pertama. Apa yang menjadi alasannya?”

Tanggal 10 Januari lalu merupakan hari Minggu pertama sejak keadaan darurat kembali diberlakukan di Jepang. Big data menunjukkan bahwa jumlah orang yang mengunjungi distrik komersial utama di Tokyo pada malam hari turun dibandingkan bulan lalu, tetapi jauh lebih tinggi dari status keadaan darurat tahun lalu.

Wada Koji, profesor ilmu kesehatan masyarakat di Universitas Kesehatan dan Kesejahteraan Internasional, mengatakan bahwa untuk membendung penyebaran virus, peluang terjadinya kontak antarorang harus dikurangi. Namun, masyarakat tampaknya menginterpretasikan pesan dari status keadaan darurat saat ini sebagai imbauan agar menahan diri bepergian ke luar setelah pukul 8 malam.

Wada menyebutkan adanya kemungkinan status keadaan darurat akan diperpanjang jika pergerakan orang-orang atau peluang terjadinya kontak tidak berkurang. Sebagai tambahan, Wada mengungkapkan pentingnya untuk menetapkan target yang jelas seperti seberapa banyak kontak yang harus dikurangi antarorang. Ia mengatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah harus memantau situasi selama sekitar dua hingga tiga pekan, kemudian menganalisisnya.

Jika penularan tidak berhasil dibendung, pemerintah harus memberikan penjelasan yang bisa meyakinkan masyarakat akan perlunya upaya untuk mengurangi kontak antarorang. Wada meyakini bahwa banyak orang telah mengambil langkah pencegahan agar tidak tertular. Namun, agar status keadaan darurat kali ini bisa bekerja secara efektif, tiap orang harus mengingat kembali pemberlakuan keadaan darurat tahun lalu dan memikirkan lagi tindakan mereka.

Q157:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 6)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah “Apa penyebab lonjakan kasus baru COVID-19 di Jepang belakangan ini?”

Profesor Oshitani Hitoshi dari Universitas Tohoku merupakan anggota panel pakar penasihat pemerintah. Dalam konferensi pers pada 8 Januari, ia mengatakan bahwa lonjakan jumlah kasus baru belakangan ini agak tidak wajar dan bahwa para pakar perlu menganalisis data secara detail untuk mencari tahu penyebab kenaikan tajam tersebut. Sebagai contoh, jumlah kasus baru di Tokyo melampaui 2.000 pada 7 dan 8 Januari.

Oshitani mengatakan bahwa angka penularan terbaru, misalnya lonjakan jumlah kasus baru secara tiba-tiba di Tokyo pada 31 Desember tahun lalu, merupakan sesuatu yang tidak lazim dari sudut pandang epidemiologi. Ia mengungkapkan bahwa lonjakan kasus harian di Tokyo yang berjumlah kurang dari 1.000 pada akhir Desember lalu menjadi lebih dari 2.000 dalam sekitar sepuluh hari adalah sesuatu yang tidak wajar.

Penularan baru pada usia muda antara 18 hingga 39 tahun tidak hanya meningkat di Tokyo, tetapi juga di Osaka. Oshitani mengatakan bahwa hal ini sebagian disebabkan oleh banyaknya orang yang bepergian ke luar rumah selama libur akhir tahun dan Tahun Baru. Ia menambahkan bahwa hasil tes yang dilakukan selama masa libur tersebut kemungkinan dilaporkan secara akumulatif setelah liburan berakhir.

Profesor Oshitani juga mengindikasikan alasan lainnya. Ia mengatakan bahwa anak-anak muda, yang sebelumnya enggan menjalani tes, kini melakukannya setelah adanya laporan kematian seorang anggota parlemen pada akhir tahun serta sejumlah orang yang meninggal saat menjalani karantina di rumah.

Oshitani menyimpulkan bahwa para pakar harus mempelajari apa yang menjadi latar lonjakan kasus ini dan menganalisis alasan di baliknya.

Q156:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 5)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah “Seberapa efektif keadaan darurat terbaru ini, dengan fokus meminta restoran dan bar mengurangi jam operasi?”

Salah satu pendapat menyebutkan bagaimana menjamin efektivitas permintaan semacam itu, yang akan dikeluarkan oleh gubernur bagi tempat-tempat makan.

Pemerintah berencana mengumumkan kepada publik nama-nama tempat usaha yang tidak mematuhi permintaan tersebut, serta menambah bantuan finansial bagi tempat usaha yang mematuhi permintaan itu.

Rencana revisi atas undang-undang langkah-langkah khusus ini termasuk menawarkan bantuan finansial bagi tempat usaha yang mematuhi permintaan tersebut serta denda bagi mereka yang menolak mengikuti permintaan itu. Para pejabat berharap revisi tersebut segera diloloskan dalam sidang Parlemen pada bulan ini.

Informasi ini akurat hingga 8 Januari 2021.

Q155:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 4)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang.

Sebuah panel pakar virus korona pemerintah Jepang menyusun proposal darurat pada 5 Januari 2021. Panel tersebut menekankan pentingnya mitigasi risiko infeksi di bar dan restoran.

Panel itu menyusun proposal berdasarkan sebuah laporan yang dipublikasikan oleh tim ilmuwan di Universitas Stanford dan lainnya dalam jurnal sains Nature pada November lalu.

Dengan menggunakan model matematika, tim itu mengkaji data ponsel yang dikumpulkan dari sekitar 98 juta orang di kota-kota besar Amerika Serikat (AS) sejak Maret hingga Mei tahun lalu. Tujuannya adalah untuk mengamati tempat virus tersebut lebih mudah menyebar.

Tim itu memeriksa toko-toko mana yang memiliki risiko lebih tinggi saat kembali dibuka setelah ditutup sementara. Tim itu menemukan bahwa risiko tertinggi yaitu di restoran dengan layanan penuh. Lokasi lain yang berisiko adalah di tempat kebugaran, kafe, dan hotel.

Tim itu mengatakan dibandingkan tempat-tempat lainnya, risiko tertinggi berada di restoran karena menerima banyak pelanggan yang biasanya duduk untuk waktu yang lama.

Dalam laporan tersebut, para peneliti juga menyebutkan bagaimana restoran dapat memperbaiki kondisinya guna mencegah penyebaran saat kembali dibuka. Menurut tim itu, restoran dan toko-toko lainnya dapat mengurangi jumlah penularan sebanyak 80 persen dengan membatasi jumlah konsumen yang diizinkan masuk dalam satu waktu menjadi 20 persen kapasitasnya.

Tim itu menyebutkan bahwa akan lebih efektif bila membatasi jumlah orang di toko-toko ketimbang menerapkan pembatasan yang sama dalam operasionalnya.

Panel pemerintah tersebut mengatakan berdasarkan laporan itu serta penilaian klaster infeksi lainnya yang terjadi di Jepang, disimpulkan bahwa bar dan restoran merupakan area penting yang harus menjadi fokus langkah-langkah pencegahan virus pemerintah.

Meski demikian, bukan berarti tempat-tempat lain dapat dikecualikan dari langkah tersebut. Risiko penularan dianggap meningkat di mana pun orang-orang berkumpul dan makan di sana. Ketika sedang makan, orang-orang harus melepas masker, dan tampaknya akan melakukan pembicaraan. Saat mengonsumsi minuman beralkohol, mereka mungkin akan berbicara dengan suara lebih keras atau menjadi tidak peduli dengan langkah pencegahan terhadap virus korona.

Jadi, terkait COVID-19, hal yang dianggap paling penting adalah mengurangi risiko penyebaran virus di bar, restoran, dan tempat lainnya di mana orang makan.

Q154:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 3)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah “bagaimana keadaan darurat akan berdampak pada sekolah dan ujian”. Menteri Pendidikan Hagiuda Koichi menggelar jumpa pers pada 5 Januari, untuk menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil.

Ia mengatakan kementerian tidak mempertimbangkan meminta penutupan secara keseluruhan untuk SD, SMP, dan SMA. Menurutnya tingkat penularan dan kasus parah di antara anak-anak sekolah tetap rendah sejauh ini dan tidak ada situasi penyebaran penularan dari sekolah ke komunitas. Ia mengatakan penutupan sekolah seharusnya dihindari dari sudut pandang dampaknya terhadap proses belajar anak-anak serta kesehatan mental dan fisiknya.

Sementara untuk perguruan tinggi, ia meminta perguruan tinggi menyediakan kelas secara tatap muka dan daring.

Namun, ia mendesak peningkatan langkah-langkah pencegahan penularan di aktivitas ekstrakurikuler sekolah. Ia meminta sekolah-sekolah, khususnya SMA, agar mempertimbangkan pembatasan aktivitas ekstrakurikuler dengan risiko penularan tinggi.

Menteri pendidikan mengatakan ujian standar untuk masuk perguruan tinggi akan dimulai tanggal 16 Januari sesuai jadwal, dengan mengambil langkah-langkah menyeluruh untuk mencegah penularan. Lebih dari 530.000 orang di penjuru Jepang diperkirakan akan mengikuti ujian itu.

Ia juga menyerukan dewan-dewan pendidikan setempat agar tetap melaksanakan ujian masuk untuk SMP dan SMA sebagaimana rencana.

Informasi telah dipastikan pada 6 Januari.

Q153:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 2)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah "Seberapa efektif deklarasi keadaan darurat yang pertama?"

Pemerintah mendeklarasikan keadaan darurat pertama pada 7 April tahun lalu untuk provinsi-provinsi Tokyo, Kanagawa, Saitama, Chiba, Osaka, Hyogo, dan Fukuoka, berdasarkan undang-undang khusus untuk merespons virus korona. Wilayah ini diperluas pada 16 April guna mencakup seluruh Jepang.

Selama periode ini, pemerintah mendesak masyarakat agar mengurangi kontak antarorang sekurangnya 70 persen, dan 80 persen jika memungkinkan, berdasarkan saran dari panel pakar pemerintah.

Gubernur-gubernur provinsi wilayah darurat dapat meminta warga agar tidak keluar rumah kecuali jika betul-betul perlu dan bekerja sama untuk mencegah penyebaran penularan. Para gubernur juga dapat meminta pembatasan penggunaan fasilitas-fasilitas tempat banyak orang berkumpul.

Di daerah-daerah dengan penularan meluas, masyarakat diminta bekerja dari rumah sebisa mungkin dan didesak keras agar tidak keluar rumah kecuali untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari atau pergi ke dokter.

Hal ini membawa pada penutupan sementara bar, restoran, teater, bioskop, pusat perbelanjaan, hotel, museum, dan perpustakaan, serta pembatalan atau penundaan berbagai acara. Sekolah-sekolah di penjuru Jepang ditutup sejak bulan Maret dan sebagian besarnya tetap tutup setelah deklarasi dikeluarkan.

Sebagai hasil dari Langkah ini, jumlah pengunjung ke pusat Tokyo anjlok lebih dari 60 persen pada hari kerja dan sekitar 80 persen pada akhir pekan dibandingkan bulan Januari tahun yang sama.

Jumlah kasus baru di Jepang mencapai puncaknya sekitar 700 pada pertengahan April dan mulai turun. Wilayah-wilayah dengan status keadaan darurat perlahan-lahan berkurang. Deklarasi itu akhirnya dicabut di Hokkaido dan Tokyo dan tiga provinsi bertetangga pada 25 Mei. Sebanyak 21 kasus baru dipastikan pada hari itu.

Q152:  Mengetahui lebih jauh tentang ‘Pemberlakuan keadaan darurat’ (Bagian 1)

Kami menyajikan serial mengenai pemberlakuan keadaan darurat yang kedua di Jepang. Pertanyaan kali ini adalah "Apa arti status keadaan darurat di Jepang?"

Deklarasi keadaan darurat merupakan kebijakan yang diambil berdasarkan UU khusus guna merespons virus korona. Perdana menteri bisa membuat deklarasi tersebut jika virus menyebar dengan cepat di seluruh Jepang dan bisa memberi dampak serius bagi kehidupan warga atau perekonomian.

Durasi dan wilayah cakupannya akan ditentukan.

Para gubernur yang provinsinya ditetapkan dalam keadaan darurat bisa meminta warganya untuk tidak bepergian keluar dan bekerja sama dalam mencegah penyebaran penularan. Larangan ini tidak berlaku atas situasi yang diperlukan guna menopang kehidupan warga.

Para gubernur bisa meminta atau memerintahkan penutupan sekolah atau membatasi penggunaan sejumlah fasilitas seperti misalnya pusat perbelanjaan yang biasanya dipenuhi banyak orang. Mereka juga memiliki wewenang menggunakan lahan atau bangunan untuk dijadikan fasilitas medis tanpa perlu izin dari pemiliknya, jika langkah itu sangat dibutuhkan.

Dalam situasi mendesak, mereka bisa meminta atau memerintahkan perusahaan-perusahaan transportasi untuk mengirimkan produk atau perlengkapan medis, atau mengambil alih produk medis saat dibutuhkan.

April tahun lalu, mantan Perdana Menteri Abe Shinzo mendeklarasikan keadaan darurat bagi tujuh provinsi, yakni Tokyo, Kanagawa, Saitama, Chiba, Osaka, Hyogo, dan Fukuoka. Kebijakan itu kemudian diperluas mencakup seluruh Jepang.

Q151: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 12)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Pertanyaan di bagian ke-12 adalah, “Apakah anak-anak sebaiknya tidak pergi keluar atau bermain bersama teman?”

Para pakar mengatakan anak-anak tidak perlu dilarang untuk pergi keluar atau bermain bersama teman selagi menerapkan langkah pencegahan penularan. Bermain memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan fisik dan mental anak-anak. Jadi, jika langkah untuk mengurangi penularan diterapkan dengan sepatutnya, maka tidak menjadi masalah bagi mereka untuk keluar atau bermain bersama teman.

Saat berencana untuk jalan-jalan keluar sewaktu libur sekolah, harap memantau situasi penularan di kota Anda dan tempat yang ingin dikunjungi. Selain itu, pastikan juga bahwa otoritas di kedua wilayah tersebut tidak mengeluarkan imbauan larangan bepergian.

Bermain di luar ruangan risikonya diyakini lebih rendah ketimbang bermain di dalam ruangan. Namun, Anda harus mencermati beberapa poin berikut. Pertama, anak-anak tidak boleh bermain di luar ketika mereka memiiki gejala meriang, seperti tenggorokan sakit, batuk, atau demam.

Lalu, anak-anak harus mencuci tangan mereka setelah menyentuh benda-benda yang sering disentuh banyak orang. Mereka juga harus mencuci tangan sebelum makan dan minum, serta tidak duduk saling berhadapan saat makan.

Sementara itu, bermain di dalam ruangan memiliki risiko yang lebih tinggi, jadi harap mencermati sejumlah hal berikut ini.

Pastikan bahwa tidak ada orang yang terinfeksi di dekat Anda. Pastikan tidak ada lansia atau orang-orang dengan riwayat penyakit bawaan di sekitar Anda. Pastikan bahwa anak-anak serta anggota keluarganya tidak menunjukkan gejala meriang. Hanya bermain dengan jumlah orang yang sedikit.

Pastikan bahwa anak-anak bermain atas persetujuan orang tua. Anak-anak harus mencuci tangan setelah menyentuh benda-benda yang sering disentuh banyak orang. Mereka juga harus mencuci tangan sebelum makan dan minum, serta tidak duduk saling berhadapan saat makan. Pastikan untuk membuka sirkulasi udara di tempat tersebut setidaknya sekali dalam satu jam.

Jika Anda tinggal di wilayah yang diimbau untuk tidak bepergian keluar, maka anak-anak harus mengikuti hal berikut. Hanya bermain bersama saudara kandung dan anggota keluarga yang tinggal di rumah yang sama. Hindari kontak fisik jarak dekat saat pergi keluar.

Informasi ini menggunakan data yang akurat hingga 25 Desember.

Q150: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 11)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Pertanyaan di bagian ke-11 adalah, “Apakah orang tua harus menahan anak-anak di rumah ketimbang mengizinkan mereka pergi ke sekolah, taman kanak-kanak, atau tempat penitipan anak?”

Para pakar menyatakan tidak ada alasan untuk membuat anak-anak menjauh dari sekolah, TK, atau tempat penitipan anak, kecuali anak tersebut merasa kurang sehat atau pernah kontak fisik jarak dekat dengan seseorang yang hasil tesnya positif virus korona.

Di wilayah yang tidak mengalami wabah dalam skala besar, banyak anak-anak yang terinfeksi virus dari orang dewasa yang tinggal di rumah yang sama, misalnya dari orang tua. Namun,  ada juga laporan yang menyebutkan bahwa penularan virus terjadi di tempat anak-anak biasa menghabiskan waktu bersama. Jadi, sekolah, TK, dan tempat penitipan anak bisa ditutup dalam jangka waktu tertentu jika seorang anak di tempat itu dinyatakan tertular virus.

Setiap kasus memerlukan respons yang berbeda tergantung dari kondisi penularannya, jadi harap mengikuti arahan dari pemerintah kota tempat Anda tinggal. Jika seseorang tertular di dalam rumah di lingkungan keluarga, anak-anak dari rumah tersebut akan dianggap telah melakukan kontak fisik jarak dekat dengan pembawa virus. Jadi, mereka harus tetap berada di rumah.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Jepang merekomendasikan bahwa anak-anak harus menghindari sekolah, TK, dan tempat penitipan anak saat mereka mengalami demam ringan atau gejala meriang lainnya. Penting bagi semua orang untuk mengikuti imbauan tersebut.

Sudah diketahui secara umum bahwa anak-anak di bawah lima tahun yang menunjukkan gejala terinfeksi, mengeluarkan virus dalam jumlah relatif banyak. Juga diketahui bahwa banyak anak yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala, dan virusnya terus dikeluarkan melalui feses dalam waktu yang lama.

Orang dewasa yang menghabiskan waktu bersama anak-anak harus mengambil langkah cermat seperti misalnya sering mencuci tangan dan memakai masker.

Informasi ini menggunakan data yang akurat hingga 24 Desember.

Q149: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 10)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian kesepuluh ini, pertanyaan yang kami angkat adalah, “Apa yang harus dilakukan orang tua bagi anak-anak yang tidak bisa mengenakan masker wajah?”

Para pakar mengatakan, mengenakan masker wajah efektif sebagai perlindungan terhadap paparan langsung dari cipratan pasien terinfeksi, yang tersembur melalui bersin atau batuk. Meski demikian, tidaklah realistis guna meminta anak dua tahun untuk mengenakannya.

Dalam hal anak-anak berusia antara empat hingga lima, meskipun tergantung dari masing-masing individu, dimungkinkan bagi kelompok usia ini untuk mengenakan masker wajah. Orang tua harus mengajarkan mereka cara yang benar untuk mengenakan dan melepaskan masker.

Para pakar mengatakan, ada banyak anak yang terinfeksi virus korona dari orang tuanya di dalam rumah. Guna mencegah anak-anak tertular, penting bagi orang tua untuk mengambil langkah-langkah antipenularan agar tidak menularkan virus itu. Jika ada anggota keluarga yang tertular, penting untuk mempertahankan jarak lebih dari dua meter dari orang yang terinfeksi tersebut.

Para pakar menekankan bahwa mencuci tangan dan mendisinfeksi barang-barang juga penting, karena anak-anak dapat terinfeksi dengan cara menyentuh mulut, hidung, atau matanya dengan mainan dan buku yang telah terkontaminasi virus tersebut.

Informasi ini akurat hingga 23 Desember.

Q148: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 9)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian kesembilan ini, pertanyaan yang kami ulas adalah, “Apakah ibu sebaiknya berhenti menyusui bayi, ketika ia diketahui telah tertular virus korona?”

Para pakar mengatakan bahwa ibu tidak perlu berhenti menyusui bayi sama sekali, bahkan jika ia hasil tesnya positif. Mereka mengatakan ibu dapat memilih apakah akan meneruskan menyusui bayi, tergantung atas kondisi dan keinginannya.

Saat seorang ibu terinfeksi, terdapat risiko ia dapat menularkan virus itu kepada bayinya melalui kontak atau batuk. Terdapat laporan bahwa gen virus korona ditemukan dalam air susu ibu. Namun, masih belum jelas apakah susu itu mengandung virus yang menular. Air susu ibu punya banyak manfaat bagi bayi dan tidak dianjurkan untuk menghentikan menyusui akibat ketakutan akan infeksi.

Ada dua metode bagi ibu yang terinfeksi untuk terus menyusui. Pertama adalah menyusui secara langsung. Kedua adalah memberikan air susu ibu perah melalui botol.

Sebelum menyusui langsung seorang bayi, ibu harus mencuci tangannya secara menyeluruh, mendisinfeksinya, serta mengenakan masker.

Sebelum memerah susu, ibu harus memastikan telah mencuci tangannya, serta juga mendisinfeksi tangan, payudara, dan pompa payudara. Kemudian, orang yang tidak terinfeksi yang sebaiknya memasukkan susu ke dalam botol dan memberikan susu kepada bayi.

Informasi ini akurat hingga 22 Desember.

Q147: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 8)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian kedelapan ini, pertanyaannya adalah “Apakah kita harus menunda rawat inap bagi anak untuk menjalani pemeriksaan dan operasi karena penyakit selain virus korona?”

Para pakar mengatakan Anda harus memberikan prioritas pemeriksaan dan perawatan untuk penyakit anak, serta memperhatikan kondisi kesehatan anak sebelum melakukannya.

Sejumlah rumah sakit di Jepang menangani pasien virus korona dan orang-orang dengan penyakit lain secara terpisah. Anda harus memastikan hal itu dengan rumah sakit tempat anak Anda akan menjalani perawatan, pada dasarnya Anda mungkin akan diyakinkan anak Anda aman di fasilitas tersebut.

Penularan virus korona diperkirakan akan berlanjut, jadi Anda harus memprioritaskan perawatan dan pemeriksaan untuk penyakit anak Anda. Jika jadwal rawat inap telah ditetapkan, Anda harus benar-benar memperhatikan kondisi kesehatan anak Anda dua pekan sebelum masuk ke rumah sakit dan menghindari perilaku yang akan meningkatkan risiko penularan. Pembatasan mungkin akan diterapkan di rumah sakit tempat anak Anda menjalani rawat inap jika mereka tidak sehat atau telah melakukan kontak dengan orang-orang yang menunjukkan gejala selesma.

Informasi ini menggunakan data yang akurat hingga 21 Desember.

Q146: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 7)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian ketujuh kali ini, pertanyaan dari orang tua adalah “Apakah anak-anak harus dirawat inap di rumah sakit jika mereka terkena virus korona?” dan “Apakah orang tua diizinkan untuk berkunjung atau menemani anak-anaknya selama dirawat di rumah sakit?”

Para pakar merespons sesuai dengan situasi di Jepang. Para pakar mengatakan ketika anak-anak terkena virus korona, sebagian besar kasus memiliki gejala ringan dan tidak membutuhkan rawat inap di rumah sakit dari perspektif medis. Meski begitu, ada situasi ketika anak-anak harus dirawat di rumah sakit sesuai dengan undang-undang.

Jika anak-anak terkena virus dari orang tua mereka di dalam rumah, kedua orang tua dan anak-anak mungkin menjalani rawat inap sekaligus. Jika orang tua tidak terkena virus korona, anak-anak mungkin menjalani rawat inap sendirian dengan maksud dikarantina.

Izin bagi orang tua untuk menemani anaknya selama menjalani rawat inap di rumah sakit akan ditentukan berdasarkan berbagai faktor dari kasus per kasus termasuk usia anak dan situasi di rumah sakit.

Jika anak disarankan tinggal di rumah atau di fasilitas yang ditentukan selama penyembuhan dari penyakit tersebut, orang tua harus berkonsultasi dengan pusat kesehatan masyarakat dan terus melakukan pemeriksaan kesehatan melalui telepon setelah anak sembuh.

Kriteria untuk gejala ringan harus ditentukan oleh seorang pakar medis. Itu mencakup memiliki energi yang cukup, mendapatkan cukup cairan, dan bernapas tanpa kesulitan.

Jika seorang merasa sakit dan membutuhkan rawat inap, kemungkinan besar orang tua terkena virus tersebut atau diduga terpapar virus tersebut. Dalam kasus seperti itu, orang tua mungkin tidak akan diizinkan untuk mengunjungi anaknya di rumah sakit.

Para pakar menyarankan orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter bagaimana untuk berhubungan, mungkin akan berbeda tergantung dari berbagai faktor termasuk situasi khusus dari orang tua seperti apakah mereka telah pulih dari virus, situasi di rumah sakit, dan situasi penularan di kawasan itu.

Informasi ini menggunakan data yang akurat hingga 18 Desember.

Q145: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 6)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian keenam kali ini, pertanyaan dari orang tua adalah “Apakah pemeriksaan kesehatan rutin dan vaksinasi untuk bayi sebaiknya ditunda?”

Para pakar mengungkapkan bahwa pemeriksaan rutin bagi bayi di Jepang bertujuan untuk deteksi dini penyakit dan masalah kesehatan lainnya yang cenderung dialami anak-anak pada usia tertentu. Hal ini untuk memastikan agar anak-anak dapat menerima penanganan yang dibutuhkan sesegera mungkin. Sangat penting juga bagi anak-anak untuk mendapatkan vaksinasi sebelum terkena penyakit menular.

Melakukan langkah pencegahan penularan virus korona tentunya adalah hal yang penting. Namun, para pakar mengatakan bahwa jika kita menghindari membawa anak ke rumah sakit, hal itu akan menimbulkan risiko penyakit lainnya yang bisa dicegah dan seharusnya tidak terjadi.

Para pakar juga mengungkapkan bahwa jumlah kasus baru akan terus melonjak tiap beberapa bulan. Jika orang tua menahan diri untuk membawa anak-anaknya menjalani pemeriksaan rutin dan vaksinasi tiap kali terjadi lonjakan kasus, hal ini akan menjadi sangat problematik.

Kementerian Kesehatan Jepang menyatakan bahwa sejumlah pemerintah kota telah mengubah cara pelaksanaan pemeriksaan rutin dengan mempertimbangkan situasi penularan di daerahnya. Ada juga vaksinasi yang disediakan di luar periode yang ditetapkan semula agar anak-anak yang melewatkan vaksin bisa mendapatkannya belakangan. Para pakar mengimbau orang tua untuk menghubungi kantor kesehatan masyarakat guna memperoleh informasi ini.

Baik secara individu maupun berkelompok, anak-anak dan orang tua harus melakukan langkah pencegahan penularan virus korona ketika menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau menerima vaksinasi. Mereka harus memastikan tidak ada demam ataupun gejala seperti batuk sebelum keluar rumah.

Mencuci tangan dan mengenakan masker juga harus dilakukan oleh orang dewasa yang mendampingi anak-anaknya. Selain itu, sebisa mungkin hindari mengajak kakak atau adik, serta kakek ataupun nenek.

Para peneliti menyatakan bahwa virus korona bisa dikeluarkan bersama feses. Oleh karena itu, jangan mengganti popok di tempat pemeriksaan kesehatan rutin dan vaksinasi serta di fasilitas-fasilitas medis.

Informasi ini dihimpun berdasarkan data hingga 17 Desember.

Q144: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 5)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang serta Pusat Kesehatan dan Perkembangan Anak Nasional mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian kelima kali ini, pertanyaan dari orang tua adalah “Apakah anak-anak sebaiknya menghindari menjenguk seseorang di rumah sakit?”

Para pakar menyatakan bahwa tiap rumah sakit memiliki pedoman mengenai kunjungan ke rumah sakit agar bisa dipastikan terlebih dahulu. Jika diperbolehkan untuk melakukan kunjungan, suhu tubuh anak harus diukur di rumah. Selain itu, pastikan juga bahwa mereka tidak memperlihatkan gejala, seperti batuk, hidung berair, diare, dan muntah.

Anak-anak juga harus mengikuti langkah-langkah dasar pencegahan penularan seperti mencuci tangan dan mengenakan masker sebelum menjenguk pasien.

Dalam tanya jawab berikutnya, kami akan membahas mengenai kunjungan anak ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan vaksinasi.

Informasi ini dihimpun berdasarkan data hingga 16 Desember.

Q143: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 4)

Kami bertanya pada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang dan Pusat Nasional bagi Kesehatan dan Perkembangan Anak mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian keempat kali ini, pertanyaan dari orang tua adalah “Kapan kita harus segera membawa anak ke dokter saat kita menduga gejala yang dialami anak mungkin diakibatkan oleh virus korona baru?”

Para pakar mengatakan dalam kebanyakan kasus, anak-anak tertular virus korona dari orang tuanya di rumah atau di luar rumah saat mereka melakukan aktivitas kelompok.

Menurut Kementerian Kesehatan, orang-orang yang tinggal sangat dekat dengan seseorang yang kemudian hasil tesnya positif, atau tinggal bersama orang itu dalam waktu yang lama, memiliki kemungkinan besar juga dapat tertular. Mereka disebut kontak dekat. Para pejabat kesehatan publik setempat menyelidiki setiap kasus dan menentukan apakah orang itu memang adalah kontak dekat.

Para pakar mengimbau orang tua untuk menghubungi pusat kesehatan publik setempat terlebih dahulu saat anak mengalami sejumlah gejala atau mungkin telah melakukan kontak jarak dekat dengan seseorang yang terinfeksi.

Mereka mengimbau untuk tidak membawa anak-anak yang diduga terinfeksi itu ke klinik atau perawatan darurat karena anak-anak itu mungkin tidak dapat menjalani tes untuk memastikan infeksi tersebut di tempat-tempat ini.

Bagaimana dan di mana menerima tes PCR berbeda-beda menurut wilayah tempat tinggal, jadi orang-orang diimbau untuk tetap memantau informasi yang diumumkan pusat-pusat kesehatan publik setempat.

Beberapa rumah sakit menetapkan rentang waktu dan pintu masuk terpisah bagi pasien dengan gejala yang menunjukkan mereka mungkin terinfeksi. Ini untuk mencegah pasien lain terpapar virus tersebut. Para pengunjung diimbau untuk mengecek ke rumah sakit sebelumnya.

Saat anak mengalami demam untuk sementara waktu tanpa akibat yang jelas, sulit bernapas, tidak dapat makan atau minum, atau menjadi lemah, terdapat kemungkinan mereka menderita penyakit tertentu, jika bukan COVID-19. Para pakar mengimbau orang tua untuk segera menghubungi spesialis medis.

Informasi ini akurat hingga 15 Desember.

Q142: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 3)

Kami bertanya kepada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang dan Pusat Nasional bagi Kesehatan dan Perkembangan Anak mengenai bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru. Dalam bagian ketiga kali ini, pertanyaan dari orang tua adalah “Apa yang harus diperhatikan secara khusus saat anak memiliki asma atau masalah kesehatan lainnya?”

Para pakar mengatakan bahwa pada umumnya, saat anak-anak memiliki penyakit, mereka dapat mengalami sakit parah akibat infeksi virus pernapasan. Namun, diketahui juga bahwa pasien virus korona yang memiliki asma persentasenya kecil.

Risiko memiliki masalah kesehatan dan cara meresponsnya berbeda, tergantung pada penyakitnya. Jadi, orang-orang diimbau untuk berkonsultasi dengan dokter mereka. Penting juga bagi anggota keluarga dan orang lainnya dengan masalah kesehatan agar berhati-hati dan tidak tertular.

Informasi ini akurat hingga 14 Desember.

Q141: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 2)

Kami bertanya pada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang dan Pusat Nasional bagi Kesehatan dan Perkembangan Anak mengenai cara melindungi anak-anak dari virus korona baru. Dalam bagian kedua kali ini kami menanyakan apakah terdapat kasus anak-anak mengalami sakit parah setelah tertular virus ini.

Para pakar mengatakan terdapat lebih sedikit kasus sakit parah di antara anak-anak dibandingkan orang dewasa. Namun, sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga dapat mengalami masalah pernapasan. Anak-anak berusia kurang dari 2 tahun cenderung mengalami gejala parah dan harus diawasi dengan saksama.

Di Eropa dan Amerika Serikat, terdapat laporan anak-anak berusia sekitar 10 tahun yang mengalami masalah jantung setelah demam selama beberapa hari yang diikuti sakit perut, diare, dan ruam kulit. Sejauh ini hanya sedikit sekali kasus yang dilaporkan di Jepang.

Informasi ini akurat hingga 11 Desember.

Q140: Bagaimana mencegah anak-anak tertular virus korona baru? (Bagian 1)

Kami bertanya pada para pakar di Asosiasi Dokter Anak Jepang dan Pusat Nasional bagi Kesehatan dan Perkembangan Anak mengenai gejala-gejala yang mungkin dialami anak ketika tertular virus.

Para pakar mengatakan mereka mendapati bahwa anak-anak sama rentannya terhadap virus ini seperti juga orang dewasa.

Banyak anak di Jepang tertular virus di rumah. Mereka mengalami gejala demam dan batuk kering. Namun, relatif sedikit anak yang mengalami gejala-gejala terkait saluran pernapasan atas seperti ingus atau hidung tersumbat.

Anak-anak mengalami demam dalam waktu yang lama seperti orang dewasa. Terdapat laporan radang paru di sebagian anak.

Sejumlah anak juga mengalami muntah, sakit perut, diare, dan gejala-gejala lain yang terkait dengan sistem pencernaan.

Hanya sedikit anak yang menderita kehilangan kemampuan mencium atau mengecap, yang sering ditemukan pada orang dewasa.

Namun, orang tua dianjurkan agar tetap waspada atas gangguan-gangguan seperti itu pada anak mereka. Sebagian pasien berusia remaja, yang dapat mengungkapkan keluhan, melaporkan gejala-gejala tersebut.

Para pakar menyatakan sebagian anak yang tertular mungkin tidak menunjukkan gejala. Mereka menganjurkan para orang tua agar memperhatikan anak-anak dengan saksama karena mereka mungkin tidak bisa menjelaskan kondisi sendiri dengan tepat.

Informasi ini akurat hingga 10 Desember.

Q139: Apakah masker berdampak pada perkembangan anak? (Bagian 3)

Seperti yang dibahas dalam dua bagian sebelumnya, memakai masker bukan hanya tidak nyaman karena kita tidak dapat melihat wajah orang yang mengenakannya, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan otak anak.

Profesor Myowa Masako dari Pascasarjana Pendidikan dan Fakultas Pendidikan Universitas Kyoto mengatakan, penggunaan bahasa tubuh sebagai sarana komunikasi bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengatasi masalah ini.

Ia menyarankan agar bentuk ekspresi ketika senang atau sedih bisa lebih diungkapkan secara fisik guna mengganti ekspresi wajah yang tidak terlihat.

Pertumbuhan anak tidak bisa ditunggu. Anggota keluarga harus secara aktif mengungkapkan perasaan mereka dan memastikan untuk menjembatani setiap perbedaan mental dengan seorang anak.

Q138: Apakah masker berdampak pada perkembangan anak? (Bagian 2)

Beberapa pelajar sekolah dasar di Jepang mengalami sejumlah dampak negatif karena memakai masker setiap waktu.

Di salah satu sekolah, dua pelajar kelas satu SD terlibat dalam perkelahian saat jam istirahat. Insiden perkelahian ini bermula saat salah satu dari anak tersebut tanpa sengaja memukul seorang anak lain dengan tangannya. Meski anak tersebut telah meminta maaf, tetapi suaranya terdengar bergumam karena tertutup masker dan permintaan maaf tersebut tidak tersampaikan ke anak lainnya.

Para guru mengatakan bahwa mereka melihat ada lebih banyak masalah terkait komunikasi di antara anak-anak yang mengemuka akhir-akhir ini.

Profesor Myowa Masako dari Pascasarjana Pendidikan dan Fakultas Pendidikan Universitas Kyoto merupakan spesialis perkembangan psikologis dan otak manusia.

Menurutnya anak-anak usia empat hingga 10 tahun tengah mengembangkan kapabilitas otaknya untuk memahami perasaan dan pikiran orang lain atau kemampuan untuk berempati.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak tersebut mengembangkan kemampuan untuk membayangkan apa yang dipikirkan orang lain dan apa yang harus mereka lakukan dengan saling berkomunikasi.

Profesor Myowa mengatakan, normalnya anak-anak mendapatkan banyak pengalaman di sekolah untuk berempati. Ia ingin membahas masalah ini bersama guru-guru tentang apa yang harus dilakukan agar bisa membuat anak-anak mendapatkan pengalaman semacam itu di dalam kelas di tengah situasi saat ini.

Q137: Apakah masker berdampak pada perkembangan anak? (Bagian 1)

Masker kini sudah menjadi bagian yang umum dalam cara kehidupan yang baru. Namun, banyak orang mungkin sulit menebak ekspresi wajah sehingga merasa kurang nyaman. Sudah umum dipahami bahwa penutup wajah tidak hanya mengganggu, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan otak anak-anak.

Banyak perawat anak-anak yang mengenakan masker saat bekerja mengatakan sulit untuk menciptakan hubungan saling percaya karena mereka tidak dapat menunjukkan mulutnya kepada anak-anak. Misalnya, mereka mengatakan bahwa bahkan saat mereka memuji anak-anak dengan mengatakan, “Hebat!”, atau “Pintar”, maksud tersebut tidak tersampaikan.

Profesor Myowa Masako dari Pascasarjana Pendidikan dan Fakultas Pendidikan Universitas Kyoto, adalah spesialis perkembangan otak manusia dan perkembangan psikologis. Menurutnya, orang dewasa harus berhati-hati mengenai cara berinteraksi dengan bayi mulai dari saat dilahirkan, hingga sekitar usia satu tahun.

Pada usia ini, bayi memperhatikan wajah dari orang-orang yang berbeda berikut gerakannya, serta mempelajari ekspresi wajah. Saat melakukannya, mata, hidung, dan mulut merupakan elemen yang penting.

Bayi-bayi jadi dapat mengenali wajah saat adanya tiga elemen wajah ini. Lalu, seiring berjalannya waktu, balita belajar untuk membedakan wajah yang mengekspresikan emosi yang berbeda-beda, seperti misalnya gembira atau marah.

Kemampuan untuk membedakan wajah dan ekspresi ini kemudian membentuk dasar kemampuan memahami perasaan orang lain.

Profesor Myowa mengatakan, cuma orang dewasa yang dapat berkomunikasi hanya dengan menggunakan mata. Dikatakannya, anak-anak menggunakan berbagai informasi dalam ekspresi manusia dan secara bertahap jadi dapat membaca ekspresi dan emosi orang lain. Ia mengatakan sangat mungkin semua pengalaman itu bisa hilang sekaligus dengan penyebaran virus korona.

Profesor Myowa mengatakan, meskipun manusia akan terus mengenakan masker, bayi-bayi harus punya lebih banyak peluang untuk melihat wajah manusia. Ia menganjurkan anggota keluarga untuk mencoba menunjukkan wajahnya lebih banyak daripada sebelumnya kepada bayi mereka di rumah.

Q136: Bagaimana mencegah penularan virus korona di rumah? (Bagian 5)

Kami bertanya kepada Dr. Terashima Takeshi dari Asosiasi Penyakit Menular Jepang mengenai cara mencegah masuknya virus ke kediaman kita.

Dr. Terashima menyampaikan bahwa kuncinya adalah memisahkan tempat tinggal kita menjadi beberapa area sesuai tingkat bahayanya. Ia mengusulkan membagi rumah menjadi tiga bagian. Pertama adalah “area kehati-hatian” yang memiliki risiko tertinggi. Ini termasuk sekitar pintu masuk yang dilewati orang untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian adalah “area bersama” yaitu tempat para anggota keluarga menggunakan bersama perabot dan peralatan rumah tangga. Area selanjutnya adalah “area pribadi” yaitu kamar tidur dan ruangan-ruangan privat.

Kali ini kami akan memfokuskan pada “area pribadi”, yaitu ruangan tempat orang bersantai.

Dr. Terashima mengatakan kita harus menjaga dengan segala cara agar tidak membawa masuk virus ke dalam area ini. Satu objek yang kerap terlupakan adalah telepon selular kita. Ketika berada di luar rumah kita menyentuh telepon selular, maka kita bisa saja membawa virus saat menyentuh layar telepon itu, sehingga akhirnya membawa masuk virus ke kamar tidur kita. Maka itu penting untuk secara teratur membersihkan layar sentuh gawai-gawai yang kita gunakan.

Q135: Bagaimana mencegah penularan virus korona di rumah? (Bagian 4)

Kami bertanya kepada Dr.Terashima Takeshi dari Asosiasi Penyakit Menular Jepang mengenai bagaimana mencegah penularan virus korona ke dalam rumah Anda.

Terashima mengatakan bagaimana membuat “area yang diwaspadai” termasuk lorong masuk agar tetap aman. Kali ini kami akan memfokuskan pada “ruang bersama”, tempat keluarga berbagi dan menggunakan bersama furnitur atau obyek. Ruang bersama itu termasuk kamar kecil dan ruang tamu. Terashima merekomendasikan agar tidak menggunakan barang-barang secara bersama, seperti handuk. Obyek yang digunakan setiap orang seperti sakelar lampu dan alat kendali saluran TV harus dibersihkan dengan disinfektan secara rutin.

Terashima juga menekankan kita dapat mencegah penyebaran virus dengan mengubah car akita duduk dan menyajikan makanan. Ia mengatakan kita harus menghindari duduk berhadapan di meja makan. Jika perlu duduk dengan posisi secara diagonal di sepanjang meja untuk mencegah terlalu dekat satu sama lain. Terashima juga mengimbau agar waspada dengan kebiasaan untuk makan menggunakan piring besar yang sama. Ia mengatakan kebiasaan itu harus dicegah karena berbagi barang seperti menggunakan sumpit yang sama meningkatkan risiko infeksi. Ia merekomendasikan membagi makanan menjadi porsi individu jadi setiap orang dapat makan dari piring mereka sendiri.

Q134: Bagaimana mencegah penularan virus korona di rumah? (Bagian 3)

Kami bertanya kepada Dr. Terashima Takeshi dari Asosiasi Penyakit Menular Jepang mengenai cara agar kita tidak membawa virus korona ke dalam rumah.

Terashima mengatakan bahwa kuncinya adalah membagi rumah menjadi beberapa area berdasarkan tingkat bahaya. Ia menyarankan untuk membuat tiga area. Pertama, “area waspada” dengan risiko paling tinggi yang mencakup lorong masuk yang dilewati orang-orang saat masuk ke rumah. Kedua, “area bersama”, yaitu area yang digunakan bersama oleh anggota keluarga dengan furnitur dan benda-benda yang dipakai bersama. Terakhir, “area pribadi” yang mencakup kamar tidur dan ruang pribadi.

Ketika seseorang masuk ke rumah, ia harus berhenti di pintu masuk, di “area waspada”, menggantungkan jaketnya di dinding, dan membuang masker sekali pakai ke tong sampah. Terashima mengatakan bahwa orang-orang harus melepaskan jaket dan masker, yang mungkin terkontaminasi virus, di pintu masuk. Hindari membawanya masuk ke dalam rumah.

Q133: Bagaimana mencegah penularan virus korona di rumah? (Bagian 2)

Sebelumnya, kami telah membahas tentang lima poin yang perlu diperhatikan jika seseorang di rumah Anda tertular virus korona. Di antara poin-poin itu adalah memisahkan anggota keluarga tersebut di ruangan tersendiri. Namun, terkadang sulit untuk menyediakan satu ruangan penuh bagi satu orang yang terinfeksi jika Anda tinggal di apartemen kecil.

Kami bertanya kepada Nishizuka Itaru, kepala pusat layanan kesehatan publik di Distrik Sumida, Tokyo. Nishizuka mengatakan bahwa kita harus mengusahakan untuk menjaga jarak sekitar satu meter dari orang yang terinfeksi, serta mengurangi kontak jarak dekat dan percakapan tatap muka untuk menghindari percikan ludah atau cairan dari saluran pernapasan antara satu sama lain.

Ia juga menyarankan untuk sering melakukan ventilasi atau pertukaran udara di ruangan dan menggunakan alat pelembap udara jika dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang menghambat penyebaran virus korona di rumah.

Nishizuka menambahkan bahwa kita sebaiknya mendiskusikan terlebih dahulu mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan jika seseorang di antara keluarga dinyatakan positif virus korona. Hal-hal yang perlu dibahas mencakup siapa yang akan menjaga anak-anak jika orang tua terinfeksi dan siapa yang akan merawat anggota keluarga yang sudah lanjut usia jika orang yang merawatnya tertular virus korona.

Q132: Bagaimana mencegah penularan virus korona di rumah? (Bagian 1)

Pada 19 November, saat jumlah infeksi harian baru di Tokyo melonjak di atas 500 untuk pertama kalinya, Gubernur Tokyo Koike Yuriko meminta warga untuk melakukan langkah-langkah menyeluruh di rumah. Ia mengatakan sejak Agustus, sumber utama infeksi berasal dari rumah, dan ketika virus masuk ke sana, sangat sulit untuk mencegah penyebarannya.

Kepala sebuah pusat kesehatan publik di Tokyo mengatakan dalam banyak kasus, orang dewasa yang sering bepergian keluar membawa virus ke rumah dan kemudian menginfeksi anak-anak atau orang lanjut usia.

Para pakar bagi langkah-langkah pencegahan infeksi telah memberikan sejumlah saran mengenai apa yang harus dilakukan jika salah seorang anggota keluarga menunjukkan gejala infeksi.

Mereka mengatakan orang yang sakit harus tinggal di ruangan terpisah jika memungkinkan dan orang itu serta yang merawatnya harus mengenakan masker.

Mereka menyarankan semua orang untuk sering mencuci tangan dan makan dengan piring yang berbeda.

Mereka juga mengatakan penting untuk mendisinfeksi tempat-tempat yang sering disentuh serta sering mengatur ventilasi ruangan.

Q131: Bagaimana mengatur ventilasi ruangan agar tidak kedinginan? (Bagian 2): Apakah perlu dilakukan setiap setengah jam?

Kementerian Kesehatan merekomendasikan agar kita membuka seluruh jendela bagi ventilasi dua kali dalam satu jam. Namun, melakukan hal itu pada saat udara dingin dan bersalju di musim dingin akan membuat tidak nyaman. Profesor Hayashi Motoya memberikan beberapa saran tentang bagaimana melakukan ventilasi udara di dalam ruangan sambil tetap merasa hangat.

“Buka sedikit jendela sambil tetap menyalakan penghangat. Dengan cara ini, ventilasi ruangan tetap terjaga tanpa menyebabkan ruangan menjadi dingin. Selain itu, sejumlah bangunan dilengkapi dengan sistem ventilasi otomatis selama 24 jam. Sistem tersebut melakukan ventilasi udara di dalam bangunan tanpa perlu membuka jendela.”

“Namun, Anda harus ingat bahwa kelembapan ruangan akan turun jika Anda terus membuka jendela. Penting untuk mempertahankan tingkat kelembapan karena virus mudah menular pada kelembapan yang rendah. Masih belum diketahui bagaimana kelembapan memengaruhi aktivitas virus korona baru. Namun, pada umumnya, kelembapan yang rendah melemahkan fungsi selaput lendir pada tenggorokan. Jadi direkomendasikan untuk menggunakan pelembap udara untuk mempertahankan tingkat kelembapan yang pas.”

Q130: Bagaimana mengatur ventilasi ruangan agar tidak kedinginan? (Bagian 1)

Kami bertanya kepada Profesor Hayashi Motoya dari Universitas Hokkaido yang telah menyusun sejumlah usulan metode ventilasi di sebuah organisasi kementerian kesehatan. Ia mengatakan, “Akan terasa sangat dingin jika membiarkan udara dingin dari luar masuk secara langsung ke ruangan seperti ruang kelas di sekolah atau kamar tidur di rumah masing-masing. Namun, ada metode ventilasi sederhana yang terdiri dari dua langkah untuk mencegah situasi tidak nyaman tersebut. Pertama, biarkan udara luar yang dingin dan segar masuk ke ruangan yang tidak digunakan atau lorong-lorong yang mendapatkan aliran udara panas dari seluruh bangunan. Berikutnya, buka jendela dan pintu yang mengarah ke ruangan yang Anda biasa gunakan. Dengan demikian udara hangat akan mengalir ke ruangan ini sehingga Anda dapat melakukan ventilasi di ruangan tanpa kedinginan.

Q129: Mengapa penularan menyebar cepat di  Hokkaido, Jepang utara?

Tateda Kazuhiro, kepala Asosiasi Penyakit Menular Jepang yang juga profesor di Universitas Toho mengatakan, "Terdapat sejumlah alasan peningkatan ini. Orang-orang berada di dalam ruangan akibat cuaca dingin, yang berarti mereka melewatkan lebih banyak waktu dalam keadaan 'Tiga situasi berisiko tinggi', yaitu ruang tertutup, tempat padat, dan situasi kontak dekat. Dengan penularan yang terjadi dalam waktu panjang, mereka juga menurunkan kewaspadaan. Selain itu, kasus-kasus influenza dan selesma akibat virus korona meningkat dengan turunnya suhu, sementara sejumlah penelitian juga mengisyaratkan hal yang sama juga terjadi untuk virus korona baru ini. Hal ini berarti kita harus terus mengingat bahwa penularan akibat virus korona ini lebih mungkin meluas pada musim dingin, dan mengambil langkah-langkah semestinya untuk melindungi diri."

Takeda menambahkan, "Kita juga harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa penularan di daerah-daerah di luar Hokkaido, yang situasinya sekarang tampak mereda, bisa jadi kembali meningkat dengan turunnya suhu. Kita harus ingat untuk menghindari ‘Tiga situasi berisiko tinggi’, dan memastikan kita mencuci tangan dengan baik dan mengenakan masker. Juga penting untuk secara rutin membuka ventilasi ruangan. Namun, saya paham bahwa membuka sering ventilasi ruangan sulit dilakukan di daerah yang sangat dingin. Di daerah-daerah semacam ini, saya harap masyarakat akan melakukan tanggapan secara fleksibel dengan mengambil kombinasi langkah-langkah pencegahan yang berbeda."

Q128: "Saya pernah mendengar banyak orang di Jepang mengunjungi kuil Shinto dan Buddha pada Tahun Baru. Bagaimana mencegah menyebarnya penularan?"

Sebuah panel pakar pemerintah mengenai virus korona membahas langkah-langkah untuk kunjungan ke kuil pada Tahun Baru dalam sebuah pertemuan yang digelar tanggal 12 November. Dalam pertemuan itu, Sekretariat Kabinet mempresentasikan langkah-langkah yang disusunnya berdasarkan rekomendasi para pakar.

Kebijakan itu meminta para pengunjung melakukan langkah dasar pencegahan infeksi seperti mengenakan masker dan membersihkan tangan. Dikatakan harus diambil langkah-langkah agar orang mengetahui status kepadatan antrean di kuil dan mendesak mereka agar mengatur waktu kunjungan. Dikatakan staf harus ditempatkan di kuil untuk menjamin jaga jarak antara para pengunjung. Selain itu para pengunjung harus diminta agar tidak makan dan minum di sekitar kuil tetapi membawa pulang makanan tersebut, serta diminta agar tidak berbicara keras-keras.

Kebijakan itu menyerukan langkah-langkah untuk mencegah terjadinya tempat yang padat, keadaan kontak dekat, dan ruang tertutup di sekitar kuil-kuil. Hal ini termasuk membuat pengunjung menyebar di lebih dari satu stasiun kereta dan memberi tahu mereka status kepadatan di kuil.

Dalam jumpa pers, ketua panel Omi Shigeru mengatakan tidak ada risiko besar berdoa dengan diam di luar ruangan di kuil-kuil. Ia mengatakan masyarakat harus sadar bahwa berkumpul bersama teman dan kerabat sebelum atau setelah kunjungan ke kuil untuk bercakap-cakap, makan atau minum alkohol memiliki risiko yang lebih tinggi. Ia juga meminta agar masyarakat melakukan kunjungan Tahun Baru pada tanggal 4 Januari atau setelahnya jika bisa untuk mencegah kepadatan.

Q127: Apa saja lima situasi berisiko tinggi yang kerap disebut-sebut dalam berita? (Bagian 2)

Panel penasihat pandemi virus korona pemerintah Jepang baru-baru ini memperingatkan lima situasi berisiko tinggi yang kerap memicu klaster penularan.

Kelima situasi itu adalah;

1.  Pertemuan yang melibatkan konsumsi minuman beralkohol.

2.  Makan-makan dan minum-minum yang dihadiri banyak orang dalam waktu yang lama.

3.  Berbincang-bincang tanpa menggunakan masker.

4.  Sejumlah orang tinggal atau berbagi tempat di dalam satu ruangan tertutup.

5.  Mengobrol dan merokok saat istirahat di tempat kerja.

Kali ini kami akan mengulas situasi nomor 4 dan nomor 5.

Terkait sejumlah orang tinggal atau berbagi tempat di dalam satu ruangan tertutup. Hingga saat ini ada beberapa kasus penularan yang diduga terjadi di kamar asrama dan toilet. Hal itu menunjukkan bahwa berbagi tempat di dalam satu ruangan tertutup dalam waktu yang lama menciptakan kondisi yang berisiko tinggi penularan.

Berikutnya mengenai mengobrol dan merokok saat istirahat di tempat kerja. Ada beberapa kasus penularan yang diduga terjadi di area peristirahatan, ruangan merokok, dan ruangan ganti baju. Orang-orang cenderung menjadi lengah saat istirahat atau mengganti suasana sewaktu kerja. Hal itu juga dipandang memicu risiko tinggi penularan.

Panel penasihat pemerintah menyerukan orang-orang untuk mengambil langkah pencegahan saat berkumpul. Sewaktu pertemuan melibatkan minuman beralkohol, panel mendesak pertemuan itu dilakukan dengan jumlah peserta yang sedikit bersama orang-orang yang biasa bertemu dan dalam waktu yang singkat. Selain itu, orang-orang diminta untuk menghindari minum-minum di tengah malam dan tidak minum secara berlebihan.

Tempat duduk harus diatur bagi pertemuan semacam itu. Panel menyarankan orang-orang duduk secara selang-seling satu dengan yang lainnya. Hindari untuk duduk saling berhadapan atau bersampingan.

Panel juga merekomendasikan orang-orang untuk memakai masker saat berbicara, dan berhati-hati saat menggunakan pelindung wajah atau pelindung mulut karena dinilai tidak terlalu efektif mencegah penyebaran penularan.

Ketua panel penasihat pemerintah, Omi Shigeru, mengatakan data yang ada hingga saat ini menunjukkan bahwa kesadaran untuk mengubah perilaku kita adalah sangat penting dalam mencegah penyebaran virus.

Omi menyarankan pemerintah untuk menyebarkan pesan panel ini dalam cara yang mudah untuk dipahami sehingga bisa diterima oleh sebanyak orang mungkin.

Q126: Apa saja lima situasi berisiko tinggi yang kerap disebut-sebut dalam berita? (Bagian 1)

Panel penasihat pandemi virus korona pemerintah Jepang baru-baru ini memperingatkan lima situasi berisiko tinggi yang kerap memicu klaster penularan.

Kelima situasi itu adalah;

1.  Pertemuan yang melibatkan konsumsi minuman beralkohol.

2.  Makan-makan dan minum-minum yang dihadiri banyak orang dalam waktu yang lama.

3.  Berbincang-bincang tanpa menggunakan masker.

4.  Sejumlah orang tinggal atau berbagi tempat di dalam satu ruangan tertutup.

5.  Mengobrol dan merokok saat istirahat di tempat kerja.

Kali ini kami akan mengulas situasi nomor satu hingga nomor tiga.

Pertama, pertemuan yang melibatkan konsumsi minuman beralkohol. Kita cenderung menjadi bersemangat saat minum minuman beralkohol dan berbicara dengan suara lantang.

Ada banyak orang berkumpul menghabiskan waktu yang lama di tempat tertutup dalam pertemuan semacam itu. Selain itu, mereka yang hadir sering berbagi gelas minuman dan sumpit. Kondisi tersebut berisiko tinggi untuk terjadi penularan.

Situasi berikutnya adalah makan-makan dan minum-minum yang dihadiri banyak orang dalam waktu yang lama.

Risiko penularan biasanya tinggi di bar dan kelab malam atau saat orang-orang berpindah dari bar ke bar lainnya di tengah malam dibandingkan menyantap makanan dalam waktu singkat.

Orang-orang juga cenderung berbicara lebih lantang dan melontarkan lebih banyak cipratan ludah sewaktu lebih dari lima orang berkumpul di satu meja.

Berbincang-bincang dalam jarak dekat tanpa menggunakan masker juga meningkatkan risiko penularan melalui cipratan ludah atau cipratan yang berukuran mikro. Orang-orang diminta untuk berhati-hati saat berbincang di dalam mobil atau bus saat bepergian.

Dua situasi lainnya yaitu orang-orang yang tinggal atau berbagi tempat dalam satu ruangan tertutup dan mengobrol serta merokok saat istirahat di tempat kerja akan kami bahas pada sesi berikutnya.

Q123: Mengapa Australia tidak mengalami epidemi ganda musim dingin ini?

Pertanyaan kali ini adalah mengapa Australia tidak mengalami epidemi ganda influenza dan virus korona pada musim dingin tahun ini?

Musim dingin di negara yang berada pada belahan selatan bumi berlangsung dari Juni hingga Agustus. Hingga akhir Mei, pemerintah Australia telah mendapatkan 18 juta dosis vaksin influenza, atau lima juta dosis lebih banyak daripada tahun lalu. Para pejabat menyerukan masyarakat agar mendapatkan vaksinasi guna mencegah layanan kesehatan kewalahan akibat epidemi ganda.

New South Wales, negara bagian tempat Kota Sydney berada, sempat menerapkan kewaspadaan tertinggi terhadap kemungkinan wabah influenza di panti-panti jompo. Fasilitas tersebut mengharuskan para staf dan pengunjung, seperti misalnya anggota keluarga, untuk divaksinasi.

Melalui upaya-upaya seperti itu, Australia tidak melaporkan adanya kematian akibat influenza mulai Mei hingga 20 September. Terjadi 36 kematian akibat influenza mulai dari awal tahun hingga 20 September, atau 5,1 persen dari jumlah periode yang sama tahun lalu.

Dokter Jeremy McAnulty dari Badan Kesehatan New South Wales mengatakan, vaksinasi terhadap influenza di musim dingin ini banyak dilakukan, karena terdapat kekhawatiran mengenai epidemi ganda. Ia juga meyakini bahwa hal itu merupakan salah satu faktor pendorongnya.

Ia menyarankan bahwa langkah-langkah untuk mencegah penularan virus korona, seperti misalnya jaga jarak fisik, pembatasan terhadap kegiatan berskala besar, serta kesadaran akan mencuci tangan dan mendisinfeksi, adalah amat penting dalam menekan penyebaran influenza.

Q122: Bagaimana institusi medis Jepang menangani kemungkinan terjadinya dua wabah bersamaan yaitu virus korona dan influenza?

COVID-19 dan influenza musiman memiliki gejala yang sama, seperti demam dan batuk. Jadi timbul kekhawatiran bahwa klinik-klinik daerah dapat mengalami kesulitan dalam menangani pasien jika terjadi wabah ganda. Guna membantu klinik bersiap bagi kemungkinan wabah yang pecah bersamaan, Asosiasi Penyakit Menular Jepang telah menyusun panduan mengenai diagnosis kedua penyakit tersebut.

Panduan tersebut menyarankan agar pada area di mana terdapat wabah virus korona, secara prinsipnya para pasien harus dites baik bagi virus influenza maupun virus korona. Tujuannya agar tidak terjadi kealpaan mendeteksi adanya kasus COVID-19.

Panduan tersebut menawarkan anjuran yang didasarkan pada skala empat level, guna mengukur situasi penularan di area tersebut. Dikatakan bahwa pada level satu, saat tidak ada kasus virus korona dilaporkan di provinsi tersebut, uji bagi virus pada dasarnya tidak diperlukan, kecuali bagi mereka yang telah mengunjungi area yang mengalami penularan dalam dua pekan terakhir.

Panduan tersebut mengatakan bahwa pada level empat, ketika kasus virus korona yang tak terlacak telah dilaporkan di kawasan setempat dalam dua pekan terakhir, maka tes virus korona dianjurkan bagi semua pasien yang mengalami demam.

Terkait anak-anak, panduan itu sangat menyarankan anak-anak diberikan vaksinasi terhadap influenza di musim dingin mendatang, karena anak-anak rentan tertular dan menyebarkan virus tersebut. Panduan itu juga mengatakan, penting bagi anak-anak untuk menjalani pemeriksaan atau tes influenza maupun virus korona secara bersamaan. Namun dikatakan, saat tes virus korona tidak dapat segera dilakukan, pasien dapat menjalani tes dan pengobatan untuk influenza terlebih dahulu dan sekitar dua hari kemudian jika kondisinya tidak membaik maka dapat melakukan tes virus korona.

Asosiasi itu mengatakan pihaknya ingin agar para dokter di penjuru Jepang untuk memanfaatkan panduan ini guna menghadapi musim dingin mendatang. Dikatakan, panduan ini akan diperbarui saat informasi terbaru didapat.

Q121: Bagaimana perbedaan vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan institusi lain dengan vaksin untuk influenza

Pengembangan vaksin untuk sejumlah virus yang menyebabkan infeksi pada sistem pernapasan disebutkan sulit dilakukan. Vaksin influenza diyakini satu-satunya vaksin seperti itu yang telah digunakan. Sumber-sumber termasuk Kementerian Kesehatan menyebutkan vaksin flu tidak dapat melindungi kita dari infeksi. namun, vaksin itu diharapkan dapat mengurangi risiko mengalami gejala dalam tingkat tertentu, atau jika gejala telah muncul, vaksin itu diyakini dapat mencegah kondisi yang berat.

Sejumlah studi di Jepang melaporkan bahwa pada orang yang berusia 65 tahun atau lebih, vaksin flu efektif dalam mencegah gejala sebanyak 34 hingga 54 persen dan 82 persen mencegah kematian. Beberapa studi juga melaporkan temuan sekitar 60 persen, vaksin pada anak-anak yang berusia kurang dari 6 tahun dapat mencegah risiko mengalami gejala.

Di sisi lain, dalam banyak kasus, pengembangan vaksin virus korona memakai teknologi yang sangat berbeda dengan yang digunakan untuk vaksin influenza konvensional. Kita belum mengetahui seberapa efektif yang dapat kita harapkan dari vaksin-vaksin baru tersebut.

Vaksin flu terbuat dari virus sungguhan. Virus tersebut dikultur dan dilemahkan dengan menggunakan bahan kimia jadi tidak dapat menyebabkan infeksi. Vaksin tersebut dikembangkan oleh Pfizer menggunakan gen yang disebut mRNA, yang mengandung informasi mengenai virus korona baru. Begitu berada di dalam tubuh, itu bekerja seperti cetak biru dalam memproduksi bagian virus tersebut yang memicu sistem kekebalan.

Profesor Nakayama Tetsuo dari Universitas Kitasato yang ahli dalam pengembangan vaksin, mengatakan dalam vaksin Pfizer, mRNA telah dikemas dalam partikel lipid yang dapat meningkatkan produksi antibodi.

Q120: Apa risiko penularan yang dihadapi perempuan hamil?

Studi yang dilakukan hingga akhir Juni oleh Asosiasi Obstetri dan Ginekolog Jepang, yang terdiri dari para dokter di bidang tersebut, menunjukkan bahwa presentase perempuan hamil yang terinfeksi virus korona dan mengalami sakit parah pada masa kehamilan lanjut jumlahnya meningkat. Dokter mengatakan meski risiko bagi perempuan hamil untuk mengalami kondisi yang parah tidak meningkat secara drastis, tetapi bagi mereka yang dalam masa kehamilan lanjut harus hati-hati.

Asosiasi itu memantau 58 perempuan hamil yang mengalami gejala seperti demam. Pemindaian dengan teknologi tomografi terkomputerisasi atau CT scan menunjukkan mereka mengalami pneumonia. Asosiasi itu menemukan bahwa 39 perempuan yang hamil kurang dari 29 minggu, empat orang terdiagnosa dengan pneumonia atau 10 persen secara total.

Jumlah ini dibandingkan dengan 19 perempuan yang usia kehamilannya 29 minggu atau lebih. Sepuluh orang ditemukan mengalami pneumonia atau total 53 persen.

Sebagai tambahan, tiga dari perempuan dengan usia kehamilan kurang dari 29 minggu mendapatkan terapi oksigen atau total 8 persen. Ini dibandingkan dengan 7 orang dengan masa kehamilan lanjut yang menerima terapi ini atau total 37 persen. Data itu menunjukkan bahwa mereka dengan masa kehamilan lanjut cenderung mengalami kondisi yang memburuk.

Banyak perempuan hamil yang tertular virus korona pulih tanpa mengalami gejala yang lama. Asosiasi itu menyebutkan seorang turis asing meninggal setelah mengalami gejala sesaat setelah tiba di Jepang. Namun, tidak ada laporan bayinya yang baru lahir mengalami infeksi.

Profesor Sekizawa Akihiko dari Universitas Showa, yang bertanggung jawab terhadap survei tersebut, mengatakan sedikit perempuan hamil yang terinfeksi virus korona menunjukkan banyak yang berhasil menjalani langkah-langkah pencegahan. Ia mengatakan hasil survei menunjukkan bahwa perempuan hamil tidak menghadapi risiko paling tinggi untuk mengalami kondisi yang parah, tetapi ia menambahkan mereka harus hati-hati karena perempuan yang sudah mendekati masa melahirkan cenderung mengalami gejala yang serius.

Asosiasi Penyakit Menular di Obstetri dan Ginekologi telah mengunggah informasi mengenai cara pencegahan virus korona bagi perempuan hamil dan yang ingin memiliki anak dalam situs webnya.

Menurut situs web tersebut, di Jepang perkembangan penyakit setelah penularan tidak berbeda antara perempuan yang hamil dan yang tidak. Meski begitu, asosiasi itu menyebutkan ada sejumlah kasus perempuan hamil menunjukkan gejala yang serius dan mengalami pneumonia.

Satoshi Hayakawa, profesor di Departemen Kedokteran Universitas Nihon yang menyusun poin-poin penting dalam survei tersebut mengatakan paru-paru perempuan dengan masa kehamilan lanjut cenderung tertekan karena pertumbuhan janin. Jika mereka mengalami pneumonia gejalanya dapat menjadi parah. Hayakawa mengatakan hasil survei tersebut menyokong antisipasi yang telah dilakukan. Ia menambahkan di Jepang ada beberapa kasus perempuan hamil menjadi sakit parah dan itu tak perlu sangat ditakuti. Hayakawa menambahkan, bagaimanapun, perawatan itu harus dilakukan untuk mencegah penularan virus tersebut.

Q119: Apakah pasien virus korona menderita gejala yang berkepanjangan? (Bagian 3): Seberapa sering gejala berkepanjangan terjadi?

Kasus-kasus mengenai gejala berkepanjangan yang terjadi selama berbulan-bulan telah dilaporkan di Jepang dan seluruh dunia setelah pasien dinyatakan negatif virus korona dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Banyak orang yang menyebutkan mengalami demam, merasa lelah, atau mengalami penurunan fungsi pernapasan atau pergerakan hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

NHK mengadakan survei mengenai kondisi pasien virus korona setelah selesai menjalani perawatan di institusi-institusi medis yang ditunjuk untuk menangani penyakit menular serta rumah-rumah sakit universitas di Tokyo. Sebanyak 18 dari 46 institusi tersebut, selain rumah sakit yang belum menerima pasien virus korona, memberikan jawaban.

Dikatakan bahwa hingga akhir Mei, 1.370 orang telah dinyatakan negatif virus korona dan diperbolehkan pulang atau pindah ke rumah sakit lain setelah gejalanya membaik. Setidaknya 98 orang mengalami masalah yang menyulitkan kehidupan sehari-hari mereka. Jumlah ini adalah sekitar 7 persen dari orang-orang yang telah keluar dari rumah sakit.

Sebanyak 47 orang mengalami penurunan fungsi pernapasan akibat efek jangka panjang pneumonia dan penyebab lainnya dari virus korona. Enam orang memerlukan alat untuk menghirup oksigen di rumah.

Sementara itu, 46 orang kehilangan kekuatan otot atau merasakan fungsi pergerakan yang lebih lemah karena dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Sebanyak 27 orang mengalami penurunan kemampuan kognitif karena usia lanjut atau faktor lainnya. Sejumlah responden survei melaporkan bahwa sebagian orang mengalami penciuman yang tidak normal serta disfungsi otak yang lebih besar.

Banyak di antara mereka yang mengalami gejala berkepanjangan ini telah menjalani perawatan dengan ventilator atau mesin ECMO untuk membantu fungsi pernapasan dan kardiovaskularnya.

Satu responden menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, bahkan pasien yang telah dinyatakan negatif virus korona membutuhkan perawatan dengan tingkat lebih tinggi. Rawat inap semacam itu bisa menyebabkan pelayanan kesehatan kewalahan. Fasilitas kesehatan itu mengungkapkan bahwa diperlukan strategi untuk keluar dari kondisi tersebut dengan memperhitungkan isu orang-orang lansia.

Responden lainnya menyatakan bahwa mereka perlu meningkatkan kesadaran mengenai berbagai masalah yang berlanjut setelah pasien keluar dari rumah sakit dan memperluas jaringan dukungan.

Q118: Apakah pasien virus korona menderita gejala yang berkepanjangan? (Bagian 2): Mengenai riset yang diadakan di Jepang atas gejala berkepanjangan setelah pulih dari COVID-19.

Terdapat sejumlah laporan, baik di Jepang maupun di luar negeri, mengenai kasus pasien virus korona yang mengalami demam dan kelelahan selama beberapa bulan, serta kesulitan bernapas dan penurunan fungsi tubuh yang berdampak kepada kehidupan sehari-hari setelah dinyatakan negatif virus korona dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Asosiasi Pernapasan Jepang mulai memeriksa dan mengadakan riset sejak September lalu, terutama mengenai penurunan fungsi paru-paru pada pasien virus korona. Asosiasi tersebut meminta para dokter yang bekerja di fasilitas-fasilitas medis di seluruh Jepang untuk melaporkan kasus-kasus yang ditangani.

Ketua asosiasi tersebut, Yokoyama Akihito, mengatakan bahwa terdapat banyak laporan di luar negeri mengenai pasien dengan fungsi paru-paru yang belum pulih total, bahkan setelah dinyatakan negatif virus korona. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah laporan serupa juga ditemukan di Jepang.

Asosiasi itu belum memahami sepenuhnya situasi seperti persentase orang-orang yang terinfeksi virus korona yang mengalami gejala berkepanjangan. Namun, asosiasi tersebut tengah mengumpulkan data untuk mempelajarinya dan menerapkan apa yang ditemukan dalam penanganan kasus-kasus di masa mendatang.

Q117: Apakah pasien virus korona menderita gejala yang berkepanjangan? (Bagian 1): Apakah beberapa orang menderita gejala yang berkepanjangan, bahkan setelah pulih dari COVID-19?

Sebuah tim peneliti di Pusat Kesehatan dan Obat-obatan Global Nasional melakukan survei lanjutan terhadap pasien virus korona yang telah pulih dan diizinkan pulang dari rumah sakit. Tim itu menemukan bahwa sejumlah orang mengalami rambut rontok. Beberapa di antara pasien juga mengeluhkan napas pendek dan kehilangan indera perasa atau penciuman, bahkan setelah empat bulan. Para peneliti tersebut mengatakan akan terus melanjutkan riset mereka sebagai upaya mencari tahu faktor risiko gejala berkepanjangan.

Kerontokan rambut juga dilaporkan di antara para pasien yang selamat dari Ebola dan demam berdarah. Dokter Morioka Shinichiro, yang merupakan salah satu anggota tim tersebut, mengatakan bahwa kerontokan rambut kemungkinan dipicu oleh stres psikologis akibat pengobatan yang berkepanjangan.

Q116: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 8): Langkah-langkah penanganan infeksi ulang.

Berbagai upaya tengah dilakukan di seluruh tingkatan untuk membuat vaksin tersedia dalam waktu dekat. Namun, para pakar memperingatkan agar kita tidak lengah. Mereka mengimbau agar terus menerapkan langkah-langkah dasar, termasuk mencuci tangan secara menyeluruh, menghindari tempat ramai, kontak jarak dekat dan ruang tertutup, serta menjaga jarak.

Wartawan NHK yang meliput tentang virus korona mengatakan masih ada banyak hal yang tidak diketahui mengenai virus tersebut. Mereka menyebutkan kita harus tetap memantau perkembangan dalam berbagai penelitian. Namun, mereka tetap menekankan bahwa yang terpenting adalah menjalankan langkah-langkah dasar secara menyeluruh.

Q115: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 7): Bagaimana sebaiknya menangani virus yang sulit ditangani dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir ini?

Matsuura Yoshiharu, profesor di Universitas Osaka dan ketua Asosiasi Virologi Jepang mengatakan kita harus bertindak dengan anggapan bahwa penularan kembali mungkin sama seperti virus korona pada umumnya yang menyebabkan selesma dan infeksi ulang.

Profesor Matsuura menyebutkan bahwa virus yang tidak menyebabkan penularan kembali bahkan lebih jarang. Ia juga mengatakan virus tidak dapat bertahan jika virus tersebut membunuh inangnya. Dalam sejarah panjang antara manusia dan virus, tampak sebuah pola yaitu dengan terinfeksi kembali, gejalanya menjadi semakin ringan. Profesor Matsuura mengatakan kita tidak perlu takut terhadap virus tersebut secara berlebihan.

Q114: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 6): Satu jenis vaksin lain yang menjanjikan

Kami bertanya kepada Profesor Sasaki Hitoshi dari Universitas Nagasaki, yang tengah mengembangkan vaksin yang memicu produksi antibodi di selaput lendir paru-paru. Saat virus menempel ke selaput lendir paru-paru, virus dapat menyebabkan radang paru. Vaksin ini bertujuan mencegah infeksi virus di titik masuknya.

Vaksin ini dibuat dari partikel-partikel sangat kecil RNA virus korona baru yang disintesis secara buatan. Vaksin dihirup dari mulut sehingga langsung bersentuhan dengan selaput lendir paru. Para peneliti yakin vaksin ini dapat cukup efektif karena memicu produksi antibodi di titik tempat virus bekerja.

Q113: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 5): Apakah ada vaksin lain yang efektif?

Banyak vaksin dirancang untuk menciptakan antibodi di dalam darah. Namun, penelitian dan pengembangan juga tengah berlangsung untuk vaksin-vaksin yang membantu tubuh mencegah infeksi.

Profesor Katayama Kazuhiko dari Universitas Kitasato tengah mengerjakan sebuah vaksin semprot hidung jenis baru. Dengan memberikan inokulasi di hidung, ia yakin antibodi dapat dibuat di saluran pernapasan atas dan virus dapat ditahan di pintu masuk ke tubuh. Ia mengatakan berniat untuk melanjutkan penelitian selama beberapa tahun mendatang.

Profesor Katayama mengatakan jika antibodi imunoglobulin A dapat dibuat di selaput lendir di hidung, penularan dapat dihentikan sebelum virus itu bertambah menjadi jumlah yang besar, jadi virus dapat dicegah sampai ke paru-paru.

Q111: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 3): Apakah kita bisa melakukan pencegahan agar tidak tertular lagi?

Kami bertanya kepada Profesor Katayama Kazuhiko dari Universitas Kitasato. Ia mengatakan sulit untuk mencegah penularan kembali.

Virus korona memasuki tubuh kita melalui selaput lendir saluran pernapasan atas, yaitu hidung dan tenggorokan. Kemudian, antibodi yang disebut imunoglobulin A atau IgA terbentuk di lendir guna menangkal kedatangan virus.

Katayama mengatakan, namun, tingkat IgA cenderung menurun dalam periode waktu yang relatif singkat setelah seseorang terinfeksi dan memproduksi antibodi. Katayama mengatakan karena itu kita memiliki sedikit peluang untuk mencegah penularan virus korona untuk kedua kalinya.

Katayama berencana meluncurkan sebuah proyek riset guna mengetahui seberapa banyak produksi IgA di saluran pernapasan atas dari seorang pasien yang tertular dan seberapa lama antibodi itu bertahan. Proyek ini bisa memberi petunjuk atas pertanyaan seberapa sering penularan kembali terjadi.

Q112: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 4): Apakah vaksin berfungsi?

Kali ini, kami akan mengulas tentang hubungan antara kasus penularan kembali dan efektivitas vaksin yang saat ini tengah dalam pengembangan.

Penting untuk memeriksa penularan kembali karena hal itu bisa memengaruhi pengembangan vaksin. Vaksin ditujukan untuk membentuk kekebalan tubuh dari penyakit menular dengan menyuntikkan virus yang dilemahkan dan merangsang tubuh untuk memproduksi antibodi. Namun, ada pertanyaan terkait efektivitas vaksin jika seseorang yang sudah terinfeksi dan telah memproduksi antibodi tertular kembali.

Profesor Nakayama Tetsuo seorang ahli virus dari Universitas Kitasato memperingatkan orang-orang untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa vaksin tidak berfungsi hanya karena ada orang-orang yang tertular kembali. Nakayama mengatakan, meski penularan kembali memungkinkan terjadi bahkan setelah vaksin dikembangkan dan disuntikkan, namun mendapatkan vaksinasi tetap ada manfaatnya.

Nakayama menegaskan bahwa vaksinasi bukan hanya ditujukan untuk mencegah penularan secara sempurna, tetapi juga sebagai antisipasi atas dampak lain termasuk mencegah pasien mengalami gejala yang serius.

Q110: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 2): Apakah gejala infeksi ulang bersifat ringan?

Dikatakan dalam banyak kasus penularan virus, selain yang disebabkan oleh virus korona, ketika tertular kembali memiliki gelaja ringan atau tidak ada gejala sama sekali.

Ambil contoh virus respiratory syncytial virus (RSV), yang menimbulkan gejala seperti selesma, tapi dapat lebih merusak ketika terjadi pada anak-anak kecil, yang dalam sejumlah kasus mengakibatkan radang paru-paru dan penyakit yang parah.

Profesor Nakayama Tetsuo, pakar virologi dari Universitas Kitasato, telah mempelajari antibodi 91 anak-anak yang tertular oleh RSV. Tubuh manusia menciptakan antibodi saat infeksi virus terjadi, guna mencoba memusnahkan unsur asing tersebut. Diyakini bahwa ketika sejumlah cukup antibodi telah terbentuk, infeksi dapat dicegah.

Studi tersebut menemukan bahwa ketika anak berusia satu tahun tertular, hanya sejumlah kecil antibodi terbentuk. Ditemukan bahwa jumlah antibodi meningkat setelah beberapa kali infeksi.

Studi itu menunjukkan bahwa seiring jumlah antibodi di dalam tubuh meningkat, gejalanya menjadi lebih ringan. Dalam banyak kasus, orang yang tertular hanya mengalami ingusan.

Tetapi dalam kasus demam Dengue, penularan kedua dapat mengakibatkan gejala yang lebih parah. Demam dengue merupakan penyakit yang dibawa oleh nyamuk yang dapat mengakibatkan demam tinggi serta sakit kepala yang hebat.

Lalu bagaimana dengan virus korona? Profesor Nakayama mengatakan terdapat kemungkinan bahwa sejumlah orang tidak menunjukkan gejala dan tidak sadar bahwa mereka telah terinfeksi lagi virus korona. Profesor Nakayama menambahkan, situasinya harus diamati secara cermat karena gejala infeksi ulang masih belum jelas.

Q109: Mengenai ‘infeksi ulang’ (Bagian 1): Apakah ‘terinfeksi kembali’ benar-benar terjadi?

Kali ini, kami memulai serial baru mengenai orang-orang yang telah terinfeksi, pulih, namun kemudian terinfeksi kembali. Kasus-kasus infeksi ulang telah dilaporkan di seluruh dunia. Banyak orang mungkin bertanya-tanya, apakah hal ini benar-benar terjadi, atau apakah vaksin bisa menanganinya. Dalam bagian pertama serial ini, mari kita amati sekilas mengenai kasusnya.

Para peneliti di Universitas Hong Kong adalah yang pertama yang melaporkan infeksi ulang pada Agustus. Mereka mengatakan telah memastikan bahwa seorang pria berusia 33 tahun pertama kali tertular pada akhir Maret dan kemudian pulih, namun ia kembali tertular virus tersebut untuk kedua kalinya, lebih dari empat bulan kemudian.

Para peneliti tersebut mengatakan urutan gen virus yang terdeteksi dalam dua penularan itu sebagian berbeda, maka dari itu ini adalah infeksi ulang yang terbukti secara ilmiah pertama di dunia.

Setelah laporan yang dibuat oleh para peneliti Universitas Hong Kong itu, sejumlah kelompok di Amerika Serikat (AS), India, dan lain-lain mengeluarkan pengumuman yang serupa.

Jurnal ilmiah “Nature” telah menerbitkan artikel mengenai infeksi ulang, juga penyelidikan terhadap kasus-kasus tersebut kini bertambah.

Kami menanyakan pendapat dari pakar virologi Universitas Kitasato, Profesor Nakayama Tetsuo, mengenai apakah orang dapat benar-benar kembali terinfeksi virus korona baru.

Ia mengatakan, seperti berbagai virus lainnya, infeksi ulang dapat terjadi, karena itu orang bisa kembali terinfeksi virus korona baru juga.

Q108: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Eat’ (Bagian 4)

Kali ini, kami akan melanjutkan serial tentang kampanye Go To Eat yang dilakukan pemerintah Jepang untuk mendorong orang-orang untuk makan di luar dan mendukung industri restoran. Sejak 1 Oktober orang-orang yang makan di luar dapat memperoleh poin ketika melalukan reservasi melalui situs web pemesanan. Pertanyaan kali ini adalah “Meski menyenangkan untuk makan di luar dengan mendapatkan diskon, apakah kita harus mengkhawatirkan mengenai infeksi?”

Restoran dan tempat makan lainnya yang ambil bagian dalam kampanye ini disyaratkan untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan.

Sebagai contoh, langkah-langkah tersebut adalah menaruh cairan untuk mencuci tangan di pintu masuk dan toilet.

Di area dalam ruang harus berventilasi secara menyeluruh dengan memasang peralatan yang layak, membuka pintu dan jendela secara rutin serta menyalakan kipas extractor.

Meja dan kursi harus diletakkan setidaknya berjarak satu meter, jika memungkinkan dua meter. Jika tidak harus dipasang panel aklirik atau pembatas sejenis di antara meja. Kursi konter harus diatur agar jarak antar pengunjung cukup.

Jika ada yang duduk satu meja, mereka tidak seharusnya duduk saling berhadapan. Jika tidak, pembatas harus dipasang di meja.

Para pejabat Kementerian Pertanian melakukan pemeriksaan di lokasi untuk melihat apakah langkah-langkah tersebut dilakukan secara tepat. Para pejabat itu mengatakan para pelanggar dapat dikeluarkan dari kampanye tersebut. Jika terjadi peyebaran infeksi, skema tersebut akan dibatalkan oleh provinsi.

Q107: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Eat’ (Bagian 3)

Kali ini kami akan menyajikan bagian ketiga tentang serial kampanye Go To Eat yang diselenggarakan pemerintah untuk mendorong orang untuk makan di restoran dan mendukung industri restoran.
 
Sejak 1 Oktober lalu, orang yang makan di restoran dapat memperoleh poin ketika melakukan reservasi melalui situs web. Pertanyaan kali ini adalah “Bagaimana cara kerja sistem kupon makan ini?”

Dalam kampanye tersebut pada awalnya 33 dari 47 provinsi memutuskan untuk menerbitkan kupon makan tersebut. Namun, pada 1 Oktober 14 provinsi lainnya juga memutuskan untuk membuat kupon makan, sehingga seluruh provinsi ikut serta.

Provinsi Niigata memulai penerbitan kupon makan ini pada 5 Oktober, diikuti oleh Provinsi Yamanashi pada 12 Oktober dan Provinsi Osaka pada 14 Oktober. Sebagian besar provinsi akan memulainya pada November.

Penerbitan kupon makan oleh masing-masing provinsi itu dapat digunakan di rumah makan yang terdaftar. Kupon makan itu dapat dibeli di warung serba ada atau mini market dan fasilitas lainnya, tergantung dari daerah masing-masing, juga secara daring. Kupon tersebut memiliki nilai 25 persen lebih banyak dibandingkan harga jualnya. Sebagai contoh, sebuah kupon senilai 12.500 yen dapat dibeli seharga 10.000 yen.

Harus diperhatikan karena sejumlah provinsi menerbitkan kupon makan ini hanya untuk para penduduknya.

Informasi ini akurat hingga 16 Oktober.

Q106: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Eat’ (Bagian 2)

Kali ini kami akan menyajikan bagian kedua tentang serial kampanye Go To Eat yang diselenggarakan pemerintah untuk mendorong orang untuk makan di restoran dan mendukung industri restoran.

Pertanyaan kali ini adalah, “Bagaimana melakukan reservasi melalui internet?” dan “Kapan serta bagaimana caranya mendapatkan poin?”

Mulai 1 Oktober, para pelanggan bisa memperoleh poin ketika melakukan reservasi melalui situs-situs web pemesanan. Untuk mendapatkan poin, reservasi harus dilakukan atas restoran yang ikut dalam program Go To Eat. Poin tersebut akan diberikan sekitar satu pekan setelah pelanggan makan di restoran yang dipesannya. Poin yang didapatkan adalah senilai 500 yen (sekitar 4,7 dolar) per orang untuk makan siang, dan 1.000 yen (sekitar 9,4 dolar) untuk makan malam. Poin ini kemudian bisa digunakan ketika melakukan reservasi melalui situs web pemesanan yang sama.

Jumlah maksimum dalam satu kali reservasi adalah untuk sepuluh orang. Poin yang diperoleh sama dengan jumlah reservasi dan akan diberikan kepada orang yang melakukan pemesanan. Poin ini bisa didapat berkali-kali hingga akhir Januari 2021. Perlu diperhatikan bahwa tenggat waktu penggunaan poin yang diperoleh adalah akhir Maret 2021.

Q105: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Eat’ (Bagian 1)

Topik kali ini adalah mengenai kampanye Go To Eat pemerintah Jepang yang dirancang untuk mendorong orang-orang agar makan di luar dan mendukung industri restoran.

Mulai 1 Oktober, para pelanggan bisa mendapatkan poin ketika melakukan reservasi melalui situs-situs web pemesanan. Kali ini kami akan membahas garis besar program tersebut.

Terdapat dua bagian dalam kampanye Go To Eat. Yang pertama adalah mendapatkan poin ketika melakukan reservasi melalui internet. Saat reservasi dilakukan melalui situs-situs web yang ditentukan, para pelanggan akan memperoleh poin yang bisa mereka gunakan untuk makan berikutnya.

Bagian yang kedua adalah terlebih dahulu membeli kupon yang dikeluarkan oleh provinsi yang bersangkutan. Sejumlah provinsi membatasi penjualan kupon ini kepada warganya.

Q104: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Travel’ (Bagian 5)

Go To Travel, inisiatif pemerintah untuk mendorong pariwisata, adalah bagian dari kampanye untuk mendongkrak konsumsi dan perekonomian Jepang yang terdampak parah akibat pandemi virus korona. Kami menghadirkan serial mengenai bagaimana memanfaatkan inisiatif ini. Pertanyaan kali ini adalah, “Apa ada biaya pembatalan bagi kampanye Go To Travel untuk mendorong pariwisata jika penularan kembali menyebar?”

Jika kawasan tertentu mengalami kenaikan jumlah penularan, pemerintah berencana berkonsultasi dengan para pakar dan mempertimbangkan untuk mengeluarkan wilayah tersebut dari kampanye ini.

Para pejabat mengatakan dalam kasus seperti itu, akan diberikan pertimbangan agar tidak dikenakan biaya pembatalan. Sejumlah usaha akan diimbau untuk tidak mengenakan biaya tersebut dan pemerintah akan memberikan kompensasi untuk segala kerugian dengan menggunakan dana bagi skema ini.

Misalnya, jika hotel atau fasilitas penginapan lainnya sudah mengeluarkan biaya untuk membeli makanan, atau jika agen perjalanan telah membayar biaya jasa pemesanan tiket pesawat, fasilitas tersebut akan mendapat pengembalian dengan jumlah yang sama.

Q103: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Travel’ (Bagian 4)

Go To Travel, inisiatif pemerintah untuk mendorong pariwisata, adalah bagian dari kampanye untuk mendongkrak konsumsi dan perekonomian Jepang yang terdampak parah akibat pandemi virus korona. Kami menghadirkan serial mengenai bagaimana memanfaatkan inisiatif ini.

Tokyo dimasukkan dalam inisiatif "Go To Travel" untuk menggairahkan pariwisata mulai 1 Oktober.

Hasil penghitungan menunjukkan bahwa dengan memasukkan Tokyo akan meningkatkan belanja pribadi sebanyak sekitar 770 miliar yen, atau sekitar 7,3 miliar dolar. Sekitar 14 juta warga Tokyo yang mencakup lebih dari 10 persen total populasi Jepang, mungkin akan mengunjungi tempat-tempat wisata di seluruh Jepang.

Tahun lalu, sebanyak 49,63 juta orang, tidak termasuk wisatawan asing, menginap di hotel-hotel dan akomodasi lainnya di Tokyo. Jumlah ini mencakup 10 persen dari seluruh penyewa di Jepang. Jumlah pengunjung ke ibu kota ini diperkirakan akan meningkat.

Jika jumlah turis meningkat, diperkirakan akan ada lebih banyak orang, tidak hanya di hotel dan fasilitas wisata, tetapi juga di restoran. Mereka juga akan menggunakan transportasi.

Institut Penelitian Nomura memperkirakan dimasukkannya Tokyo ke dalam kampanye Go To Travel akan menaikkan belanja pribadi sebanyak sekitar 7,3 miliar dolar. Jumlah ini sekitar 17,8 persen dari 4,3 triliun yen atau sekitar 40 miliar dolar yang menjadi target kenaikan belanja pribadi dalam seluruh kampanye tersebut.

Q102: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Travel’ (Bagian 3)

Go To Travel, inisiatif pemerintah untuk mendorong pariwisata, adalah bagian dari kampanye untuk mendongkrak konsumsi dan perekonomian Jepang yang terdampak parah akibat pandemi virus korona. Kami menghadirkan serial mengenai bagaimana memanfaatkan inisiatif ini. Kali ini, kami akan jelaskan bagaimana dapat memperoleh kupon perjalanan yang dapat digunakan di toko dan fasilitas lainnya.

Pelancong yang membeli paket wisata di sebuah agen bisa mendapatkan kertas kupon di konter.

Orang-orang yang memesan akomodasi atau paket wisata secara daring dapat menerima kertas kupon di hotel tempat menginap, atau mendapat kupon elektronik dengan mengakses tautan yang diberikan saat mengonfirmasi pesanan atau mengisi formulir di situs web.

Jika Anda memesan penginapan atau hotel, Anda bisa mendapat kertas kupon saat melapor di fasilitas itu.

Jenis kupon serta bagaimana kupon itu diterbitkan mungkin berbeda-beda tergantung agen wisata. Harap pastikan saat melakukan pesanan.

Q101: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Travel’ (Bagian 2)

Go To Travel, inisiatif pemerintah untuk mendorong pariwisata, adalah bagian dari kampanye untuk mendongkrak konsumsi dan perekonomian Jepang yang terdampak parah akibat pandemi virus korona. Kami menghadirkan serial mengenai bagaimana memanfaatkan inisiatif ini. Kali ini,  Kami akan menjelaskan mengenai kupon kampanye yang didapatkan pengguna yang dapat digunakan di toko-toko dan fasilitas lainnya.

Mulai tanggal 1 Oktober, para pelancong dapat menggunakan kupon-kupon di fasilitas pariwisata, toko, restoran, dan fasilitas transportasi. Kupon ini dapat digunakan dalam masa perjalanan, misalnya jika seseorang melakukan perjalanan semalam, ia dapat menggunakannya pada hari tiba di hotel dan hari berikutnya.

Pelancong dapat menggunakan kupon itu dalam provinsi tempat mereka menginap atau di salah satu provinsi tetangganya. Jika Anda bepergian ke Hokkaido, Anda juga dapat menggunakan kupon Anda di Aomori dan jika Anda pergi ke Okinawa, Anda juga dapat menggunakannya di Kagoshima.

Toko dan fasilitas yang menerima pembayaran dengan kupon akan mengumumkannya dengan menempelkan stiker atau poster.

Kupon ini dapat berupa tiket kertas atau elektronik di ponsel pintar. Setiap tiket bernilai 1.000 yen, atau 9,4 dolar. Pengguna tidak dapat menerima kembalian.

Q100: Mengetahui lebih jauh tentang ‘Go To Travel’ (Bagian 1)

Go To Travel, inisiatif pemerintah untuk mendorong pariwisata adalah bagian dari kampanye publik untuk mendongkrak konsumsi dan perekonomian Jepang yang terdampak parah oleh pandemi virus korona.

Tokyo pada awalnya tidak dimasukkan dalam inisiatif ini karena relatif memiliki angka penularan tinggi di Jepang. Namun, perjalanan dari dan ke Tokyo dimasukkan dalam kampanye ini pada tanggal 1 Oktober. Para pelancong dari luar negeri tidak bisa menggunakan kampanye ini tetapi warga asing yang tinggal di Jepang dapat menggunakannya.

Kali ini kami menjelaskan gambaran umumnya.

Dalam kampanye Go To Travel, pemerintah akan memberi subsidi hingga 20.000 yen, atau sekitar 190 dolar, per malam untuk menginap di hotel, dan hingga 10.000 yen, atau sekitar 94 dolar, untuk perjalanan pergi pulang dalam sehari.

Pengguna bisa mendapat diskon 35 persen biaya yang mereka bayarkan untuk penginapan, hotel, atau agen wisata yang terdaftar dalam kampanye ini dan mendapatkan kupon bernilai 15 persen harga yang dibayarkan yang dapat digunakan di toko-toko dan fasilitas pariwisata di daerah itu.

Misalnya, jika seorang pelancong akan menginap di penginapan berbiaya 40.000 yen, ia hanya perlu membayar 26.000 yen karena diskon 35 persen itu. Ia juga bisa mendapat kupon senilai 15 persen harganya, yaitu 6.000 yen.

Agen-agen wisata mulai menjual paket-paket wisata ke dan dari Tokyo dengan diskon ini pada 18 September. Orang-orang yang memesan paket wisata sebelum tanggal itu harus menanyakan kepada agen wisata atau hotel agar dimasukkan ke dalam kampanye ini.

Q99: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 10): Apakah cara mendisinfeksi telepon pintar?

Sakamoto Fumie, pakar kebijakan pencegahan penularan Rumah Sakit Internasional St. Luke mengatakan telepon pintar bisa diseka dengan pembersih berbasis alkohol.

Jika tidak ada, kita bisa menggunakan deterjen netral yang biasa digunakan di rumah. Campur lima hingga 10 mililiter detergen dengan satu liter air. Lalu rendam kain lap di dalam cairan tersebut, kemudian diperas, dan setelah itu diseka di telepon pintar.

Q98: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 9): Apakah kita bisa tertular saat melakukan pemeriksaan di dokter gigi?

Asosiasi Dokter Gigi Jepang menyatakan klinik dokter gigi menerapkan beragam langkah pencegahan, jadi orang-orang yang tidak mengalami demam, batuk, atau gejala lain bisa diperiksa seperti biasanya.

Sementara bagi mereka yang memiliki gejala pada dasarnya diminta untuk tidak melakukan pemeriksaan.

Namun, asosiasi ini menyatakan ada beberapa kasus darurat atau bahkan mengancam jiwa jika tidak dilakukan perawatan, oleh karena itu orang-orang sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi mereka.

Q97: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 8): Apakah aman bepergian dengan pesawat terbang atau kereta?

Benar adanya bahwa gerbong kereta dan kabin pesawat tidak memiliki pertukaran udara sebagaimana di luar ruangan. Namun kebanyakan penumpang tidak berteriak atau membuat keributan.

Kami bertanya kepada Sakamoto Fumie, seorang pakar kebijakan pencegahan penularan dari Rumah Sakit Internasional St. Luke Sakamoto mengatakan kita tidak perlu terlalu khawatir akan tertular dalam perjalanan selagi kita tetap diam dan menjaga jarak dengan orang-orang sekitar.

Meski risiko tertular saat bepergian terhitung kecil, tapi Sakamoto menambahkan bahwa kita mungkin menghadapi risiko penularan yang tinggi jika kita menggelar pesta atau berkumpul di ruangan tertutup di dalam kamar penginapan atau hotel. Ia mengatakan perilaku semacam itu bisa memicu penularan massal, jadi kita harus sangat berhati-hati untuk menghindari kegiatan tersebut.

Q96: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 7): Apakah kita bisa tertular di kolam renang dan tempat pemandian umum?

Sakamoto Fumie, pakar kebijakan pencegahan penularan dari Rumah Sakit Internasional St. Luke mengatakan kita tidak perlu khawatir tertular di kolam renang atau tempat pemandian umum.

Bahkan jika airnya telah terkontaminasi virus, maka virusnya kemungkinan besar telah encer. Sakamoto mengatakan berenang di kolam renang atau berendam di tempat pemandian umum memiliki risiko yang kecil.

Bagaimanapun ia mengatakan ada risiko penularan jika kita menyentuh benda-benda yang terdapat di dalam ruang loker atau ruang ganti baju yang juga disentuh oleh banyak orang. Sakamoto menyarankan kita untuk tidak menyentuh wajah, mulut, hidung, dan mata dengan tangan sebelum kita mencuci tangan dengan bersih.

Q95: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 6): Apakah aman memakan sayuran mentah?

Kami bertanya kepada Sakamoto Fumie, seorang pakar kebijakan pencegahan penularan dari Rumah Sakit Internasional St. Luke Sakamoto mengatakan, setidaknya saat ini risikonya kecil untuk tertular dari makanan yang disantap.

Para peneliti telah melontarkan hipotesis bahwa orang-orang tertular virus korona di sebuah pasar di Cina melalui binatang hidup yang dijual di sana. Bagaimanapun Sakamoto mengatakan bukan berarti orang-orang tertular setelah menyantap makanan yang dibeli di pasar tersebut.

Ia mengatakan kita tidak perlu terlalu khawatir selagi kita memakan makanan yang dijual di supermarket dengan kondisi cukup higienis. Kita bisa membilas sayuran seperti yang biasa kita lakukan dan memakannya.

Q94: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 5): Apakah kita harus membatasi penggunaan ruang terbuka?

Kami mengajukan pertanyaan tersebut kepada Sakamoto Fumie, seorang pakar kebijakan pencegahan penularan dari Rumah Sakit Internasional St. Luke Sakamoto mengatakan risiko penularan di luar ruangan relatif rendah karena udara mengalir terus menerus, tidak seperti lingkungan dalam ruangan yang tertutup.

Namun, Sakamoto menambahkan bahwa meski kita berada di luar ruangan, risiko penularan bisa meningkat jika kita berbicara bersama orang lain dalam jarak dekat. Bagaimanapun, ia menambahkan tidak perlu merasa khawatir berlebihan jika kita tidak melakukan pembicaraan dalam jarak dekat.

Ia juga menyarankan kita untuk tetap menjaga jarak saat tengah berkumpul dan makan bersama di luar ruangan, misalnya sewaktu hanami atau piknik sambil melihat bunga sakura. Ia mengatakan risiko penularan akan semakin berkurang jika seseorang yang merasa tidak enak badan menahan diri untuk tidak ikut dalam pesta atau piknik semacam itu.

Q93: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 4): Apa yang harus dilakukan ketika ada anggota keluarga tertular?

Satu kelompok pakar penyakit menular termasuk Profesor Kaku Mitsuo dari Universitas Kedokteran dan Farmasi Tohoku, telah menerbitkan buku panduan yang menjelaskan langkah-langkah spesifik untuk membantu mencegah penularan.

Buku itu mengatakan, hanya satu orang yang boleh merawat anggota keluarga yang sakit. Orang yang bertugas merawat itu harus mengenakan sarung tangan, masker, dan kerap mencuci tangannya. Ia harus memeriksa temperaturnya sendiri dua kali sehari serta memperhatikan apakah dirinya sendiri telah menunjukkan gejala-gejala.

Buku panduan itu mengatakan, untuk mencegah virus menyebar, makanan tidak boleh diambil dari piring penyaji, sedangkan alat-alat makan tidak boleh dipakai bersama. Piring harus direndam dalam disinfektan selama setidaknya lima menit dan kemudian dicuci. Pakaian atau seprai yang mungkin terkena cairan tubuh, harus direndam dalam air panas 80 derajat Celsius selama sekurangnya 10 menit, sebelum kemudian dicuci.

Buku panduan tersebut juga mengatakan, adalah penting untuk mengatur ventilasi ruangan dengan cara membuka jendela selama lima hingga 10 menit setiap satu atau dua jam.

Profesor Kaku mengatakan, banyak orang tidak tahu apa yang harus dilakukan jika mereka atau anggota keluarganya menunjukkan gejala. Jadi ia berharap buku panduan ini akan berguna dalam mengurangi risiko penularan dan membantu masyarakat merasa aman dalam kehidupan sehari-harinya.

Q92: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 3): Apakah cara yang tepat untuk mencuci tangan?

Virus korona, seperti virus influenza dan flu lainnya, menyebar melalui percikan cairan dari saluran pernapasan, seperti misalnya dari batuk dan bersin. Organisasi Kesehatan Dunia WHO merekomendasikan langkah-langkah pencegahan virus korona termasuk mencuci tangan serta menutup mulut dan hidung saat batuk serta bersin, yang juga merupakan langkah pencegahan umum terhadap penyakit menular.

Saat mencuci tangan, Anda harus menggunakan sabun dan air mengalir, selama setidaknya 20 detik agar menggosok tangan secara menyeluruh, termasuk di antara jari-jari dan di bawah kuku. Ketika tidak ada sabun dan air mengalir, juga efektif untuk menggunakan alkohol dan cairan penyanitasi tangan lainnya.

Virus yang menempel di tangan akan masuk ke tubuh melalui mata, mulut, dan hidung. Jadi harap tidak menyentuh wajah Anda sebelum Anda mencuci tangan secara menyeluruh.

Kami menanyakan kepada Profesor Kobayashi Intetsu dari Universitas Toho, seorang spesialis pengendalian infeksi, mengenai poin-poin penting dalam mencuci tangan. Berikut yang ia sampaikan.

Pertama, gunakan banyak sabun, dan secara cermat gosok setiap jari. Cuci hingga pergelangan tangan. Jika Anda menggunakan jumlah sabun yang cukup, Anda masih punya busa setelah menggosok seluruh area tangan.

Anda bisa menggunakan air mengalir dingin maupun panas untuk membilas tangan Anda. Paling baik adalah mengeringkan tangan menggunakan tisu kertas yang bersih dan mematikan air tanpa menyentuh keran secara langsung.

Ketika Anda tidak dapat membersihkan tangan menggunakan sabun dan air, gunakanlah cairan sanitasi tangan berbasis alkohol. Jumlah cairan sanitasi yang digunakan adalah penting. Pastikan untuk menekan pompa botolnya sampai ke dasar.

Ditambahkannya, adalah penting untuk menggosok cairan pembersih ke seluruh area tangan saat masih basah, juga menekan penuh pompanya guna memastikan Anda cukup mendapat cairan pembersih.

Q91: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 2): Apa yang harus dilakukan jika penghuni kondominium terinfeksi?

Kali akan menyajikan tentang bagaimana agar tetap aman selama pandemi. Topik kali ini adalah apa yang harus dilakukan ketika seorang penghuni di kondominium tempat Anda tinggal terinfeksi?

Kasus ini terjadi di sebuah kondominium di Kota Asahikawa di Hokkaido. Dewan Asosiasi Kondominium bertanya mengenai cara mendisinfeksi gedung tersebut kepada Mizu-shima Yoshihiro, seorang wakil ketua Zenkanren. Zenkanren merupakan sebuah organisasi nirlaba dan federasi nasional asosiasi manajemen kondominium.

Mizu-shima mengunjungi sebuah pusat kesehatan masyarakat dan bertanya apakah pusat tersebut dapat mengirimkan staf untuk mendisinfeksi gedung tersebut. Namun, pusat itu menolak permintaan tersebut, dengan alasan kondominium merupakan properti milik swasta dan mereka tidak dapat mendisinfeksinya.

Situasi ini menyebabkan penghuni gedung tersebut yang melakukan pekerjaan tersebut. Kami bertanya kepada staf pusat kesehatan publik di Asahikawa mengenai apa yang harus diingat ketika mendisinfeksi gedung secara mandiri.

Pertama, kita harus mendisinfeksi benda-benda di tempat bersama yang sering disentuh orang-orang dengan tangannya. Benda ini mencakup papan ketik di perangkat kunci otomatis, tombol lift, pegangan tangan, ruangan di dalam yang sering digunakan yaitu kamar mandi, kenop pintu menuju tangga darurat.

Para staf pusat kesehatan mengatakan tidak perlu menyemprot disinfektan ke udara, karena virus tampaknya tidak melayang di udara untuk jangka waktu yang lama.

Mereka juga menyarankan orang yang membersihkan untuk merendam lembaran tisu dapur dengan larutan yang mengandung sodium hipoklorit sebanyak 0,05 persen dengan cermat.

Lebih baik tidak menyemprot larutan ke tisu dapur, karena jika melakukannya maka orang yang membersihkan akan menghirup uap yang berbahaya. Selain itu, penyemprotan yang tidak merata akan menyebabkan bagian kecil di lembaran itu yang tidak terkena disinfektan, sehingga mengarah ke disinfeksi yang tidak sempurna.

Harap dicatat bahwa yang kami sampaikan ini merupakan kasus yang terjadi di Jepang. Pusat kesehatan masyarakat di negara lain mungkin merespons secara berbeda.

Q90: Bagaimana agar tetap aman (Bagian 1): Masker untuk anak-anak

Dalam tanya jawab seputar virus korona ini kami akan menyajikan tentang bagaimana agar tetap aman selama pandemi. Topik kali ini adalah apakah anak-anak harus menggunakan masker?

Yoshihiro Takayama dari Departemen Penyakit Menular Rumah Sakit Chubu Okinawa telah membantu pemerintah Jepang menyusun langkah-langkah penanganan virus korona. Ia mengimbau berhati-hati dalam penggunaan masker pada anak-anak, karena mereka akan lebih sering menyentuh wajahnya jika menggunakan masker dan dapat meningkatkan risiko infeksi. Ia mengatakan bagi anak-anak langkah-langkah dasar yang dapat dilakukan seperti mencuci tangan dan mengukur suhu tubuh secara rutin ketika mereka keluar dan masuk ke rumah.

Asosiasi Dokter Anak Jepang merekomendasikan agar anak-anak di bawah usia dua tahun tidak menggunakan masker karena akan menyebabkan mereka kesulitan bernapas. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan juga mengatakan tidak meminta seluruh warga mengunakan masker karena anak-anak sulit untuk memakai masker secara benar.

Takayama memperingatkan orang tua yang memaksa penggunaan masker pada anak-anaknya karena anak-anak lain memakainya. Ia mendesak orang tua untuk melakukan langkah-langkah dasar dan mempertimbangkan tahap perkembangan anak-anaknya ketika memutuskan penggunaan masker pada mereka.

Q89: "Enam Bulan Setelah WHO Umumkan Pandemi" (Bagian 4): Mengembangkan vaksin untuk mengobati virus korona

Pengembangan vaksin virus korona telah berjalan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak WHO menyatakan penularan virus korona sebagai pandemi.

Proses pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun karena harus diperiksa dengan saksama guna memastikan keamanan dan efeknya. Enam bulan lalu, para peneliti menyatakan bahwa dibutuhkan setidaknya beberapa tahun hingga vaksin virus korona bisa digunakan

Setelah virus korona menjadi pandemi global, seluruh dunia secara serentak berpacu untuk mengembangkan vaksin bagi virus baru tersebut. WHO menyatakan bahwa hingga 9 September, telah dilaporkan sebanyak 180 pengembangan kandidat vaksin di seluruh dunia, dan proses ini terus berlanjut.

Sejauh ini, uji klinis yang melibatkan manusia telah dilakukan atas 35 dari kandidat vaksin tersebut guna memastikan keamanan dan efektivitasnya. Beberapa di antaranya bahkan telah mencapai tahap akhir pengembangan.

Mengapa pengembangan vaksin virus korona berjalan dengan sangat cepat seperti ini?

Perhatian terpusat pada vaksin jenis baru. Para peneliti tengah mencoba meningkatkan sistem imunitas di dalam tubuh manusia dengan menyuntikkan gen dari virus korona ke dalam tubuh untuk menghasilkan protein virus tersebut yang kemudian akan bekerja sebagai antigen.

Rusia telah secara resmi mengeluarkan izin bagi vaksin yang diberi nama “Sputnik V” pada bulan Agustus. Vaksin ini menggunakan virus berbeda, yang keamanannya telah terbukti, untuk membawa gen virus korona ke dalam tubuh manusia. Pemerintah Rusia mengeluarkan izin bagi vaksin tersebut bahkan sebelum fase akhir uji klinisnya dirampungkan.

Perusahaan farmasi besar Amerika Serikat, Pfizer, tengah mengembangkan vaksin dengan menggunakan gen yang dikenal sebagai “mRNA”. Perusahaan ini tengah menjalankan fase akhir uji klinis vaksin tersebut. Pfizer berencana mengajukan permohonan izin kepada pemerintah secepatnya akhir Oktober.

AstraZeneca yang berbasis di Inggris, bekerja sama dengan Universitas Oxford, juga tengah mengembangkan vaksin menggunakan gen virus korona.

Jenis vaksin yang menggunakan gen semacam ini diperkirakan dapat dikembangkan dalam waktu lebih singkat dibandingkan vaksin konvensional.

Sementara itu, pengembangan vaksin seperti ini membutuhkan kewaspadaan ekstra. Vaksin-vaksin tersebut belum pernah digunakan pada manusia. Risiko efek samping yang tidak terduga harus diperiksa dengan saksama.

Terdapat laporan sejumlah kasus dengan proses pemeriksaan yang dihilangkan karena memproritaskan pengembangan vaksin yang cepat.

Profesor Ishii Ken, pakar pengembangan vaksin dari Institut Ilmu Kedokteran Universitas Tokyo, menyampaikan komentarnya.

Ia mengatakan bahwa berbagai upaya yang tengah dilakukan saat ini di seluruh dunia untuk mengembangkan vaksin virus korona merupakan hasil dari pencapaian ilmiah selama ini. Menurut Profesor Ishii, tidak ada keraguan bahwa saat ini inovasi teknologi tengah berlangsung. Teknologi di tingkat laboratorium riset seketika meningkat menjadi teknologi industri.

Namun, ia memperingatkan bahwa pengembangan yang tergesa-gesa bisa menimbulkan masalah yang tidak terduga. Profesor Ishii mengungkapkan bahwa para peneliti harus memperhatikan bahwa dibutuhkan waktu untuk memastikan keamanan sebuah vaksin baru.

Pemerintah Jepang telah bernegosiasi dengan sejumlah perusahaan farmasi di luar negeri dengan harapan bisa memperoleh pasokan vaksin. Pemerintah juga berupaya menyusun pedoman dasar untuk mengatur prioritas penerima vaksin.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga pertengahan September.

Q88: "Enam Bulan Setelah WHO Umumkan Pandemi" (Bagian 3): Pengembangan obat virus korona

Saat ini, belum ada obat yang bisa dianggap sebagai “obat ajaib” untuk virus korona. Namun, berbagai kemajuan telah dicapai dalam penemuan obat-obatan yang dikembangkan untuk menangani penyakit lain yang juga terbukti efektif dalam mengobati virus korona. Banyak perubahan telah terjadi dalam upaya pengembangan pengobatan virus korona selama enam bulan terakhir sejak wabah penyakit ini dinyatakan sebagai pandemi.

Pada masa-masa awal pandemi, ada sejumlah obat yang tampaknya menjanjikan, tetapi tidak terbukti efektivitasnya. Salah satu di antaranya adalah obat yang menekan gejala AIDS. Awalnya diharapkan bahwa mekanisme yang mencegah virus AIDS berkembang biak juga akan terbukti efektif terhadap virus korona. Namun, hasil uji klinis yang diadakan di Cina dan Inggris menunjukkan bahwa obat tersebut tidak mengurangi tingkat kematian untuk pasien yang sakit parah akibat virus korona.

Satu obat lainnya yang tampak menjanjikan adalah hidroksiklorokuin yang digunakan untuk mengobati malaria. Namun, Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada Juni lalu mencabut izin penggunaan darurat yang diterbitkan untuk penggunaan obat tersebut bagi penanganan virus korona. Menurut FDA, hasil tes tidak menunjukkan bahwa obat itu efektif sebagai pengobatan COVID-19.

Di sisi lain, ada sejumlah obat lainnya yang telah dikonfirmasi bekerja efektif menangani virus korona. Ini mencakup remdesivir yang dikembangkan untuk mengobati Ebola. Uji klinis di AS membuktikan bahwa obat ini efektif terhadap virus korona. Bulan Mei lalu, remdesivir menjadi obat pertama yang mendapatkan izin untuk digunakan bagi pengobatan virus korona di Jepang.

Efektivitas steroid dexamethasone dalam mengurangi tingkat kematian juga telah terkonfirmasi di Inggris. Obat ini juga telah mulai digunakan dalam pengobatan di Jepang.

Enam bulan lalu, pengobatan yang efektif bagi virus korona belum diketahui. Namun, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang kini merekomendasikan dua obat itu dalam pedoman yang dikeluarkannya bagi penanganan virus korona.

Sejumlah obat lainnya juga tengah dikembangkan dan menjalani uji klinis untuk membuktikan efektivitasnya.

Sebagai contoh, perusahaan farmasi Jepang yang mengembangkan obat antiflu Avigan tengah melakukan uji klinis dengan target memperoleh izin pemerintah bagi penggunaan obat tersebut untuk pengobatan virus korona. Uji klinis juga tengah dilakukan terhadap Actemra yang digunakan untuk mengobati artritis reumatoid.

Obat lainnya yang menjanjikan adalah Alvesco, steroid untuk mengobati asma, serta Futhan, yang biasanya digunakan untuk pankreatitis akut. Jika efektivitas dan keamanannya terbukti, diharapkan bahwa obat-obatan ini juga akan digunakan untuk menangani virus korona.

Morishima Tsuneo, pakar penyakit menular dari Universitas Kedokteran Aichi, mengungkapkan bahwa para peneliti telah mengetahui karakter dasar penyakit tersebut selama setengah tahun terakhir, dan sejumlah pengobatan yang efektif telah ditemukan. Faktor-faktor ini berkontribusi dalam mengurangi tingkat kematian akibat virus korona saat terjadi wabah gelombang kedua di Jepang.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga pertengahan September.

Q87: "Enam Bulan Setelah WHO Umumkan Pandemi" (Bagian 2): Tingkat Kematian Dan Tingkat Keparahan

Kita telah mempelajari banyak hal mengenai virus korona baru dalam enam bulan terakhir. Salah satu pengetahuan baru adalah mengenai tingkat kematian dan tingkat orang yang terinfeksi dengan gejala parah.

Pada Maret, sebagian besar dari kita mengetahui bahwa penyakit ini berasal dari Cina, yang pertama kali mengalami wabah. Pada akhir Februari, para pakar WHO dan otoritas Cina menganalisis data sekitar 56.000 kasus yang terkonfirmasi.

Mereka menemukan bahwa 3,8 persen orang yang terinfeksi meninggal dunia. Tingkat kematian yang tinggi sebesar 5,8 persen terutama terjadi di Wuhan, Provinsi Hubei, di mana infeksi dalam jumlah besar dilaporkan. Di tempat lain, tingkat kematian adalah 0,7 persen. Sementara tingkat kematian bagi orang di atas 80 tahun adalah 21,9 persen. Ini berarti satu dari tiap lima orang yang terinfeksi meninggal dunia.

Bagaimana dengan Jepang?

Pada September, Institut Nasional bagi Penyakit Menular menganalisis data orang yang terinfeksi di Jepang dan menghasilkan apa yang mereka sebut tingkat kematian yang disesuaikan. Tingkat bagi periode satu bulan hingga akhir Mei adalah 7,2 persen. Kondisinya berbeda-beda sehingga tidak dapat hanya membandingkan angka-angka, namun tingkat kematian tampaknya lebih tinggi dibandingkan Wuhan.

Data dari Jepang menunjukkan bahwa semakin tua pasien tersebut, semakin tinggi tingkat kematiannya. Sementara tingkat bagi orang di bawah 70 tahun adalah 1,3 persen, dan untuk usia 70 tahun ke atas adalah 25,5, persen. Tren ini serupa dengan analisis yang dirilis WHO pada Februari.

Namun, satu analisis data di Jepang pada Agustus menunjukkan tingkat kematian yang jauh lebih rendah. Tingkat keseluruhan adalah 0,9 persen, tingkat bagi orang di bawah 70 tahun adalah 0,2 persen, dan untuk usia 70 tahun ke atas adalah 8,1 persen.

Apa penyebab penurunan besar ini?

Peneliti di institut nasional tersebut menduga bahwa pada fase awal wabah itu, para dokter menaruh prioritas pada diagnosis dan merawat pasien dengan kondisi serius yang mendorong naik tingkat kematian. Mereka mengatakan orang-orang dengan gejala ringan atau tanpa gejala diketahui positif karena tes PCR yang berhasil diperluas serta tes lainnya yang mendorong turun tingkat kematian.

Mereka mengatakan, hingga kini, mereka tidak melihat tanda-tanda bahwa virus ini menjadi kurang mematikan. Para pakar yakin hasil-hasil analisis terbaru ini memberikan kita jumlah kematian yang paling akurat.

Para pakar  mengutip kemungkinan alasan lainnya dari menurunnya tingkat kematian, yaitu metode perawatan yang membaik. Enam bulan lalu, para dokter memusatkan perhatian pada bagaimana merawat pneumonia dan mengatasi Sindrom Gangguan Pernapasan Akut (ARDS).

Kemudian ditemukan pula bahwa terdapat dua faktor lain yang mengarah pada kondisi serius, yaitu penggumpalan darah dan badai sitokin.

Saat orang terinfeksi virus korona, gumpalan-gumpalan darah kecil cenderung terbentuk di pembuluh darah. Gumpalan ini dapat berjalan ke berbagai organ dan menghambat aliran darah, menyebabkan serangan jantung, stroke, dan masalah lainnya.

Sistem imun manusia kadang tidak terkendali dan mulai menyerang tubuhnya sendiri saat orang itu terinfeksi. Inilah yang disebut badai sitokin.

Para pakar memperingatkan risiko badai sitokin setiap kali penyakit menular jenis baru dilaporkan. Mereka mengatakan banyak dari orang-orang yang dites positif virus korona dan meninggal akibat kegagalan sejumlah organ tampaknya adalah korban badai sitokin tersebut.

Apa yang telah kita pelajari dalam enam bulan terakhir ini, termasuk bagaimana orang yang tertular mengalami gejala serius, digunakan oleh para dokter untuk menciptakan metode perawatan yang baru. Hal ini tampaknya telah berkontribusi bagi tingkat kematian yang lebih rendah.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga pertengahan September.

Q86: "Enam Bulan Setelah WHO Umumkan Pandemi" (Bagian 1)

Sudah lebih dari enam bulan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa infeksi virus korona merupakan pandemi global, pada 11 Maret. Kami menghadirkan seri mengenai perubahan selama enam bulan terakhir dan hal apa saja yang telah kita ketahui.

Salah satu perbedaan besar pada masa itu adalah penyebaran infeksi. Hingga 11 Maret, WHO memastikan ada lebih dari 118.000 orang terinfeksi di 117 negara dan wilayah. Menurut negara, Cina adalah tempat kasus pertama dilaporkan dan memiliki 80.000 kasus infeksi. Italia mengalami ledakan penyebaran virus tersebut dan sistem kesehatannya dibanjiri oleh sekitar 10.000 kasus. Sementara itu terdapat 8.000 kasus di Iran, dan sekitar 7.000 di Korea Selatan.

Pada waktu itu, lebih dari 4.200 kematian dilaporkan di seluruh dunia. Terdapat sekitar 3.100 kematian di Cina, sekitar 600 di Italia, sekitar 300 di Iran dan sekitar 60 di Korea Selatan.

Bagaimana situasi setelah enam bulan berlalu?

Universitas Johns Hopkins di Amerika Serikat (AS) mengatakan infeksi telah dikonfirmasi di 188 negara dan kawasan serta virus tersebut telah menyebar ke hampir seluruh negara di dunia.

Disebutkan hingga pukul 9.30 pagi pada 9 September, lebih dari 27.454.000 orang telah terinfeksi. Jumlah ini 230 kali lipat dari enam bulan lalu.

Negara-negara dengan jumlah kasus besar telah berubah. Hingga kini, AS memiliki sekitar 6.325.000 kasus, India sekitar 4.280.000, Brasil sekitar 4.147.000, dan Rusia sekitar 1.032.000. Jumlah kasus ini merupakan bukti bahwa virus tersebut telah menyebar ke wilayah yang luas di penjuru dunia.

Jumlah kematian telah meningkat 210 kali lipat menjadi lebih dari 894.000 orang.

Saat ini AS melaporkan sekitar 189.000 kematian, Brasil sekitar 126.000; India sekitar 72.000, Meksiko sekitar 67.000, dan Inggris sekitar 41.000.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga pertengahan September.

Q85: Vaksin Influenza & Lansia

Pertanyaan kali ini adalah “Bagaimana Jepang mempersiapkan vaksinasi influenza?”. Pasokan vaksin dikhawatirkan mengalami kekurangan di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap influenza dalam pandemi virus korona. Kementerian Kesehatan memutuskan untuk meminta orang-orang melakukan vaksin flu mulai Oktober. Mereka yang berisiko tinggi mengalami gejala parah, termasuk para lansia, akan diprioritaskan.

Kementerian Kesehatan memperkirakan vaksin influenza untuk sekitar 63 juta orang akan tersedia bagi musim yang akan datang akan tersedia mulai Oktober. Namun, orang-orang menjadi lebih waspada terhadap influenza di tengah pandemi virus korona. Para pejabat memperkirakan permintaan vaksin influenza meningkat.

Kementerian Kesehatan mengadakan rapat panel pakar pada 26 Agustus lalu. Partisipan mengajukan rencana untuk meminta orang-orang melakukan vaksinasi lebih awal, agar mereka yang berisiko tinggi mengalami sakit serius, seperti warga lansia, tetap bisa mendapatkan vaksin flu  meski bila pasokan vaksin kurang.

Rencana tersebut mencakup permintaan terhadap orang-orang berusia 65 tahun ke atas melakukan vaksinasi mulai awal Oktober. Kemudian mulai pertengahan Oktober, para pekerja medis, orang-orang dengan masalah pernapasan atau penyakit lainnya, wanita hamil dan anak kecil, mulai dari bayi berusia 6 bulan hingga kelas 2 SD akan diimbau untuk melakukan vaksinasi.

Sulit untuk membedakan antara gejala dari virus korona dan influenza, karena serupa. Jika institusi medis dibebani tes virus yang lebih besar, layanan medis dapat menghadapi kesulitan. Kementerian Kesehatan mengatakan siap membantu meningkatkan tes tersebut.

Q84: "Langkah apa yang Jepang rencanakan untuk menangani virus korona menjelang musim influenza?"

Kementerian Kesehatan membuat sebuah sistem baru yang menjadikan klinik-klinik setempat sebagai pusat tes virus korona sebagai persiapan menghadapi musim influenza pada musim gugur dan dingin.

Sekarang ini orang-orang yang mengalami demam atau gejala-gejala yang terkait penularan virus korona biasanya menjalani tes dengan salah satu dari dua cara berikut. Mereka bisa menghubungi layanan konsultasi yang didirikan di pusat kesehatan masyarakat dan kemudian dirujuk ke lembaga medis yang ditunjuk untuk tes atau mereka datang ke klinik setempat dan kemudian menjalani tes di pusat tes wilayah yang didirikan asosiasi medis.

Namun, terdapat kekhawatiran bahwa jumlah orang yang mengalami demam atau gejala-gejala mirip virus korona lain yang meminta untuk menjalani tes akan melonjak selama musim influenza pada musim gugur dan dingin.

Karena itu, Kementerian Kesehatan memutuskan untuk memperkuat sistem tes virus korona. Kementerian akan membuat memungkinkan bagi klinik-klinik setempat untuk melakukan pemeriksaan dan juga melakukan tes untuk virus ini.

Tes akan dilakukan oleh klinik-klinik yang telah terdaftar di pemerintah daerah. Tes itu sebagian besarnya akan menggunakan kit tes antigen virus korona, yang menyediakan hasil dalam waktu yang lebih singkat.

Jika seseorang teruji positif, pusat kesehatan masyarakat akan memberi rujukan rumah sakit atau fasilitas akomodasi yang ditunjuk.

Dalam kasus-kasus klinik tidak dapat melakukan tes, atau tutup saat akhir pekan, orang itu akan menghubungi layanan konsultasi di pusat kesehatan masyarakat atau pusat tes setempat.

Kementerian Kesehatan berencana menjadikan klinik-klinik setempat sebagai pusat tes virus korona selama musim influenza. Kementerian berencana menambah jumlah klinik yang dapat melakukan tes virus korona, dan membuat sebanyak 200.000 kit tes antigen tersedia setiap hari.

Q83: "Apa yang saya dapat lakukan untuk mencegah penularan di gerbong kereta yang padat?"

Sebagaimana yang telah kami laporkan sebelumnya, orang dapat tertular virus korona melalui percikan ludah dari saluran napas dan kontak tak langsung.

Sebagian orang mengatakan jika ini benar, kita tidak akan tertular meskipun terdapat orang yang tertular berdiri si samping kita di gerbong yang padat dengan asumsi orang itu tidak berbicara atau menyentuh kita.

Orang mengeluarkan percikan ludah saat berbicara. Tetapi percikan ludah juga dapat dihasilkan dengan bernapas. Tidak berbicara tidak menjamin kita tidak mengeluarkan percikan ludah.

Namun, kita bisa banyak mengurangi jumlah percikan ludah yang dihasilkan dengan cara menutup mulut. Inilah mengapa penting agar kita tidak berbicara atau menyentuh, mengenakan masker, dan sering mencuci atau menyuci hama tangan kita.

Q82: "Bagaimana kita bisa terinfeksi virus korona?"

Selain melalui droplet atau percikan ludah dari mulut dan hidung. Virus juga bisa menular melalui kontak tidak langsung.

Penularan melalui kontak tidak langsung bisa terjadi jika seseorang menyentuh sesuatu yang sebelumnya pernah disentuh oleh orang yang terinfeksi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyentuh wajah kita sendiri termasuk bagian hidung dan mulut. Apabila kita melakukan itu dengan tangan yang terkontaminasi, maka kita mungkin akan terpapar virus. Mata juga sangat riskan terpapar virus, jadi kita bisa terinfeksi saat menggosok mata kita.

Percikan ludah mikro juga diyakini bisa menularkan virus. Ukurannya lebih kecil dari percikan ludah biasa dan mengambang di udara di dalam ruangan yang berventilasi buruk. Untuk mencegah penularan dari percikan mikro, kita disarankan untuk menghindari ruangan yang berventilasi buruk, tempat dengan kerumunan massa, serta berbicara dalam jarak dekat.

Percikan ludah biasanya akan jatuh sebelum terlontar sejauh dua meter, jadi dengan menjaga jarak setidaknya sejauh dua meter dengan orang lain diyakini akan aman dari penularan.

Cara penyebaran virus korona ini belum diketahui secara menyeluruh. Namun untuk sekarang, sejumlah langkah diterapkan dengan asumsi bisa menghindari kontak dan percikan.

Guna mengurangi risiko penularan di seluruh Jepang, otoritas menyerukan semua orang untuk memakai masker untuk mencegah penyebaran percikan ludah, dan menjaga jarak setidaknya dua meter agar terhindar dari percikan ludah. Kita juga disarankan untuk mencuci tangan agar tidak menulari diri sendiri jika tangan kita telah terkontaminasi dan tanpa sadar menyentuh mulut, hidung, atau mulut.

Q81: "Di mana dan kapan pertama kali virus korona mengemuka?"

Penelusuran masih berlanjut terkait lokasi dan kapan virus korona pertama kali mengemuka. Menurut otoritas di Kota Wuhan, Cina, kasus pertama COVID-19 tercatat pada 8 Desember 2019. Karena Cina memiliki tradisi menjual binatang hidup, ada indikasi bahwa wabah berasal dari sebuah pasar di Wuhan yang menjadi lokasi penularan virus dari binatang liar ke manusia.

Bagaimanapun, asal virus masih belum jelas. Sumber virus bisa saja ada di pasar tersebut, atau bisa jadi virusnya telah menyebar di sekitar Wuhan melalui para pedagang yang bekerja di pasar.

Walapun para pakar menduga pembawa awal COVID-19 mungkin adalah kelelawar, namun habitat kelelawar-kelelawar itu masih belum jelas.

Kelelawar yang membawa virus mungkin berada di dalam hutan di pegunungan dan memaparkan virus ke orang-orang yang kebetulan mengunjungi wilayah kelelawar itu berada. Orang-orang tersebut kemudian kembali ke Wuhan dan tanpa sadar menulari orang-orang lainnya. Jalur penularan virus ini masih tidak jelas.

Q80: "Sejak pertama, ada berapa jenis virus korona yang bisa ditulari oleh manusia?"

Sejauh ini, ada lebih dari 50 galur virus korona yang telah ditemukan. Enam di antaranya diketahui bisa ditulari oleh manusia. Empat dari enam jenis di antaranya biasanya didiagnosis sebagai influenza. Kebanyakan orang diyakini telah terpapar satu atau lebih dari empat jenis virus korona tersebut saat anak-anak.

Dua lainnya adalah SARS dan MERS. Dua jenis ini menunjukkan gejala yang parah dibandingkan empat jenis lainnya. Para pakar mengatakan, virus yang bermasalah telah mengemuka pada saat kedua galur itu mewabah.

Pada Desember tahun lalu, otoritas Cina menyelidiki kasus pneumonia di Wuhan. Saat itu ditemukan jenis virus korona ketujuh yang bisa jadi ditulari oleh manusia, yang kemudian dinyatakan sebagai virus korona baru.

Banyak pakar telah memperkirakan bahwa galur baru virus korona akan muncul, namun pada saat itu dianggap bukan sesuatu yang bisa menimbulkan banyak masalah.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, empat jenis virus ini adalah influenza biasa. Sementara SARS berhasil dibendung karena gejalanya relatif mudah diidentifikasi, sedangkan MERS tidak sampai menjadi pandemi.

Oleh karena itu orang-orang menjadi lengah. Pada saat itu ada keyakinan bahwa meski galur baru virus korona muncul, tetapi akan bisa ditanggulangi atau penularannya tidak akan meluas.

Ada sejumlah buku yang memperingatkan risiko galur baru virus korona yang bisa menyebabkan pandemi. Namun kebanyakan pakar di seluruh dunia menilai buku-buku tersebut tidak realistis.

Q79: "Mengapa virus korona baru menyebar secara cepat dan luas?"

Saat ini tidak terdapat vaksin yang tersedia bagi virus korona baru. Seberapa menularnya virus dapat dihitung dengan jumlah rata-rata orang yang baru tertular virus tersebut dari satu orang yang telah tertular. Misalnya, jika satu orang terinfeksi menularkan virus itu ke rata-rata 0,5 orang, ini artinya virus itu tidak terlalu menular dan sepertinya tidak akan menyebar luas. Sementara virus korona baru diyakini bahwa satu orang terinfeksi menularkan virus itu kepada sekitar 2,5 orang.

Tetapi, panel pakar yang memberikan nasihat kepada pemerintah Jepang terkait virus korona baru meyakini bahwa itu bukan berarti setiap orang yang terinfeksi akan menularkan virus itu kepada 2,5 orang. Para pakar itu mengatakan jika ada 10 pembawa virus korona, delapan di antaranya cenderung tidak menularkan kepada orang lain, sementara dua sisanya masing-masing menularkan virus itu kepada sekitar 10 orang.

Masalah lainnya adalah tidak mudah untuk mengidentifikasikan pembawa virus korona. Saat seseorang tertular virus SARS (sindrom penyakit pernapasan akut), yang merupakan jenis lain dari virus korona, orang itu segera mengalami sejumlah gejala sehingga orang lain akan tahu individu ini telah tertular. Orang-orang yang tertular dapat diisolasi guna mencegah penularan virus ke orang lain.

Namun pembawa virus korona dapat menyebarkan virus itu bahkan saat mereka tidak menunjukkan gejala-gejala. Hal ini menyulitkan untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.

Q78: "Apa yang dimaksud dengan tata krama batuk?” serta “Apa yang harus saya ingat ketika mencuci tangan?"

Virus korona, seperti virus-virus influenza dan pilek, menyebar melalui percikan ludah yang dihasilkan ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan orang untuk kerap mencuci tangan serta menerapkan “tata krama batuk” dalam upaya untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Inisiatif tersebut sama dengan langkah-langkah yang diambil untuk melawan penyakit menular lainnya.

Saat mencuci tangan, gunakanlah sabun dan air mengalir. Gunakan setidaknya 20 detik untuk membersihkan seluruh permukaan, termasuk bagian di antara jari dan di bawah kuku. Ketika sabun dan air tidak tersedia, gosoklah tangan menggunakan penyanitasi tangan berbasis alcohol.

Anda dapat tertular jika menyentuh mata, mulut, dan hidung dengan tangan yang telah terkontaminasi. Pastikan Anda tidak menyentuh wajah sebelum mencuci tangan.

Saat Anda memiliki gejala-gejala seperti batuk dan bersin, pastikan untuk menerapkan “tata krama batuk” berikut agar tidak menularkan orang di sekitar Anda, bahkan jika Anda sudah tertular.

Tutup mulut dengan tisu atau bagian dalam lengan saat batuk atau bersin. Ketika menggunakan tisu, buang langsung tisunya dan cuci tangan Anda. Jangan menutupi mulut menggunakan tangan, karena tangan Anda akan terkontaminasi virus.

Q77: "Saya dengar tidak mudah untuk menerima tes PCR di Jepang. Mengapa demikian?"

Tes PCR mendeteksi material genetik patogen dan memastikan apakah orang tersebut pada saat itu telah tertular. Tes ini cukup akurat namun hasilnya makan waktu. Dikatakan bahwa Jepang tidak melakukan tes PCR sebanyak negara lainnya. Ini disebabkan Jepang hanya punya sedikit peluang melakukannya sebelum virus korona baru merebak.

Salah satu alasannya adalah penyakit SARS (sindrom pernapasan akut parah) atau MERS (sindrom pernapasan timur tengah) yang memerlukan tes PCR tidak masuk ke negara ini. Sementara bagi influenza, alat tes sederhana sudah meluas penggunaannya, jadi tes PCR amat jarang dilaksanakan di Jepang.

Sekarang, sistem ini secara bertahap dikembangkan, namun masih belum pada tahap dapat menyebar secara cepat, yang dikatakan masih menjadi tantangan.

Q76:"Bagaimana melakukan pertukaran udara yang benar?"

Produsen jendela dan pintu YKK AP menyampaikan daftar rekomendasi dalam situs webnya, mengenai bagaimana melakukan pertukaran udara di ruangan secara benar dengan jendela, dalam kaitan dengan virus korona.

Perusahaan itu menyarankan untuk "membuka dua jendela bukannya satu”, dan membuka jendela “secara diagonal saling berlawanan."

Di sebuah apartemen yang hanya memiliki satu jendela, perusahaan itu menyarankan membuka pintu di dalam ruangan untuk menciptakan saluran udara dan menggunakan kipas angin untuk mensirkulasi udara.

Perusahaan itu juga menyarankan agar memindahkan jendela geser ke tengah jadi dibuka di dua sisi.

Q75: "Bagaimana Anda dapat mengatur ventilasi dengan baik ketika menggunakan alat penyejuk udara atau AC?"

Produsen alat penyejuk udara besar Daikin Industries, menyebutkan sebagian besar alat penyejuk udara hanya melakukan sirkulasi udara di dalam ruangan dan tidak mengatur ventilasi atau pertukaran udara. Jadi, perusahaan itu meminta orang untuk sesekali membuka jendela dan menyegarkan udara ketika menyalakan AC.

Sejumlah orang mungkin merasa jika melakukannya akan memboroskan listrik. Seorang pejabat menjelaskan sebuah cara untuk membatasi konsumsi listrik ketika melakukan pertukaran udara atau ventilasi. Karena AC menyedot banyak tenaga listrik ketika Anda menyalakannya, jadi Anda harus tetap membiarkannya menyala ketika membuka jendela Anda.

Di cuaca yang lebih panas, konsumsi energi juga akan meningkat jika arus udara dari luar mendorong suhu di dalam ruangan, jadi penting untuk sedikit menaikkan suhu alat penyejuk udara sebelum melakukan pertukaran udara di ruangan.

Q74 "Apakah benar risiko terkena sengatan panas meningkat jika seseorang menggunakan masker?"

Kami melakukan eksperimen dengan menggunakan termografi untuk mengetahui bagaimana suhu di wajah berubah ketika menggunakan masker.

Eksperimen itu menunjukkan ketika tidak menggunakan masker, suhu di sekitar mulut  sekitar 36 derajat Celsius. Langkah itu dilakukan pada awal musim panas di distrik Shibuya Tokyo, lokasi kantor NHK.

Bagaimanapun, suhu di sekitar mulut meningkat 3 derajat celcius mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius begitu seseorang menggunakan masker. Lima menit kemudian, kulit di sekitar mulut mulai berkeringat karena panas yang terjebak di dalam masker. Orang tersebut merasa lebih panas dibandingkan sebelum menggunakan masker dan merasa mengalami napas yang pendek.

Profesor Yokobori Shoji dari Sekolah Pascasarjana Kedokteran Nippon mengatakan orang yang menggunakan masker tidak selalu lebih rentan terkena sengatan panas. Namun, ia menekankan terdapat data bahwa menggunakan masker dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan menimbulkan peningkatan detak jantung dan tingkat pernapasan sekitar 10 persen. Ketika digabungkan dengan faktor latihan fisik dan peningkatan suhu udara, ia berpendapat, penggunaan masker dapat meningkatkan risiko sengatan panas.

Profesor Yokobori mengatakan untuk mencegah penyebaran percikan ludah penting dilakukan dengan menggunakan masker. Meski begitu, ia mengatakan upaya pencegahan terhadap sengatan panas juga penting dilakukan bagi lansia dan mereka yang tinggal sendiri. Yokobori menyarankan bagi mereka yang rentan untuk membuka maskernya dan beristirahat di tempat yang tidak ramai, seperti berteduh di bawah pohon ketika berada di luar ruang. Ia juga menyarankan untuk mengganti masker secara rutin karena aliran udara dapat terhalang jika masker dipenuhi keringat.

Q73: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 7)

Kami menyajikan sebuah serial mengenai apa yang harus diperhatikan dunia usaha untuk mencapai keseimbangan antara mencegah penyebaran penularan dan mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi.

Kali ini,kami akan membahas tentang pedoman internal bagi pabrik yang sulit untuk menerapkan sistem bekerja dari rumah  atau jarak jauh.

Produsen truk Mitsubishi Fuso Truck dan Bus Corporation menetapkan pedoman pencegahan penularan bagi para karyawan yang bekerja di lini produksi.

Di pabrik produsen tersebut di Kota Kawasaki, dekat Tokyo, para karyawan diminta untuk duduk atau berdiri setidaknya pada jarak 1,5 meter. Ketika harus berdiri lebih dekat, misalnya saat membawa suku cadang, para karyawan mengenakan pelindung wajah sebagai tambahan masker dalam proses uji coba.

Seluruh karyawan mengganti sarung tangan kerja tiap setengah hari. Ruang loker juga didisinfeksi secara rutin untuk mencegah penyebaran penularan.

Kami bertanya kepada seorang pejabat Mitsubishi Fuso, Baba Takashi. Baba mengungkapkan bahwa langkah-langkah pencegahan sangat penting pada lini produksi truk karena otomatisasi sulit untuk diterapkan dan sebagian besar pekerjaan dilakukan secara manual.

Baba mengatakan bahwa upaya menangani virus korona tampaknya masih akan terus berlanjut untuk sementara waktu. Ia ingin mendengar usulan dari para karyawan dan pakai meningkatkan kondisi lingkungan tempat kerja agar semua orang bisa bekerja dengan aman dan nyaman.

Produsen otomotif terkemuka Jepang, Toyota Motor, akhir Maret lalu memundurkan jam kerja karyawan yang bertugas pada malam hari selama 30 menit di sepuluh lokasi produksinya di Provinsi Aichi. Dengan begitu, akan ada waktu sekitar 90 menit bagi karyawan yang bertugas pada siang dan malam hari untuk melakukan pergantian. Hal ini juga mengurangi kemungkinan berbaurnya para karyawan yang berbeda jam kerja.

Produsen mesin berat IHI Corporation membagi pekerjanya di pabrik mesin pesawat di Kota Mizuho, Tokyo, menjadi dua grup. Masing-masing grup bertugas tiap satu pekan.

Q72: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 6)

Kami melanjutkan serial tentang poin penting yang perlu diperhatikan sektor industri guna menyeimbangkan upaya mencegah penyebaran penularan sambil tetap mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi.

Kali ini, kami akan membahas tentang pedoman yang disusun oleh Federasi Bisnis Jepang, atau Keidanren, bagi perusahaan-perusahaan yang akan memulai kembali operasinya secara penuh. Pedoman ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu untuk kantor dan pabrik.

Pedoman ini menyajikan berbagai bentuk pekerjaan, seperti bekerja jarak jauh atau dari rumah, mengubah jam masuk kerja, atau menerapkan sistem libur tiga hari dalam seminggu untuk mengurangi frekuensi pergi  ke tempat kerja.

Para pekerja kantor diminta untuk mempertimbangkan agar menunda perjalanan bisnis yang tidak mendesak, mengadakan pertemuan, bertukar kartu nama, dan melakukan wawancara perekrutan secara online.

Sementara itu, pedoman untuk pabrik mencakup langkah-langkah untuk berbagai situasi yang diperkirakan dapat terjadi. Misalnya, pengelola disarankan agar mengadakan pertemuan pada pagi hari atau mengabsen karyawan dalam jumlah kecil atau secara terpisah pada tiap proses manufaktur.

Keidanren telah menyampaikan pedoman ini kepada perusahaan-perusahaan anggotanya. Federasi bisnis tersebut juga telah mengunggah pedoman ini di situs webnya dan mengimbau perusahaan-perusahaan agar menerapkannya secara luas.

Q71: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 5)

Kami melaporkan langkah-langkah yang diambil oleh kelompok industri guna mencegah penularan virus korona sambil tetap mempertahankan aktivitas sosial ekonomi.

Kali ini kami akan membahas tentang pedoman pencegahan penularan yang disusun oleh industri perusahaan kereta dan maskapai penerbangan.

Berdasarkan pedoman umum yang dikeluarkan kelompok industri perusahaan kereta, termasuk JR dan perusahaan-perusahaan kereta swasta besar pihak pengelola kereta disarankan untuk meminta penumpang mengenakan masker, bekerja dari rumah untuk menghindari kepadatan, dan menghindari penggunaan transportasi umum pada jam sibuk.

Pengelola kereta juga diminta untuk membersihkan gerbong kereta dengan saksama dan membuka jendela untuk meningkatkan sirkulasi udara.

Sebagai tambahan, kursi yang dapat dipesan pada kereta ekspres akan diatur agar para penumpang dapat menjaga jarak yang ditentukan.

Sementara itu, pedoman dari Asosiasi Maskapai Penerbangan Terjadwal Jepang merekomendasikan perusahaan-perusahaan penerbangan agar meminta penumpang untuk mengenakan masker. Para staf juga diminta untuk secara rutin membersihkan bagian dalam pesawat. Perusahaan-perusahaan tersebut juga disarankan untuk menyajikan minuman dalam kemasan di dalam pesawat.

Pedoman untuk pengelola bangunan bandara menyerukan perusahaan-perusahaan itu mengembangkan cara untuk mengimbau para penumpang agar menjaga jarak saat lapor masuk pesawat dan selama prosedur pemeriksaan keamanan. Pihak pengelola juga diminta untuk dengan cermat membersihkan tempat-tempat yang sering disentuh oleh penumpang.

Di konter lapor masuk pesawat, sekat transparan dapat dipasang jika diperlukan untuk mencegah penyebaran percikan ludah. Penumpang yang merasa tidak sehat juga akan diperiksa suhu tubuhnya.

Di enam bandara utama Jepang, termasuk bandara Haneda, Narita, dan Kansai, suhu tubuh penumpang akan terus dipantau dengan termograf.

Q70: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 4)

NHK menghadirkan serial mengenai pedoman industri untuk menjaga keseimbangan antara mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi dan mencegah penyebaran COVID-19. Kali ini, kami akan mengulas pedoman bagi fasilitas akomodasi.

Grup industri hotel dan penginapan di Jepang telah menyusun pedoman bagi langkah antivirus. Pedoman tersebut disusun oleh tiga grup, yaitu All Japan Ryokan Hotel Association, Japan Ryokan & Hotel Association, dan Japan City Hotel Association. Ketiganya mengimbau pengelola akomodasi untuk memeriksa apakah para tamu memiliki gejala seperti demam saat kedatangannya, serta meminta mereka untuk mencuci tangan.

Pedoman tersebut juga meminta pengelola fasilitas untuk menjelaskan lokasi kamar kepada tamu dengan menggunakan informasi tertulis, dan bukannya mengantar tamu ke kamarnya.

Pedoman itu menyebutkan bahwa saat di ruang makan dan restoran, para tamu harus diminta duduk bersebelahan, tidak menuangkan minuman alkohol untuk orang lain guna mencegah lebih dari satu orang menyentuh botol yang sama, serta tidak mengedarkan satu gelas dan minum bergantian dari cangkir itu.

Pedoman tersebut juga merekomendasikan masakan di dalam panci dan sashimi sebisa mungkin dihidangkan ke tiap pelanggan secara terpisah, dan bukan menyajikan  makanan yang sama untuk banyak orang. Pedoman itu mengimbau pengelola fasilitas untuk mempertimbangkan dalam menghentikan penyajian makanan secara prasmanan. Bila tetap melanjutkan prasmanan, pengelola diminta untuk memiliki anggota staf yang melayani tamu, dan bukan membiarkan tamu mengambilnya sendiri, serta mencegah penjepit dan sumpit dipakai bersama-sama. 

Pedoman tersebut juga mengatakan pengelola harus membatasi jumlah orang yang memasuki fasilitas permandian agar tidak menjadi ramai.

Grup industri ini berencana membuat pedoman tersebut diketahui luas di antara fasilitas milik anggotanya, dan meminta para anggota tersebut untuk mengambil langkah-langkah sepatutnya yang diwajibkan oleh tiap situasi yang dihadapi.

Q69: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 3)

Kami menyajikan sebuah serial mengenai apa yang harus diperhatikan dunia usaha untuk mencapai keseimbangan antara mencegah penyebaran penularan dan mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi. Kali ini Kami menghadirkan pedoman bagi para pengelola restoran.

Sebuah grup industri restoran di Jepang juga telah menyusun pedoman untuk memulai kembali usaha secara penuh.

Grup itu mengimbau pengelola restoran untuk memastikan agar tetap menjaga keamanan dan kebersihan makanan dengan baik di semua tempat restorannya, serta mengambil langkah untuk menjaga jarak antar konsumen di restoran.

Secara khusus, pedoman tersebut mengatakan pengelola harus menyiapkan cairan disinfektan bagi pelanggan dan memasang pengumuman yang meminta orang-orang yang memiliki demam, batuk, dan gejala lainnya untuk tidak makan di dalam restoran.

Pedoman tersebut juga meminta pengelola membatasi jumlah pelanggan ketika terlalu ramai dan mengatur kursi agar pelanggan tidak duduk saling berhadapan sambil menjaga jarak setidaknya satu meter satu sama lain. Berbagi meja makan dengan grup pelanggan lain juga harus dihindari.

Di tengah pandemi virus korona, industri kuliner bergantung pada pesanan untuk dibawa pulang dan dikirim ke rumah, jadi pedoman tersebut meminta pengelola untuk mendorong pelanggan segera mengonsumsi makanan tersebut guna menghindari keracunan makanan.

Ketua Asosiasi Layanan Makanan Jepang, Takaoka Shinichiro, mengatakan pedoman tersebut menargetkan untuk mendorong upaya pengelola restoran. Ia berharap restoran tersebut mengambil langkah-langkah selayaknya tergantung pada situasinya agar pelanggan dapat makan dengan keadaan yang aman.

Q68: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 2)

Kami menyajikan sebuah serial mengenai apa yang harus diperhatikan dunia usaha untuk mencapai keseimbangan antara mencegah penyebaran penularan dan mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi. Kali ini kami akan menyampaikan pedoman yang diterapkan secara mandiri oleh industri karaoke.

Tiga asosiasi industri karaoke di Jepang bersama-sama menyusun pedoman langkah antiinfeksi. Pedoman tersebut mengimbau para manajer tempat usaha untuk mengatur ventilasi di tiap ruangan, membatasi kapasitas jumlah pelanggan menjadi separuh dari biasanya, membuat pelanggan duduk bersebelahan, tidak berhadapan, setidaknya menjaga jarak satu meter bila memungkinkan dua meter, serta sering mendisinfeksi mikrofon dan pengendali jarak jauh.

Asosiasi tersebut meminta pelanggan untuk menggunakan masker kecuali saat mereka makan atau minum, dan tetap menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang yang bernyanyi.

Seorang pejabat Asosiasi Boks Karaoke Jepang, Kato Shinji mengatakan karaoke sebagai budaya kini menghadapi krisis yang mengancam keberadaannya. Ia mengatakan asosiasi tersebut mempertimbangkan untuk menambah langkah-langkah yang lebih ketat apabila pedoman itu terbukti tidak cukup memadai. Ia menyebutkan mereka berupaya dalam menyediakan lingkungan karaoke yang aman dan bebas dari kekhawatiran bagi para pelanggan.

Tulisan ini menggunakan data hingga 28 Juli.

Q67: "Apa yang harus diperhatikan sejumlah sektor usaha" (Bagian 1)

Kami menyajikan sebuah serial mengenai apa yang harus diperhatikan dunia usaha untuk mencapai keseimbangan antara mencegah penyebaran infeksi dan mempertahankan aktivitas sosial dan ekonomi. Ini merupakan pedoman yang disediakan pemerintah untuk tiga jenis bisnis hiburan. Bisnis tersebut adalah pengelola kelab atau bar dengan staf yang secara langsung melayani pelanggan, kelab malam dan tempat-tempat pertunjukan musik.

Pada Juni, Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang Nishimura Yasutoshi, yang bertanggung jawab atas tanggapan terhadap virus korona, mengungkapkan langkah-langkah yang harus dipatuhi bisnis tersebut.

Langkah-langkah ini mencakup:

・Menjaga jarak sekurangnya satu meter, atau jika memungkinkan dua meter, antara tiap orang.
・Memasang panel akrilik di atas meja.
・Mendorong staf dan pelanggan agar mengenakan masker atau pelindung wajah.
・Meminta pelanggan menulis nama dan nomor yang dapat dihubungi serta menyimpan data itu selama beberapa waktu.

Pengelola tempat musik diminta agar mencoba menjaga jarak dua meter antara penampil dan penonton. Jika tidak mungkin, pengelola harus mengambil langkah-langkah untuk menjamin bahwa percikan ludah tidak menyebar. Pemerintah merekomendasikan penjualan tiket dilakukan secara daring atau melalui sistem pembayaran non-tunai.

Kelab atau bar dengan staf yang melayani pelanggan secara personal untuk saat ini diminta mencegah orang-orang bernyanyi karaoke bersampingan atau berdansa bersama-sama. Bisnis ini juga diminta menganjurkan pelanggan agar tidak berbagi gelas.

Kelab malam diminta untuk mengecilkan volume musik dan melarang orang-orang berbicara keras demi mencegah penyebaran percikan ludah.

Informasi ini akurat per tanggal 27 Juli.

Q66: "Apa saja yang harus diperhatikan saat anak-anak menghidangkan makan siang di sekolah?"

Profesor Kunishima Hiroyuki, pakar penyakit menular dari Sekolah Kedokteran Universitas St. Marianna mengatakan penting bagi semua anak termasuk yang menghidangkan makanan agar mencuci tangan dengan sabun dengan benar sebelum makan siang.

Ia mengatakan perhatian juga harus diberikan ketika menggunakan alat untuk menghidangkan makanan seperti jepit dan sudu. NHK dan Profesor Kunishima melakukan eksperimen bersama untuk mengetahui bagaimana virus dapat menyebar dalam situasi makan prasmanan. Satu orang yang berperan sebagai pasien yang tertular virus digosokkan pewarna berpendar pada tangannya, kemudian melanjutkan makan. Dalam 30 menit, pewarna itu telah menyebar dari jepit, penutup wadah, dan benda-benda lain yang digunakan semua orang, ke tangan seluruh 10 orang yang ambil bagian.

Risiko penularan saat makan siang di sekolah dapat dikurangi jika semua orang mencuci tangan dengan benar, mengenakan masker, dan hanya anak-anak yang bertugas menghidangkan makanan yang menggunakan jepit atau sudu.

Selama makan, jendela ruang kelas harus dibuka dan anak-anak tidak boleh berdekatan. Harus menghindari ruangan tertutup, tempat yang padat, dan kontak dekat.

Profesor Kunishima mengatakan anak-anak tidak dapat mengenakan masker ketika makan, dan mereka mungkin lebih dekat satu sama lain dibandingkan ketika jam pelajaran. Ia mengatakan berharap pihak berwenang di sekolah akan lebih berhati-hati demi memastikan bahwa langkah-langkah seperti ventilasi dan cuci tangan dipatuhi.

Informasi ini akurat per tanggal 21 Juli.

Q65: "Apakah virus korona bisa ditularkan sebelum seseorang menunjukkan gejala seperti demam atau batuk?"

Satu tim peneliti di Singapura meyakini hal itu telah terjadi dalam beberapa kasus. Para peneliti yang menelusuri jalur penularan di Singapura, merilis temuan mereka dalam sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Pusat AS untuk Kontrol dan Pencegahan Penyakit. Setelah melalui analisis mendalam, para peneliti itu meyakini penularan antar-manusia terjadi dari orang-orang tanpa gejala.

Orang-orang yang tidak menunjukkan gejala, mulai  mengalami demam, batuk dan pilek, beberapa hari setelah mereka bertemu dengan orang lain yang kemudian juga terinfeksi virus. Para peneliti meyakini orang-orang tanpa gejala menyebarkan virus pada masa inkubasi melalui percikan ludah dan sejumlah cara lainnya.

Beberapa kelompok penularan terjadi di dalam pelajaran menyanyi. Para peneliti mengatakan, meski seseorang tidak batuk, virus bisa ditularkan melalui percikan ludah saat bernyanyi dengan lantang atau cara lainnya.

Para peneliti meyakini hal itu membuktikan bahwa virus korona baru bisa ditularkan pada masa inkubasi. Mereka mengatakan, tidak cukup dengan hanya mengisolasi orang-orang yang telah memiliki gejala, dan sangat penting untuk menghindari pertemuan dan kerumunan massa.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga tanggal 20 Juli.

Q64: "Apa yang harus diwaspadai pengelola tempat pengungsian guna mencegah penyebaran virus"

Kanbara Sakiko, seorang profesor di Universitas Kochi menyarankan pengelola tempat pengungsian untuk mengukur suhu tubuh warga sebelum mereka memasuki bangunan, dan memeriksa setiap gejala seperti demam, batuk, atau rasa lelah berlebihan.

Kanbara mengatakan, harus menyiapkan satu ruangan terpisah yang secara khusus digunakan bagi orang-orang yang berisiko tinggi memiliki virus. Misalnya, jika tempat pengungsian berada di ruang olahraga sebuah sekolah dasar, maka gunakan ruang kelas untuk memisahkan orang-orang yang memiliki gejala dari yang lainnya. 

Kanbara juga menekankan bahwa pengelola tempat pengungsian juga harus mengembangkan langkah untuk mencegah penyebaran percikan ludah dari batuk dan bersin. Ia mengatakan sulit untuk menerapkan jaga jarak di antara orang-orang yang tinggal di tempat pengungsian. Boks karton bisa digunakan sebagai partisi guna mencegah penyebaran percikan ludah. Namun orang-orang sebisa mungkin tidak menyentuh partisi tersebut guna menghindari penularan lewat kontak.

Kanbara juga menekankan pentingnya untuk sering mencuci tangan dan memakai cairan disinfektan. Perawatan khusus terutama diperlukan di tempat-tempat yang digunakan banyak orang, karena penularan bisa dengan mudah menyebar di tempat-tempat tersebut, seperti misalnya pada gagang pintu kamar mandi, sakelar, dan alat pegangan tangan.  

Kanbara juga mengatakan penting untuk mendisinfeksi dan mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh tempat-tempat tersebut. Ia mengatakan, penting bagi orang-orang untuk selalu menanamkan pikiran bahwa diri kita mungkin menjadi pembawa virus, dan bersikap hati-hati untuk tidak menyebarkan virus ke orang lain dengan mendisinfeksi tangan terutama sebelum menyentuh tempat-tempat tersebut.

Kanbara mengatakan produk disinfektan beralkohol harus ditempatkan di pintu masuk tempat pengungsian, dan di dekat pintu masuk kamar mandi agar orang-orang bisa sering mendisinfeksi tangan mereka. Ia menambahkan, orang-orang juga harus mendisinfeksi tangannya untuk barang-barang yang digunakan bersama dengan orang lain seperti misalnya pasokan bantuan dan persediaan.

Tulisan ini menggunakan informasi hingga tanggal 17 Juli.

Q63: "Mengenai percikan ludah yang dapat terus berada di udara di atas lantai tempat penampungan pengungsi"

Profesor Sekine Yoshika, pakar lingkungan dalam ruang dari Universitas Tokai mengawasi percobaan terkait percikan ludah yang dilakukan NHK. Dalam percobaan itu, tim NHK melakukan simulasi ruang tertutup tanpa ventilasi seperti tempat pengungsian darurat serta menaksir dampak percikan ludah yang keluar dari bersin atau batuk dalam lingkungan tertutup seperti itu.

Tim NHK menggunakan alat khusus untuk menciptakan jumlah percikan ludah yang serupa dengan yang dihasilkan oleh satu kali bersin dan mengamati videonya yang direkam dengan kamera definisi tinggi.

Video itu menunjukkan bahwa kebanyakan percikan ludah jatuh ke bagian spesifik lantai berjarak sekitar 1,5 meter. Video itu juga menunjukkan bahwa debu yang terpolusi dengan percikan ludah itu terbang dan mengambang di udara, saat orang-orang berjalan di lantai tersebut. Ketika udaranya sedikit tergerak oleh bersin atau batuk, debu terpolusi di lantai juga akan tertiup ke sekitar 20 sentimeter di atas lantai.

Profesor Sakine mengatakan beberapa ilmuwan telah melaporkan bahwa virus korona dapat bertahan untuk waktu lama, khususnya di permukaan mulus dengan friksi kecil seperti lantai sasana olahraga, yang kerap digunakan sebagai tempat penampungan sementara. Ia mengatakan penting untuk menangani masalah yang terkait percikan ludah ini saat mengevaluasi penggunaan fasilitas seperti itu.

Pakar pencegahan penyakit menular di tempat penampungan darurat Profesor Kanbara Sakiko dari Universitas Kochi, memperingatkan bahwa tidur di lantai bersama banyak orang dalam satu ruang penampungan dapat meningkatkan risiko penularan. Ia menganjurkan langkah pencegahan dengan tidur di atas ranjang darurat yang dibuat kardus untuk menjaga sedikit jarak dari lantai.

Q62: "Apa yang harus dilakukan saat berada di pengungsian"

Saat tinggal di pengungsian, prioritaskan untuk menghindari tempat tertutup, tempat ramai, dan kontak dekat. Berikut yang harus dilakukan. Jagalah ventilasi ruangan dengan baik, jaga jarak fisik sekitar dua meter dari satu sama lain, dan hindari percakapan dari jarak dekat.

Anda juga dapat duduk saling memunggungi daripada berhadapan dan membuat partisi kardus. Langkah-langkah ini akan membantu menghentikan Percikan ludah yang keluar dari batuk dan bersin menjangkau orang lain.

Hal lain yang Anda dapat lakukan adalah mencuci dan mendisinfeksi tangan Anda. Pastikan Anda mencuci dan mendisinfeksi tangan dengan gosokan alkohol sebelum makan dan setelah menggunakan kamar mandi. Lakukan hal yang sama setelah menyentuh sesuatu yang disentuh banyak orang yang tidak dikenal, seperti misalnya pegangan pintu dan selusur.

Saat menginap di pengungsian, periksa suhu tubuh dan cek kondisi badan sendiri secara teratur. Beritahukan pengelola tempat pengungsian saat Anda merasa ada yang aneh, sehingga Anda dan mereka dapat membahas apa yang sebaiknya dilakukan.

Penularan cenderung terjadi secara cepat di dalam tempat pengungsian selama masa bencana. Menyusul gempa dan tsunami 2011, puluhan orang tertular influenza di tempat pengungsian di Provinsi Iwate. Setelah gempa 2016 di Provinsi Kumamoto, orang-orang tertular influenza dan norovirus pada dan sekitar tempat pengungsian di Minami-Aso.

Tulisan ini berdasarkan pada data hingga 15 Juli.

Q61: "Apa yang harus dipersiapkan sebelum pergi ke tempat pengungsian"

Tempat pengungsian cenderung penuh dengan banyak orang kerika terjadi sebuah bahaya bencana yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. Ini artinya ada risiko besar terjadi penyebaran infeksi. Ketika Anda mengunjungi sebuah tempat pengungsian, pastikan Anda membawa masker, disinfektan yang mengandung alkohol dan temometer pengukur suhu tubuh.

Jika Anda tidak memiliki masker, Anda dapat menggunakan handuk atau kain lap yang cukup besar untuk menutup mulut dan hidung Anda. Jika Anda tidak memiliki disinfektan yang mengadung alkohol, Anda dapat menggunakan tisu disinfektan. Di Jepang terjadi kekurangan masker dan sejumlah pemerinah daerah tidak memiliki stok yang cukup untuk para pengungsi. Jadi Anda sebaiknya membawa masker Anda.

Penting bagi Anda untuk selalu mengecek kondisi Anda sendiri untuk mencegah penyebaran infeksi. Seringlah mengukur temperatur Anda. Sejumlah indikator kemungkinan Anda terkena virus korona adalah demam, batuk, dan merasa sangat kelelahan.

Tulisan ini berdasarkan pada data hingga 14 juli.

Q60: "Apa yang harus diperhatikan ketika melakukan evakuasi ketika terjadi bencana?"

Jawaban dari NHK adalah virus korona dapat menyebar jika terlalu banyak orang tiba di pusat evakuasi bencana. Jadi sejak saat ini, akan menjadi penting bagi orang-orang di komunitas tersebut tidak hanya pergi ke pusat evakuasi yang ditetapkan, tetapi lokasi yang berbeda seperti rumah kerabat dan kenalan atau hotel. Anda juga dapat di rumah saja atau di mobil Anda.

Jika Anda memiliki kerabat atau teman yang tinggal di daerah aman yang dapat Anda andalkan. Anda harus mempertimbangkan tinggal bersama mereka agar pusat evakuasi tidak terlalu penuh.

Anda juga dapat mempertimbangkan untuk di rumah saja jika anda tinggal di lantai atas bangunan apartemen atau bangunan yang kokoh yang tidak berlokasi yang berbahaya seperti di dekat sungai, dataran rendah atau sisi gunung.

Tidur di mobil untuk sementara waktu juga merupakan sebuah pilihan, jika di daerah itu tidak berisiko banjir, atau di sisi gunung, atau di dekat bangunan runtuh. Dalam kasus ini, Anda harus memperhatikan secara rutin penggunaan dan sirkulasi kendaraan Anda.

Namun, jika Anda memiliki kekhawatiran mengenai situasi di sekitar Anda, jangan ragu untuk pergi ke pusat evakuasi.

Tulisan ini menggunakan data hingga 13 Juli.

Q59: "Apakah kita bisa menggunakan disinfektan kain komersial untuk membersihkan tangan?"

Kami bertanya kepada dua produsen barang konsumen terkemuka, Kao Corporation dan Proctor & Gamble (P&G) Japan, yang memproduksi dan menjual disinfektan kain. Kedua perusahaan ini mengungkapkan bahwa para konsumen sebaiknya tidak menggunakan disinfektan kain untuk membersihkan tangan dan jari.

Kao menyebutkan bahwa produk-produk disinfektan dikembangkan sesuai dengan penggunaannya, dan disinfektan yang dikembangkan untuk kain sebaiknya tidak digunakan pada kulit.

P&G Japan menyatakan bahwa produk-produk disinfektan kain ditujukan untuk menghilangkan bau dan membunuh bakteri pada barang-barang kain di rumah tangga agar tetap segar. Perusahaan itu menambahkan bahwa produk-produk aerosol  yang dibuat untuk digunakan pada permukaan benda keras seperti gagang pintu dan meja sebaiknya tidak digunakan untuk tangan.

Informasi ini merujuk pada data hingga 10 Juli.

Q58: "Apakah kita bisa mengenakan pelindung wajah, yaitu pelindung transparan untuk wajah yang digunakan oleh dokter dan perawat, sebagai pengganti masker untuk mencegah penularan?"

Pelindung wajah digunakan untuk menutupi seluruh wajah. Tujuan utamanya adalah mencegah virus masuk ke tubuh melalui selaput mata. Para staf di institusi-institusi medis selalu mengenakan keduanya, masker dan pelindung wajah.

Kami bertanya kepada Profesor Sugawara Erisa dari Studi Pascasarjana Universitas Kedokteran Tokyo. Sugawara mengatakan bahwa pelindung wajah, seperti juga masker kain, berguna saat orang-orang berbicara dalam jarak dekat karena dapat mencegah pemakainya menyebarkan percikan ludah atau lainnya kepada lawan bicara.

Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa pelindung wajah tidak cukup untuk melindungi pemakainya dari penularan. Sugawara menyebutkan bahwa pelindung wajah efektif dalam mencegah pemakainya menyentuh hidung atau mulut dengan tangan, tetapi tidak dapat menghalangi virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut.

Profesor Sugawara mengungkapkan bahwa saat menggunakan pelindung wajah, hindari menyentuh permukaan luar yang mungkin terkontaminasi virus. Kita harus mengelap pelindung wajah dengan alkohol atau mencucinya dengan sabun setelah menggunakannya.

Sugawara juga menambahkan bahwa cara paling efektif untuk mencegah penularan adalah meminimalisasi kontak personal dan sering mencuci tangan.

Informasi ini merujuk pada data hingga 9 Juli.

Q57: "Sejumlah orang menggunakan masker tanpa menutupi hidungnya. Bagaimana pendapat para pakar?"

Tujuan utama menggunakan masker adalah mencegah penyebaran percikan cairan dari saluran penapasan dan untuk menghalangi percikan ludah orang yang terinfeksi. Jika hidung Anda terbuka, percikan ludah dari bersin dapat tersebar. Juga, ketika seseorang berhapas, 90 persen dari udara yang dihirup melalui hidung, jadi risiko infeksi akan meningkat jika Anda tidak menutupi hidung.

Ketika Anda melepas masker, Anda harus memastikan menjaga jarak yang cukup. Disebutkan bahwa percikan cairan dari saluran pernapasan dapat menyebar hingga sekitar dua meter. Sebagai langkah untuk mencegah sengatan panas, Kementerian Kesehatan Jepang merekomendasikan agar melepas masker ketika jarak Anda dengan orang lain setidaknya dua meter.

Pakar penyakit menular dari Sakamoto Fumie, dari Rumah Sakit Internasional St. Lukes di Jepang menjelaskan orang-orang tidak perlu menggunakan masker setiap saat, tetapi hanya ketika dibutuhkan. Sakamoto mengatakan terus menggunakan masker akan memicu risiko terkena sengatan panas.

Memilih bahan masker juga penting, terutama di musim panas. Banyak orang  membuat sendiri maskernya dengan menggunakan berbagai material. Organisasi Kesehatan Dunia WHO memberikan informasi mengenai perbedaan tipe bahan masker yang mudah untuk bernapas dan memiliki fungsi filter yang efektif dengan kemampuan material yang dapat menyaring percikan ludah.

WHO menyebutkan kain nylon memiliki kemampuan menyaring percikan yang efesien, tetapi menyulitkan untuk bernapas. Kain katun yang digunakan untuk kasa memudahkan bernapas tetapi memiliki kemampuan penyaringan yang rendah. WHO mengatakan kain katun seharusnya dikombinasikan dengan material lainnya yang meningkatkan kemampuan penyaringannya.

Sebuah kelompok yang terdiri dari para dokter anak mengatakan anak-anak di bawah usia dua tahun tidak seharusnya menggunakan masker, karena risiko kekurangan napas.

Sakamoto dari Rumah Sakit Internasional St.Lukes mengatakan langkah-langkah pencegahan yang mendasar bukan hanya menggunakan masker, tetapi juga mencuci tangan Anda, menghindari tempat tertutup dan ramai serta melakukan kontak jarak dulu.

Tulisan ini menggunakan data hingga 8 Juli.

Q56: "Bagaimana cara mencuci masker kain?"

Pemerintah Jepang telah membagi-bagikan masker kain dan menyatakan bahwa masker ini bisa digunakan berulang kali.

Poin penting dalam mencuci masker kain adalah jangan menguceknya. Kementerian Kesehatan Jepang menyebutkan bahwa kita harus merendam masker kain terlebih dahulu di dalam baskom dengan air dan detergen selama sekitar sepuluh menit. Jumlah detergen yang digunakan tergantung pada produknya, tetapi secara umum dibutuhkan 0,7 gram, atau sekitar setengah sendok kecil, untuk tiap dua liter air.

Setelah direndam, cuci masker dengan menekannya perlahan-lahan menggunakan tangan. Bilas masker secara menyeluruh dengan menggunakan air saja di dalam baskom.

Jika ingin menggunakan mesin cuci, masukkan masker ke dalam jaring untuk mencuci (laundry net) yang ukurannya kira-kira sama dengan ukuran masker.

Untuk mengeringkannya, tepuk-tepuk sisa air dari masker dengan menggunakan handuk bersih, kemudian jemur di tempat teduh.

Kementerian menyarankan agar masker kain dicuci satu kali sehari dan tidak lagi digunakan jika bentuknya berubah.

Informasi ini merujuk pada data hingga 6 Juli.

Q55: "Tenaga medis profesional memakai masker. Namun, saya mendengar berita dokter dan juru rawat terinfeksi. Apakah masker benar-benar efektif dalam mencegah infeksi?"

Masih belum jelas apakah masker dapat mencegah infeksi. Meski demikian, masker sekali pakai yang banyak digunakan tidak sepenuhnya menghambat virus, jadi keampuhannya dalam mencegah infeksi diperkirakan terbatas meskipun masker tersebut efektif.

Di lingkungan perawatan kesehatan, para tenaga medis memakai masker dengan mengombinasikan berbagai langkah perlindungan lainnya berdasarkan pengetahuan keahlian. Namun, dikatakan masker saja tidak memberikan banyak perlindungan.

Masker N95 adalah masker medis berperforma tinggi yang banyak digunakan tenaga medis di unit perawatan intensif. Masker ini dapat menyaring virus, akan tetapi membuat pemakainya sulit bernapas. Terkait penggunaan masker N95 yang tepat, penting untuk mempelajari sebelumnya cara yang benar dalam memakai dan menggunakannya. Apa pun masker yang Anda gunakan, menyentuh wajah sebelum mendisinfeksi tangan akan meningkatkan risiko infeksi.

Sebaliknya, saat masker dipakai oleh seseorang yang terinfeksi, masker disebut-sebut secara signifikan mengurangi risiko orang tersebut menyebarkan virus ke orang lain.

Sejauh ini, diketahui bahwa virus korona novel utamanya ditularkan melalui percikan cairan dari saluran pernapasan. Diketahui juga bahwa orang yang terinfeksi mengeluarkan virus dalam jumlah besar dari sekitar dua hari sebelum menunjukkan gejala hingga segera setelah mengalami gejala. Disebutkan bahwa memakai masker dapat sangat mengurangi penyebaran percikan cairan dari batuk dan bersin, serta percikan mikro yang merupakan partikel yang sangat kecil yang keluar saat berbicara.

Ketika menyampaikan keterangan  kepada wartawan pada Mei lalu, Omi Shigeru, deputi kepala panel pakar pemerintah Jepang mengatakan ia ingin semua orang, terlepas dari mereka memiliki gejala atau tidak, untuk memakai masker guna mengurangi risiko penyebaran virus. Ia mengatakan meski terdapat berbagai pandangan mengenai penggunaan masker, konsensus umum sudah dicapai di negara-negara lain dan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Informasi dalam tulisan ini menggunakan data hingga 3 Juli.

Q54: "Apakah terdapat kaitan antara ada tidaknya antibodi seseorang dengan hasil positif atau negatif pada tes PCR?"

Tim NHK menjelaskan pertama mengenai tes antibodi.  Tes antibodi ditujukan untuk memeriksa apakah seseorang  memiliki sejenis protein yang disebut “antibodi” yang terbentuk dari sel-sel imun di dalam darah saat melawan virus yang menginfeksi tubuh.

Dalam tes tersebut, beberapa tetes darah diambil dan sampel yang telah dikumpulkan kemudian ditaruh pada sebuah perangkat tes. Meski demikian, harus diketahui bahwa pembentukan antibodi memerlukan waktu dan tidak dapat dideteksi segera setelah kita terinfeksi.

Institut Nasional bagi Penyakit Menular Jepang menguji sampel darah orang-orang yang terinfeksi virus korona dengan  menggunakan perangkat tes antibodi yang tersedia secara komersial. Institut tersebut menemukan bahwa tidak sampai dua pekan setelah orang itu mengalami gejala, antibodi terdeteksi di kebanyakan sampel.

Sekarang, mengenai tes PCR. Tes ini menentukan apakah seseorang terinfeksi virus tersebut atau tidak dengan akurasi yang tinggi. Jika Anda dites positif, itu berarti Anda memiliki virus di dalam tubuh Anda. Namun, seringkali kasusnya adalah antibodi tidak terdeteksi karena belum terbentuk. Di sisi lain jika hasil PCR Anda negatif, kemungkinan besar Anda tidak terinfeksi. Atau bisa juga berarti setelah terjadi penularan virus itu tertolak dari tubuh Anda. Dalam kasus ini, memungkinkan jika Anda dinyatakan positif pada tes antibodi.

Sementara itu, ada jenis tes lain yang tengah dikembangkan. Tes baru ini diperkirakan akan mendeteksi tipe antibodi lain yang diketahui muncul dalam darah, segera setelah tubuh terinfeksi virus. Terdapat harapan besar jika tes ini digunakan dapat menggantikan PCR. Namun, akurasinya masih belum jelas.

Tulisan ini menggunakan data hingga 22 Juli.

Q53: "Tolong jelaskan bagaimana sistem imunitas bekerja."

Sistem imunitas manusia dan makhluk-makhluk lain melindungi inangnya dengan cara mendeteksi, menyerang, dan menghilangkan virus, bakteri, serta objek-objek asing lainnya.

Sel-sel imunitas yang merupakan satu jenis sel darah putih memainkan peran utama dalam melawan infeksi virus. Sel-sel ini menghasilkan protein yang disebut antibodi dalam jumlah besar, yang mencegah virus berreplikasi di dalam tubuh inang. Ini mencegah inang menjadi sakit. 

Namun, ketika sebuah virus yang tidak dikenali inang, seperti virus korona baru ini, memasuki tubuh, sel-sel imunitas tidak dapat memproduksi antibodi pada waktunya untuk menghentikan propagasi virus. Saat inilah inang jatuh sakit.

Namun, manusia memiliki mekanisme imunitas lain di samping menghasilkan antibodi. Terdapat jenis-jenis lain sel imunitas di dalam darah dan jika sel-sel itu bekerja bersama, sel-sel tersebut mungkin dapat mencegah si inang menjadi sakit parah atau mempercepat pemulihan inang.

Profesor Motohashi Shinichiro adalah pakar imunologi di Sekolah Pascasarjana Kedokteran Universitas Chiba. Ia mengatakan diet yang seimbang serta tidur yang cukup diperlukan untuk menghasilkan sel-sel imunitas. Ia mengatakan kita harus menyadari bahwa kedua hal ini penting bagi sel-sel imunitas untuk berfungsi secara semestinya.

Informasi ini akurat hingga 24 Juni.

Q52: "Apakah nyamuk dapat menularkan virus korona?"

Situs web Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara jelas mengatakan, "Virus korona baru tidak dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk." Dijelaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada informasi maupun bukti yang mengindikasikan bahwa virus ini dapat ditularkan melalui nyamuk.

Badan dunia itu mengatakan, "Virus korona baru adalah virus pernapasan yang menyebar utamanya melalui percikan ludah yang keluar saat orang terinfeksi batuk atau bersin, atau melalui percikan air liur atau cairan dari hidung."

WHO menganjurkan, "Guna melindungi diri Anda, bersihkan tangan sering-sering dengan cairan pembersih berbasis alkohol atau cuci tangan menggunakan sabun dan air. Selain itu, hindari kontak dengan orang yang batuk atau bersin."

Informasi ini akurat hingga 30 Juni.

Q51 "Apakah menggosok gigi membantu mencegah penyebaran virus korona?"

Dosen di Universitas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Tokyo Tomachi Kenichi, mengatakan dalam kasus flu biasa, ludah diyakini berperan dalam mencegah virus menyebar dengan melingkupi virus di dalam mulut orang.

Namun, bakteri mulut bertambah ketika orang tidak menggosok gigi. Bakteri melepas enzim yang menciptakan kondisi sehingga orang mudah tertular.

Sehingga diyakini bahwa menghilangkan bakteri mulut dengan menggosok gigi akan membantu mencegah penularan.

Menurut Tonami, meskipun belum jelas apakah menggosok gigi akan memiliki efek yang sama untuk virus korona, terdapat harapan menggosok gigi secara umum merupakan langkah pencegahan.

Informasi ini akurat hingga 29 Juni.

Q49: "Apakah bisa menceritakan lebih jauh terkait wabah flu Spanyol, yang kabarnya berlangsung dalam tiga gelombang?"

Pandemi flu 1918 yang juga dikenal dengan sebutan flu Spanyol disebabkan oleh virus influenza galur baru. Badan kesehatan dunia WHO menyatakan virus ini menginfeksi sekitar 500 juta orang, atau hampir seperempat populasi dunia pada saat itu dan menewaskan 40 juta orang.

Flu Spanyol pertama kali menyebar di seluruh dunia mulai dari musim semi 1918 dan angka penularannya menurun pada musim panas. Namun gelombang kedua terjadi pada musim gugur 1918 kemudian disusul gelombang ketiga pada awal 1919.

Gelombang kedua diyakini sebagai yang mematikan dan menyebabkan setidaknya 20 juta orang meninggal di seluruh dunia. Di Jepang, wabah flu Spanyol terjadi dalam tiga gelombang, antara musim gugur 1918 hingga musim semi 1921. Catatan Kementerian Dalam Negeri menunjukkan sekitar 23,8 juta orang terinfeksi virus ini dan 390.000 orang meninggal dunia.

Jepang mengalami wabah terbesar di gelombang pertama yang dimulai pada musim gugur 1918. Saat itu 21,2 juta orang terinfeksi dan 260.000 orang meninggal dunia. Gelombang kedua yang dimulai pada musim gugur 1919 memicu wabah yang lebih kecil dengan jumlah penularan mencapai 2,4 juta kasus dengan angka kematian sejumlah 130.000. Namun, tingkat kematian di gelombang kedua tercatat sebagai yang tertinggi.

Sekarang, para pakar memperingatkan bahwa pandemi virus korona baru juga bisa terjadi dalam dua dan tiga gelombang seperti flu Spanyol.

Informasi ini akurat hingga 24 Juni.

Q48: "Dalam kondisi apa virus korona baru bereproduksi?” Apakah berkembang biak di dalam tubuh kita?"

Profesor Kunishima Hiroyuki pakar penyakit menular dari Fakultas Kedokteran Universitas St. Marianna, mengatakan virus dan bakteria adalah mikroorganisme yang menyebabkan penyakit.

Bakteria adalah bentuk kehidupan primitif yang terbuat dari sel tunggal dan bisa mereproduksi diri sendiri.

Sedangkan virus bentuknya lebih kecil dari bakteria, terdiri dari gen atau asam nukleat dan lapisan pelindung, tapi tidak memiliki sel. Virus tidak bisa mereproduksi diri sendiri. Virus hanya bisa menggandakan diri di dalam sel manusia atau binatang yang ditularinya. Artinya, virus korona baru tidak bisa bereproduksi di dinding atau di permukaan lain yang terkontaminasi virus tersebut. Namun diketahui bahwa daya tular virus bisa bertahan di permukaan benda-benda dalam waktu tertentu.

Profesor Kunishima mengatakan, kita cenderung menyentuh permukaan benda-benda yang terkontaminasi, seperti gagang pintu dan pegangan tangan saat berada di luar. Ia mengatakan, agar tidak tertular kita harus mencuci atau menggosok tangan dengan cairan disinfektan beralkohol ketika tiba di rumah atau di kantor, atau sebelum makan.

Informasi ini akurat hingga 24 Juni.

Q47: "Apakah kita dapat tertular melalui pertukaran uang tunai?"

Profesor Mikamo Hiroshige, spesialis dalam pengendalian infeksi dari Universitas Kedokteran Aichi mengatakan situasinya tergantung pada volume virusnya. Ia mengatakan jika seseorang memiliki virus tersebut pada tangannya dan menyentuh lembaran uang atau koin, lebih baik menganggap bahwa virus itu akan tetap melekat pada uang itu untuk beberapa waktu.

Untuk mencegah penularan, penting guna mencuci tangan menggunakan sabun atau mendisinfeksinya dengan alkohol atau bahan pembersih lainnya, sebelum menyentuh mulut atau hidung. Profesor Mikamo Hiroshige juga merekomendasikan langkah-langkah ini setelah kita menyentuh apapun yang kita beli.

Informasi ini akurat hingga 23 Juni.

Q46: "Bagaimana virus korona bertahan pada permukaan barang?"

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Institut Nasional Kesehatan Amerika Serikat (AS) serta organisasi-organisasi lainnya mengatakan bahwa virus tersebut cukup banyak menghilang dari permukaan objek setelah beberapa saat. Laporan itu mengatakan virus itu tidak dapat dideteksi pada tembaga setelah empat jam serta pada kardus setelah 24 jam.

Namun, virus tersebut tetap ada pada plastik selama 72 jam dan pada baja tahan karat selama 48 jam.

Informasi ini akurat hingga 22 Juni.

Q45: "Apa yang terjadi terhadap virus itu ketika dibekukan?"

Kami berbincang dengan Profesor Sugawara Erisa, seorang pakar pencegahan infeksi dari Pascasarjana Universitas Perawatan Kesehatan Tokyo.

Ia mengatakan sementara ini karakteristik virus korona baru masih banyak yang belum diketahui, tetapi sudah ada kajian internasional terhadap virus SARS yang merupakan tipe serupa lainnya dari virus itu.

Menurut kajian tersebut, sementara virus SARS mati ketika diuji pada lingkungan dengan temperatur relatif tinggi 56 derajat Celsius, virus tersebut dapat bertahan di bawah temperatur beku minus 80 derajat Celsius selama sekitar tiga pekan.

Kajian tersebut mengisyaratkan bahwa virus korona baru mungkin lemah terhadap panas tetapi relatif kuat dalam temperatur rendah.

Sugawara mengatakan, misalnya jika virus korona baru ditemukan pada permukaan barang kebutuhan pokok, diasumsikan virus korona akan bertahan di dalam lemari pendingin dan lemari pembeku selama periode waktu yang lebih panjang. Maka itu orang dianjurkan untuk mendisinfeksi bungkus bagian luar dari sayuran dan buah sebelum memasukkannya ke dalam lemari pendingin dan lemari pembeku, serta mencuci tangan mereka secara menyeluruh sebelum dan setelah memasak. Sugawara mengatakan kebanyakan produk aman dikonsumsi jika telah dipanaskan.

Informasi ini akurat hingga 19 Juni.

Q44: "Jika kemasan makanan terpapar virus korona, bisakah dihilangkan dengan memanaskannya di microwave?"

Oven microwave menggunakan gelombang elektromagnetik untuk memutar molekul air dalam makanan guna memanaskannya.

Profesor Sugiwara Erisa dari Pascasarjana Universitas Kesehatan Tokyo, seorang ahli pencegahan infeksi, mengatakan makanan itu sendiri aman untuk dikonsumsi jika dipanaskan dengan cukup di oven microwave.

Namun, ia mengungkapkan tidak ada bukti bahwa pemanasan kemasan di oven cukup untuk membuat virus tersebut kehilangan daya infeksinya. Sugawara mengatakan penting untuk mencuci tangan secara rutin sebelum dan sesudah memasak serta makan.  

Tulisan ini merujuk pada data hingga 18 Juni 2020.

Q43: "Apakah benar di negara yang menggunakan vaksin BCG dan tuberkulosis memiliki kasus kematian yang lebih rendah?"

Vaksin BCG terbuat dari galur bakteri penyebab tuberkulosis pada sapi yang dilemahkan dan itu serupa dengan bakteri yang menyebabkan penyakit tersebut pada manusia. Di Jepang, seluruh bayi mendapatkan vaksinasi BCG sebelum berusia satu tahun. Kebijakan vaksinasi BCG berbeda di setiap negara dan kawasan. Amerika Serikat dan Italia merupakan negara yang tidak memiliki program vaksinasi secara universal.

Beberapa peneliti di luar Jepang telah mengungkapkan bahwa negara dengan program vaksinasi BCG secara rutin memiliki kasus kematian virus korona yang lebih sedikit. Uji klinis tengah dilakukan di Australia dan Belanda untuk meneliti apakah BCG terkait dengan pencegahan infeksi virus korona dan mencegah gejalanya semakin parah.

Pada 3 April, Asosiasi Jepang untuk Vaksinologi menyampaikan pandangannya. Asosiasi ini mengatakan efektivitas BCG dalam melawan virus tersebut belum dibuktikan secara ilmiah dan untuk itu, pada saat ini, asosiasi tidak merekomendasikan vaksinasi sebagai langkah pencegahan.

Asosiasi itu mengatakan sejumlah orang dari generasi yang tidak mendapatkan vaksinasi BCG meminta untuk divaksinasi sebagai perlindungan dari virus korona. Namun, asosiasi tersebut menyatakan vaksin BCG digunakan bagi bayi dan kemanjuran serta keamanannya untuk lansia belum terkonfirmasi.

Asosiasi tersebut juga menjelaskan harus dihindari peningkatan penggunaan BCG di luar tujuan penerapannya, yang mungkin dapat menganggu kestabilan pasokan vaksin tersebut bagi bayi.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 17 Juni 2020.

Q42: "Apa yang akan terjadi pada virus korona yang menempel pada kulit manusia?" dan "Apakah akan bertahan di tubuh tanpa adanya gejala yang dialami pasien?"

Profesor Kunishima Horiyuki pakar penyakit menular di Universitas Kedokteran St.Marianna. Ia mengatakan virus itu tidak dapat berkembang biak kecuali masuk ke dan menginfeksi sel-sel hewan hidup.

Virus korona novel diketahui sebagian besar menginfeksi manusia melalui membran di hidung atau mulutnya dan berkembang biak di sel-sel tenggorokannya, paru-paru dan organ tubuh lainnya. Virus itu tidak dapat berkembang biak jika hanya menempel permukaan di tangan dan kaki seseorang.

Namun, jika orang yang memiliki virus di tangan itu menyentuh mata, hidung atau mulutnya maka ia dapat terinfeksi. Virus yang menempel di tangan bisa dibersihkan dengan sabun, jadi orang-orang dapat tetap bersih dengan mencuci seluruh bagian tangan atau menggunakan disinfektan seperti alkohol sebelum menyentuh wajahnya.

Sejumlah virus seperti herpes, yang menyebabkan cacar air, tetap berada di tubuh manusia bahkan setelah orang itu sembuh. Namun, secara umum virus korona berbeda, jadi setelah seseorang terinfeksi dan menunjukkan gejala, akhirnya, sistem kekebalan tubuh orang tersebut bekerja dan virus pun hilang dari tubuh.

Tulisan ini berdasarkan data pada 15 Juni 2020.

Q41: "Apakah sinar ultraviolet dari matahari atau gas ozon untuk sterilisasi efektif dalam membunuh virus korona baru?"

Profesor Ohge Hiroki, pakar penyakit menular dari Universitas Hiroshima mengatakan bahwa paparan sinar ultraviolet intensitas tinggi dengan panjang gelombang tertentu terhadap virus dan bakteri yang merupakan penyebab banyak penyakit diharapkan efektif dalam menghilangkan daya tularnya.

Sejumlah peralatan yang memancarkan sinar ultraviolet yang sangat efektif telah digunakan dan diharapkan dapat efektif dalam melawan virus korona baru. Sebuah alat tengah digunakan di Rumah Sakit Universitas Hiroshima di kamar-kamar yang sebelumnya dipakai untuk pasien virus korona yang telah diperbolehkan pulang. Sinar ultraviolet semacam itu dipancarkan ke seluruh ruangan.

Sementara itu, sinar matahari diyakini tidak efektif dalam membunuh virus serupa yang hanya dapat dihancurkan dengan peralatan yang disebutkan sebelumnya. Meskipun matahari memancarkan sinar ultraviolet, intensitasnya bervariasi dan tidak sekuat sinar yang dihasilkan peralatan sebelumnya.

Terkait gas ozon, sebuah laporan yang dirilis pada Mei lalu oleh sekelompok peneliti dari universitas-universitas di Jepang menyebutkan bahwa daya tular virus korona baru dapat hilang setelah terpapar gas ozon konsentrasi tinggi selama sekitar satu jam. Ohge mengungkapkan bahwa gas ozon yang digunakan pada eksperimen tersebut memiliki konsentrasi antara 1 hingga 6 ppm. Konsentrasi ini dianggap berbahaya bagi manusia.

Peralatan yang menggunakan gas ozon untuk mensterilisasi dan menghilangkan bau yang dijual untuk pemakaian umum tidak menggunakan gas ozon dengan konsentrasi setinggi itu. Namun, belum dipastikan apakah gas ozon dengan konsentrasi rendah juga efektif dalam melawan virus korona baru.

Badan Urusan Konsumen Jepang menyerukan agar para pengguna memastikan kepada pihak produsen jika memiliki landasan ilmiah atas klaim bahwa produknya efektif melawan virus korona, termasuk yang menggunakan gas ozon.

Artikel ini merujuk pada data hingga 12 Juni.

Q40: "Langkah pencegahan apa yang harus dilakukan saat mengenakan masker selama musim panas?"

Belahan bumi utara akan memasuki musim panas yang terik. Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan Jepang mengungkapkan diperlukan perhatian lebih dalam penanganan sengatan panas tahun ini karena banyak orang mengenakan masker sebagai langkah penanggulangan virus korona.

Kementerian menyarankan agar orang-orang melepas maskernya jika dapat menjaga jarak satu sama lain (setidaknya dua meter). Orang-orang juga diimbau agar menghindari pekerjaan berat atau berolahraga saat menggunakan masker. Kementerian juga merekomendasikan untuk meminum air secara rutin, meski tidak merasa haus.

Profesor Yokobori Shoji dari Fakultas Pascasarjana Nippon Medical School, yang merupakan pakar sengatan panas, mengungkapkan bahwa menggunakan masker tidak selalu membuat orang lebih rentan terhadap sengatan panas. Namun, ia mengatakan bahwa mengenakan masker akan membuat lebih sulit untuk bernapas.

Data menunjukkan bahwa detak jantung seseorang dapat naik sebanyak hingga 10% saat menggunakan masker. Menurut Profesor Yokobori, bertambahnya beban kerja jantung akibat olahraga atau naiknya suhu udara bisa menambah risiko sengatan panas.

Ia menyebutkan bahwa pencegahan transmisi melalui udara adalah hal yang penting.

Namun, lansia dan orang yang tinggal sendiri khususnya harus berhati-hati terhadap risiko sengatan panas. Ketika berada di luar ruangan, Profesor Yokobori menyarankan agar orang-orang tersebut melepas masker dan beristirahat di tempat-tempat yang tidak ramai seperti di bawah pohon. Ia juga merekomendasikan untuk mengganti masker jika berkeringat karena udara akan lebih sulit untuk menembus masker yang lembap.

Artikel ini merujuk pada data hingga 11 Juni.

Q39: "Apa yang harus diperhatikan ketika menggunakan penyejuk udara?"

Seiring memasuki musim panas di belahan bumi utara, beberapa orang mungkin memikirkan tentang ventilasi di ruangan ber-AC. Sebagian besar penyejuk udara di rumah menyirkulasikan kembali udara di dalam ruangan dan tidak memiliki fungsi ventilasi. Banyak orang mungkin menutup jendela saat menyalakan penyejuk ruangan.

Yamamoto Yoshihide, Profesor Madya di Universitas Politeknik Tokyo juga adalah anggota Institut Arsitektur Jepang. Bidang studi utamanya termasuk ventilasi di dalam gedung. Ia mengusulkan kombinasi penyejuk ruangan dan ventilasi alami.

Di wilayah-wilayah yang memiliki empat musim, Yamamoto merekomendasikan ketika menyalakan penyejuk ruangan pada awal musim panas saat udara tidak terlalu panas, agar membuka jendela sedikit guna menerima udara dari luar.

Ketika ruangan menjadi terlalu panas, sejukkan  udara di ruangan dengan menutup jendelanya sebentar atau agak merapatkan celah kaca jendela.

Pada pertengahan musim panas, ketika risiko sengatan udara panas meningkat, Yamamoto merekomendasikan penggunaan kipas-kipas ventilasi di rumah seperti yang digunakan di kamar mandi atau dapur. Ini bisa dilakukan ketimbang membuka jendela. Daerah tropis juga bisa menerapkan metode ini.

Kebanyakan rumah dirancang untuk menerima udara luar ketika kipas-kipas ventilasi digunakan. Ini akan membentuk aliran udara dari dalam dan luar gedung, meski jika jendelanya tertutup. Silakan bertanya kepada pakar untuk mencari tahu mengenai pengaturan ventilasi di rumah Anda.

Informasi dalam tulisan ini menggunakan data hingga 10 Juni.

Q38: "Jika saya mengalami atau menyaksikan diskriminasi yang terkait dengan COVID-19, kepada siapa saya harus berkonsultasi?"

Menurut Pakar NHK, Anda bisa menghubungi konsultasi multibahasa, Yorisoi Hotline, melalui situs webnya: https://www.since2011.net/yorisoi/n2/
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

Saluran telepon bebas pulsa: 0120-279-338 (0120-279-226 untuk provinsi Iwate, Miyagi, dan Fukushima) atau laman Facebook:
https://www.facebook.com/yorisoi2foreign
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

Anda juga dapat memperoleh informasi melalui:
Di Balik Berita: Layanan telepon multibahasa mengenai virus korona di Jepang https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/backstories/1019/

Pertanyaan berikutnya adalah "Saya disiksa oleh pasangan saya. Siapa yang dapat memberi dukungan kepada saya?"

J: Para korban kekerasan domestik memiliki banyak sumber yang dapat menghubungi banyak sumber, termasuk melakukan konsultasi melalui telepon dan media sosial. Anda dapat menerima layanan penerjemahan di tempat dan informasi tempat perlindungan.

■Konsultasi melalui media sosial, tersedia selama 24 jam, dalam 11 bahasa. Silakan mengunjungi https://soudanplus.jp/language.html
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

■Pusat Konsultasi Kekerasan Pasangan dan Layanan Dukungan:
0570-0-55210 (hanya bahasa Jepang). Anda akan terhubung dengan pusat konsultasi terdekat.

■Layanan saluran siaga (Hotline Plus) kekerasan domestik:
0120-279-889 (hanya bahasa Jepang).

Pertanyaan ketiga adalah "Saya hamil. Apa yang harus saya perhatikan?"

J: Meski bukti menunjukkan perempuan hamil tidak berisiko lebih besar mengalami sakit yang serius dibandingkan orang dewasa sehat, infeksi virus korona selama trimester ketiga dapat memiliki perkembangan dan keparahan yang sama seperti perempuan tidak hamil.

Data tersebut menunjukkan bahwa Anda tidak perlu terlalu khawatir mengenai COVID-19 selama kehamilan. Namun, Anda harus terus melakukan langkah-langkah pencegahan seperti menghindari keramaian, mencuci tangan secara rutin, menjaga kesehatan fisik dan mental Anda setiap hari.

■ Informasi lebih detail, silakan kunjungi tautan multibahasa ini:
https://share.or.jp/english/news/for_pregnant_womencovid-19_countermeasures.html
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

Silakan klik tautan di bawah ini untuk program domestik kami versi Heart Net TV dalam bahasa Jepang sederhana.
https://www.nhk.or.jp/heart-net/article/339/
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

Q37: "Ketika masa berlaku visa sudah habis, apakah dapat terus bekerja selama masa perpanjangan visa tersebut?"

Di Jepang, warga negara asing diberikan perpanjangan waktu tiga bulan untuk mengajukan permohonan visa, baik untuk perubahan status kependudukan maupun perpanjangan masa tinggal.

Anda dapat melanjutkan bekerja berdasarkan kondisi tertentu. Badan Layanan Imigrasi memberitahu NHK WORLD JAPAN pada 2 Juni bahwa dalam masa perpanjangan khusus ini, Anda diberi izin untuk bekerja dengan kondisi yang persis sama dengan status tinggal sebelumnya. Namun, jika Anda memerlukan perubahan syarat-syarat tertentu, termasuk jenis pekerjaan dan perusahaan tempat bekerja, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu ke Badan Layanan Imigrasi. 

"Apakah saya akan kehilangan status tinggal bekerja atau belajar dengan izin kerja paruh waktu jika saya tidak dapat bekerja atau sekolah?"

Status Anda tidak akan dicabut jika Anda tidak dapat bekerja atau belajar akibat dampak virus korona. Namun, Anda harus dapat menunjukkan bukti bahwa Anda terdampak salah satu dari lima hal berikut:

1. Pemilik usaha atau perusahaan tempat Anda bekerja harus secara sementara menghentikan operasional usaha.

2. Anda berhenti bekerja dan tengah mencari pekerjaan melalui internet, atau mendapatkan tawaran pekerjaan tetapi tidak bisa pergi ke perusahaan itu.

3. Jika lembaga pendidikan tempat Anda bersekolah tutup, termasuk kasus di mana institusi yang sedianya Anda akan masuki tutup.

4. Jika lembaga pendidikan tempat Anda bersekolah tutup dan tidak bisa merampungkan prosedur-prosedur yang diperlukan agar Anda masuk ke lembaga lain.

5. Jika Anda tengah dirawat di rumah sakit, termasuk karena COVID-19, dan perawatan diperpanjang dan Anda harus cuti.

Silakan lihat laman web berikut, yang hanya tersedia dalam bahasa Jepang, dan jika ragu, silakan konfirmasi langsung ke Badan Layanan Imigrasi di http://www.moj.go.jp/content/001319592.pdf

Informasi ini akurat per tanggal 5 Juni.

Q36: "Apa yang terjadi jika status visa ‘pengunjung sementara’ habis masa berlakunya, tetapi tidak dapat kembali ke negara asal?"

Anda akan mendapatkan perpanjangan 90 hari.
Untuk detailnya, silakan lihat
http://www.moj.go.jp/content/001316293.pdf 
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

"Jika masa berlaku visa berakhir antara Maret dan Juli apakah akan diperpanjang secara otomatis selama tiga bulan?"

"Tidak". Tetapi warga negara asing diberikan perpanjangan selama tiga bulan guna mengajukan permohonan visa, baik untuk pengubahan status kependudukan maupun perpanjangan masa tinggal. Langkah ini untuk mengurangi kepadatan di loket imigrasi. Hanya bagi yang visanya habis antara Maret dan Juli 2020, pemerintah memberikan masa permohonan yang diperpanjang selama tiga bulan sejak tanggal habis berlakunya masa tinggal. Dengan kata lain, jika visa Anda habis berlaku pada 11 Mei, Anda memiliki waktu hingga 11 Agustus untuk mengajukan perpanjangan.

Untuk informasi multibahasa, silakan buka tautan di bawah ini:
http://www.moj.go.jp/content/001316300.pdf
*Anda akan meninggalkan situs web NHK WORLD-JAPAN

Informasi ini akurat per tanggal 4 Juni.

Prosedur permohonan visa berubah-ubah, khususnya sekarang dengan situasi virus korona ini. Karena kasus tiap orang berbeda, silakan hubungi kantor imigrasi jika Anda memiliki pertanyaan.

Q35: "Hingga suhu berapa virus korona dapat bertahan, dan apakah memasak makanan akan membunuhnya?"

Para pakar menjawab virus korona baru dapat bertahan pada suhu 37 derajat Celcius selama satu hari tetapi pada suhu 57 derajat Celcius virus korona akan mati dalam 30 menit.

Para peneliti menemukan virus korona menjadi tidak terlacak dalam lima menit pada suhu 70 derajat Celcius.

Sugawara Erisa dari Asosiasai Jepang untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular mengatakan tidak ada kasus terkonfirmasi yang terkait dengan makanan yang terkontaminasi terlepas apakah makanan itu dipanaskan dan dimasak dengan suhu yang cukup untuk membunuh virus.

Tulisan ini berdasarkan data hingga 1 Juni.

Q34: "Apa yang harus saya lakukan jika kesulitan membayar uang sewa tempat tinggal?"

Orang-orang yang kehilangan pekerjaannya atau pendapatannya menurun akibat pandemi bisa mendaftar dana bantuan untuk membayar uang sewa tempat tinggal. Kelayakannya ditentukan berdasarkan penilaian atas pendapatan dan tabungan setiap rumah tangga.

Dana yang disediakan untuk program ini hanya untuk membantu pembayaran uang sewa tempat tinggal, tidak mencakup pembayaran kredit pemilikan rumah.

Dananya mencakup 3 bulan uang sewa hingga maksimal 9 bulan jika memenuhi persyaratan. Bantuan ini tidak harus dikembalikan.

Sebelum mendaftar dana bantuan ini, diharuskan untuk terlebih dahulu berkonsultasi melalui telepon dengan pusat bantuan diri di kantor pemerintah kota. Pusat konsultasi bisa dihubungi setiap hari dari pukul 9 pagi hingga 9 malam. Layanan ini hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Nomornya adalah 0120-23-5572.

Artikel ini menggunakan data tertanggal 22 Mei.

Q33: "Cara mendaftar program dana bantuan di Jepang"

Dewan kesejahteraan sosial di seluruh provinsi di Jepang menyediakan sistem pinjaman bagi rumah tangga yang kesulitan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari setelah pekerjaannya terhenti imbas virus korona. Bantuan ini adalah pinjaman dan harus dibayar kembali.

"Dana darurat berjumlah kecil" terutama ditujukan bagi rumah tangga yang pendapatannya menurun karena pekerjaannya terhenti untuk sementara waktu. Dana bantuan yang tersedia mencapai hingga 200.000 yen atau sekitar 25 juta rupiah.

Berikutnya adalah "dana bantuan umum" terutama ditujukan bagi rumah tangga dengan anggota keluarga yang sekarang tidak bekerja atau pendapatannya menurun. Batas jumlah pinjaman untuk satu rumah tangga yang terdiri dari dua orang atau lebih adalah 200.000 yen atau sekitar 25 juta rupiah per bulan. Untuk rumah tangga yang terdiri dari satu orang batas pinjamannya adalah 150.000 yen atau sekitar 19 juta rupiah.

Secara prinsip, periode pinjamannya adalah tiga bulan.

Pusat layanan informasi untuk pinjaman ini tersedia setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 9 malam. Nomornya adalah 0120-46-1999. Layanan telepon ini hanya tersedia dalam bahasa Jepang. 

Artikel ini menggunakan data tertanggal 22 Mei.

Q32: "Apakah virus korona yang menular di binatang peliharaan?"

Sejumlah orang bertanya tentang informasi ini setelah ada laporan yang menyebutkan bahwa virus korona baru bisa menular di antara kucing-kucing.

Profesor Kawaoka Yoshihiro dari Institut Sains Medis Universitas Tokyo, dan para peneliti lain di Universitas Wisconsin melakukan uji coba dengan menularkan virus korona ke tiga kucing, dan setiap kucing tersebut kemudian ditempatkan dengan kucing-kucing yang tidak terinfeksi.

Para peneliti menyatakan kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala, tetapi virus tersebut terdeteksi di semua kucing setelah dilakukan uji usap melalui hidung. Dua dari tiga kucing tersebut mendapatkan hasil positif virus selama enam hari. Para peneliti menyatakan tiga kucing yang sebelumnya tidak terinfeksi kemudian dinyatakan positif virus dalam kurun waktu tiga hingga enam hari setelah ditempatkan bersama kucing yang terinfeksi. Hal itu mengindikasikan adanya penyebaran virus.

Tim ini menyatakan hasil tersebut mengindikasikan bahwa virus korona bisa berkembang biak dengan cepat di organ pernapasan dan bisa menyebar dengan mudah di antara kucing.

Para peneliti menyatakan, karena kucing yang terinfeksi mungkin tidak menunjukkan adanya gejala dan bisa menyebarkan virus tanpa diketahui oleh pemiliknya, maka para pemilik kucing direkomendasikan untuk tetap menjaga binatang peliharaannya di dalam ruangan.

Artikel ini merujuk pada data tertanggal 21 Mei.

Q31 "Apa yang harus dilakukan ketika timbul gangguan indra perasa."

Pakar penyakit menular Sakamoto Fumie dari Rumah Sakit St. Lukes di Jepang akan menjawab pertanyaan mengenai virus korona baru. Pertanyaan hari ini adalah apa yang harus dilakukan ketika timbul gangguan indra perasa.

Sakamoto mengatakan bahwa paling banyak sekitar 30 persen pasien virus korona dikabarkan mengalami gejala kehilangan indra perasa atau penciuman makanan. Jika gejala tersebut timbul, ada kemungkinan seseorang telah terjangkiti virus itu. Namun, gejala serupa juga dapat muncul saat seseorang terjangkiti penyakit menular lainnya. Setelah mengamati gejala itu selama beberapa saat, pertimbangkanlah untuk menemui dokter jika berlanjut mengalami demam atau kesulitan bernapas.

Q30: "Risiko bagi anak-anak menghabiskan waktu di luar ruang bersama kawan-kawannya saat terjadi pandemi."

Sejumlah SD dan SMP telah membuka kembali lapangan bermain sekolahnya untuk memungkinkan anak-anak menghabiskan waktu selama penutupan sekolah di penjuru negeri yang berkepanjangan. Banyak orang tua mungkin memikirkan apakah ada risiko penularan, meskipun mereka ingin anak-anaknya bergaul bersama kawan-kawannya untuk mengurangi stress yang diakibatkan berdiam saja di rumah selama berhari-hari.

Pakar penyakit menular dari Rumah Sakit Internasional St. Lukes di Jepang, Sakamoto Fumie, mengatakan tampaknya kini tidak ada masalah besar jika orang tua memperhatikan hal-hal seperti mengurangi jumlah anak yang berkumpul bersamaan semaksimal mungkin dan merampungkannya dalam waktu singkat, selain juga membuat anak-anak mencuci tangan setelah pulang ke rumah.

Tulisan ini menggunakan data hingga 13 Mei.

Q29: "Bagaimana pemerintah Jepang merevisi kriteria bagi tes virus korona dan mengapa?"

Kementerian Kesehatan Jepang telah merevisi kriteria bagi orang yang akan mendapatkan tes virus korona.

Kriteria lama merekomendasikan hanya orang dengan demam 37,5 derajat Celsius atau lebih selama empat hari harus menghubungi pusat kesehatan.

Standar yang baru tidak mengindikasikan temperatur tertentu. Malah, standar tersebut mengatakan orang-orang “yang mengalami kesulitan bernapas, kelelahan serius, dan demam tinggi” serta “mereka yang batuk, mengalami  demam, dan gejala influenza ringan lainnya selama empat hari atau lebih” harus berupaya untuk berobat.

Para pakar khawatir bahwa standar yang lama terlalu ketat dan menghasilkan jumlah tes yang rendah.

Kementerian Kesehatan mengatakan pihaknya memiliki kapasitas melakukan lebih dari 17.000 tes per hari. Namun jumlah yang sebenarnya dilaksanakan adalah jauh lebih rendah, yaitu sekitar 9.000 per hari.

Nishimura Hidekazu, Direktur Pusat Riset Virus di Pusat Medis Sendai mengatakan kriteria baru ini akan sangat membantu. “Standar baru ini akan mencegah dokter mengabaikan pasien penderita pneumonia yang tidak parah namun bisa menjadi parah,” tutur Nishimura.

Ia menambahkan, “Terdapat risiko tidak tersedia cukup tes, terutama di kawasan perkotaan seperti Tokyo, di mana jumlah orang yang tertular adalah tinggi. Ini artinya akan lebih diperlukan dibandingkan sebelumnya untuk secara tepat menentukan pasien mana yang paling memerlukan tes.”

Tulisan ini menggunakan data hingga 12 Mei.

Q28: "Risiko berjalan kaki atau joging di luar ruang"

Perdana Menteri Jepang Abe Shinzo meminta warga agar menghindari bepergian untuk keperluan yang tidak penting dan tidak mendesak dalam konferensi pers ketika mendeklarasikan keadaan darurat.

Abe juga mengatakan tidak masalah untuk berjalan kaki atau joging di luar ruang, yang mungkin terdengar bertolak belakang.

Pakar penyakit menular dari RS Internasional St.Lukes di Jepang Sakamoto Fumie mengatakan bahwa kita tidak harus melupakan tujuan utama dari deklarasi tersebut, mengkampanyekan agar orang menjaga jarak tertentu dengan orang lain. Harus dihindari juga melakukan joging sembari mengobrol dengan orang lain, karena percikan ludah dapat saling menyebar. Namun, joging di luar sendirian di tempat tidak ada orang, risiko besar tidak akan muncul.

Q27: "Bagaimana berbelanja di toko swalayan dengan hati-hati?"

Pakar penyakit menular dari RS Internasional St.Lukes di Jepang, Sakamoto Fumie menjawab bahwa kita harus mendisinfeksi tangan termasuk telapak tangan, sela-sela jari dan pergelangan tangan dengan disinfektan yang dipasang di pintu masuk toko swalayan. Ia juga menambahkan sebaiknya pergi ke toko swalayan pada waktu yang tidak padat pengunjung.

Q25: "Bagaimana berhati-hati di tempat kursus golf?"

Seorang pakar penyakit menular dari RS Internasional St. Lukes di Jepang menjawab bahwa golf tidak berisiko bagi infeksi karena itu merupakan olahraga luar ruang. Namun, olahraga golf dengan orang dalam jumlah banyak berisiko besar. Kursus golf dilakukan di luar dan bukan di tempat tertutup.

Tetapi, menggunakan ruangan atau makan di tempat dengan banyak orang akan menyebabkan risiko yang lebih besar. Selain itu, kita harus berhati-hati mengenai risko infeksi setelah memegang wajah dengan tangan yang menyentuh banyak tempat yang disentuh banyak orang.

Q24: "Bagaimana mengatasi situasi ketika orang yang tinggal dalam satu rumah terinfeksi virus tersebut?"

Pakar penyakit menular dari RS Internasional St. Lukes di Jepang Sakamoto Fumie menjawab setiap orang yang tinggal di rumah bersama seperti rumah indekos memiliki kamar tidur pribadi, tetapi mereka menggunakan dapur dan kamar mandi yang sama. Sakamoto mengatakan yang penting untuk dilakukan adalah mendisinfeksi tempat-tempat yang sering disentuh, seperti keran air atau sakelar listrik, dengan detergen yang encer atau jika ada dengan disinfektan berbahan alkohol.

Q23: "Apa yang harus kira perhatikan ketika naik lift?"

Pakar penyakit menular di RS Internasional St. Lukes di Jepang, Sakamoto Fumie mengatakan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan adalah menghindari naik lift yang banyak orang dan menghindari berbicara dengan orang lain ketika berada di dalamnya.

Kita tidak dapat menggunakan tangga untuk naik ke lantai 10 atau 20 dari sebuah bangunan. Langkah-langkah seperti itu akan mengurangi kemungkinan infeksi. Sakamoto mengatakan penting agar tidak menyentuh wajah Anda dengan tangan yang menekan tombol lift. Selain itu penting untuk mencuci tangan dengan sabun dan air secepatnya setelah menyentuh tombol lift.

Q22: "Efektivitas penggunaan masker"

Pakar penyakit menular Sakamoto Fumie dari Rumah Sakit Internasional St. Lukes di Jepang akan menjawab pertanyaan seputar virus korona baru. Pertanyaan kali ini adalah mengenai efektivitas penggunaan masker sekali pakai, serta masker yang terbuat dari bahan katun yang bisa dicuci dan digunakan kembali.

Sakamoto mengatakan bahwa berbagai eksperimen tengah dilakukan terkait seberapa efektif pemakaian masker terhadap virus. Eksperimen menunjukkan bahwa jenis masker apa pun memiliki efektivitas hingga tingkat tertentu untuk menahan percikan ludah yang keluar saat kita batuk dan bersin. Bagaimanapun, Sakamoto mengungkapkan bahwa efektivitasnya tidak sempurna untuk kedua jenis masker tersebut, dan sejumlah kecil percikan ludah tetap bisa menyebar. Oleh karena itu, lebih aman untuk menghindari keluar rumah ketika Anda batuk dan bersin.

Q21: "Pasien-pasien yang tidak menunjukkan gejala"

Pakar penyakit menular Sakamoto Fumie dari Rumah Sakit Internasional St. Lukes di Jepang yang akan menjawab pertanyaan seputar virus korona baru. Pertanyaan kali ini adalah mengenai pasien-pasien virus korona yang tidak menunjukkan gejala meskipun telah dinyatakan positif tertular virus tersebut.

Sakamoto mengatakan bahwa sebagian pasien dapat pulih dengan sendirinya tanpa menunjukkan gejala apa pun. Sebuah tim riset di Cina melaporkan bahwa setengah dari pasien yang disurvei menunjukkan gejala ringan atau tanpa gejala sama sekali. Meskipun demikian, Sakamoto mengungkapkan bahwa pengamatan atas pasien harus dilakukan selama sekitar satu pekan karena sebagian di antaranya secara perlahan menjadi sakit parah.

Q20: "Bisakah saya menggunakan minuman berkadar alkohol tinggi sebagai pengganti cairan pembersih?"

Kementerian Kesehatan Jepang telah memutuskan untuk memperbolehkan pemakaian minuman berkadar alkohol tinggi sebagai pengganti cairan pembersih guna mengisi kekurangan pasokan akibat pandemi virus korona. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap seruan dari sejumlah institusi medis dan tempat perawatan lansia yang kesulitan mendapatkan cairan pembersih berbasis alkohol.

Pada April lalu, kementerian menyampaikan kepada fasilitas-fasilitas tersebut bahwa minuman dengan kandungan alkohol tinggi yang diproduksi oleh produsen minuman bisa digunakan jika mereka tidak dapat menemukan cairan pembersih yang layak.

Minuman dengan kandungan alkohol antara 70 hingga 83 persen dapat digunakan. Sebagian minuman vodka masuk dalam kategori ini.

Para pejabat kementerian menyebutkan bahwa minuman dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi dari itu memiliki kemampuan membersihkan yang lebih rendah dan harus diencerkan sebelum digunakan. Para pejabat tersebut menekankan bahwa ini adalah langkah pengecualian untuk mengatasi kekurangan cairan pembersih, terutama di institusi medis. Mereka menyerukan masyarakat agar tetap mencuci tangan dengan benar di rumah guna mencegah penyebaran infeksi virus korona.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 27 April.

Q18: "Bagaimana deklarasi keadaan darurat memengaruhi kehidupan kita?" (Bagian 2)

◎Pertama… mengenai masker yang makin sulit didapat di Jepang.

Berdasarkan dalam UU langkah-langkah khusus tentang virus korona, para gubernur dapat meminta perusahaan untuk menjual masker dan barang-barang kebutuhan lainnya ke pemerintah lokal. Jika perusahaan menolak memenuhi permintaan tersebut, gubernur diizinkan untuk mengambil alih barang-barang tersebut.

Pemerintah pusat telah membeli dan mengirimkan masker kepada warga di Hokkaido dan institusi medis berdasarkan pada UU terpisah yaitu UU Langkah-langkah Darurat untuk Menstabilkan Kondisi Kehidupan Masyarakat tahun 1973 yang disahkan untuk merespons krisis minyak global.

◎Deklarasi keadaan darurat juga mengizinkan gubernur untuk melakukan sejumlah langkah-langkah penegakkan hukum.

Gubernur dapat menggunakan lahan atau bangunan tanpa izin dari pemiliknya untuk membangun fasilitas medis.

Mereka juga dapat memerintahkan perusahaan untuk mencadangkan pasokan medis, makanan dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Jika perusahaan tidak memenuhi perintah tersebut dan menyembunyikan atau menyingkirkan produk tersebut, sebagai contoh, maka dapat dipenjara hingga hingga enam bulan atau denda hingga 300.000 yen, atau sekitar 2.800 dolar. Hanya dua langkah itu yang mencantumkan hukuman.

Deklarasi darurat Jepang termasuk beberapa langkah penegakkan hukum dan tidak akan mengarah pada karantina wilayah yang diterapkan di negara lain. Namun, deklarasi itu diharapkan dapat mendorong warga dan perusahaan untuk bekerja sama dalam membendung wabah tersebut.

◎Bagaimana deklarasi itu memengaruhi layanan medis Jepang?

Institusi medis tidak termasuk fasilitas yang dapat diminta tutup oleh gubernur, jadi dapat tetap buka. Selain itu, kunjungan ke fasilitas medis dipertimbangkan sebagai hal penting yang tidak akan dibatasi meski warga diminta untuk di rumah saja. Namun, pemerintah daerah akan mengatur untuk bersiap menghadapi puncak wabah, seperti memilih fasilitas yang terutama menerima pasien virus korona dan memindahkan pasien lain ke fasilitas berbeda. Kementerian Kesehatan Jepang juga berencana untuk melonggarkan persyaratan untuk melakukan konsultasi online dengan dokter. Saat ini, konsultasi online dengan dokter hanya dapat dilakukan setelah pertemuan tatap muka dengan dokter. Namun, kementerian juga akan mengizinkan perawatan secara online dari tahap awal.

◎Bagaimana pengaruh terhadap tempat perawatan lansia?

Gubernur provinsi sebagai pelaku deklarasi darurat dapat meminta penutupan dan menurunkan skala operasi fasilitas perawatan lansia yang menyediakan perawatan harian dan perawatan inap jangka pendek. Tempat perawatan yang menutup fasilitas mereka akan diminta untuk terus menyediakan layanan yang dibutuhkan dengan cara alternatif, seperti mengirimkan staf ke rumah-rumah pengguna. Gubernur tidak dapat meminta penutupan fasilitas perawatan tetap dan penyedia layanan perawatan di rumah. Penyedia layanan ini diminta untuk melanjutkan layanan mereka sembari melakukan langkah-langkah preventif.

◎Bagaimana dengan fasilitas penitipan anak?

Gubernur dapat membatasi penggunaan pusat penitipan anak jika langkah-langkah itu dibutuhkan untuk mencegah penyebaran virus, dimungkinkan untuk menutup sementara fasilitas seperti itu. Bahkan meski tanpa permintaan dari gubernur, setiap kota di daerah tertentu dapat mempertimbangkan kebutuhan untuk mengurangi penerimaan jumlah anak-anak. Orang tua yang dapat bekerja di rumah atau mengambil cuti akan diminta untuk tidak menggunakan penitipan anak. Pemerintah kota juga memiliki pilihan untuk menutup sementara fasilitas penitipan anak jika seorang anak atau perawat anak terinfeksi atau ketika ada peningkatan jumlah kasus yang signifikan di daerah tersebut. Meski begitu, pemerintah kota akan mempelajari cara lain untuk menyediakan fasilitas penitipan anak bagi para pekerja layanan kesehatan dan orang lain yang bekerja dalam bidang yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat juga orang tua tunggal yang tidak dapat cuti dari pekerjaan.

◎Selanjutnya, kantor inspeksi standar pekerja dan pusat penempatan kerja.

Secara prinsip, fasilitas-fasilitas tersebut dapat menangani kekhawatiran yang berkaitan dengan ketenagakerjaan akan tetap buka seperti biasa. Meski begitu, pusat penempatan kerja dapat mengurangi skala operasinya tergantung pada situasi penularan di setiap daerah.

◎Apa yang akan terjadi terhadap layanan transportasi publik?

Pada 7 April, sebelum Perdana Menteri Abe Shinzo memberlakukan keadaan darurat, Menteri Transportasi Akaba Kazuyoshi mengatakan kepada wartawan bahwa meski diberlakukan keadaan darurat, transportasi publik dan logistik akan diminta untuk tetap menjalankan fungsinya.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 8 April.

Q17: "Bagaimana deklarasi keadaan darurat memengaruhi kehidupan kita?" (Bagian 1)

Pertama, tentang bepergian

Para gubernur di provinsi tertentu dapat meminta warga di area tertentu agar menghindari bepergian untuk keperluan yang tidak mendesak selama periode tertentu.

Sejumlah pengecualian mencakup kunjungan ke rumah sakit, belanja kebutuhan sehari-hari, dan bekerja. Permintaan itu bukan merupakan kewajiban, tetapi warga terpaksa bekerja sama dan melakukan upaya yang terbaik.

Berikutnya, mengenai sekolah

Para gubernur dapat meminta atau memerintahkan sekolah untuk tutup, berdasarkan pada UU khusus yang disahkan pada bulan lalu.

Para gubernur memiliki otoritas untuk menutup SMA provinsi. Mereka dapat meminta sekolah swasta, dan SD serta SMP yang berada dalam wilayah hukum kota untuk tutup. Mereka dapat memerintahkan penutupan tersebut jika sekolah tidak mematuhinya, tetapi tidak ada sanksi.

Mengenai fasilitas dan toko-toko…

UU mengizinkan para gubernur untuk mengajukan pembatasan penggunaan sejumlah fasilitas dengan tujuan mencegah penyebaran infeksi. Mereka juga dapat meminta pembatasan atau pelarangan operasi sejumlah fasilitas berskala besar yang memiliki luas lantai lebih dari 1.000 meter persegi. Sejumlah fasilitas yang memiliki luas lantai lebih kecil dari ukuran tersebut mungkin akan diberikan perintah serupa jika dianggap perlu.

Berikut merupakan daftar dari fasilitas dalam kategori tersebut: tempat pertunjukkan dan bioskop, lokasi acara, toserba, toko swalayan, hotel dan penginapan, gedung olahraga dan kolam renang, museum, perpustakaan, klub malam, sekolah mengemudi dan tempat bimbingan belajar.

Toko swalayan yang diizinkan untuk membuka bagian yang menjual barang-barang kebutuhan seperti makanan, obat dan produk kebersihan. Ketika sejumlah fasilitas tidak menjalankan permintaan tersebut, gubernur dapat memerintahkannya. Mereka mempublikasikan nama-nama fasiitas yang diberikan perintah tersebut.

Mengenai acara dan pameran…

Dalam UU yang baru, para gubernur dapat meminta penyelenggara untuk tidak menggelar acara. Jika penyelenggara tidak mematuhinya, para gubernur dapat memerintahkan mereka untuk menghentikannya.

Para gubernur mempublikasikan nama-nama penyelenggara yang diberikan perintah di situs web provinsi atau media lain.

Dan, mengenai perusahaan utilitas.

Deklarasi keadaan darurat tidak berdampak pada perusahaan utilitas yang penting. Penyedia layanan listrik, gas dan air diminta untuk menerapkan langkah-langkah untuk menjamin pasokan yang stabil.

Operator transportasi, telepon, internet dan layanan pos juga diminta untuk tetap beroperasi. UU tersebut tidak seharusnya membatasi operasi transportasi publik. Perdana menteri dan para gubernur dapat melakukan langkah-langkah agar sistem transportasi berjalan untuk memenuhi persyaratan minimum.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 7 April.

Q16: "Seberapa efektifkah obat Avigan?"

Avigan, yang juga dikenal sebagai Favipiravir, adalah obat antiinfluenza yang dikembangkan sebuah perusahaan farmasi Jepang enam tahun lalu. Terdapat laporan mengenai efek samping dalam uji coba terhadap hewan-hewan laboratorium, sehingga pemerintah Jepang belum menyetujui penggunaannya terhadap sejumlah orang seperti wanita hamil. Avigan kini akan diberikan kepada para pasien yang terinfeksi virus korona baru hanya dalam sejumlah kasus yang mendapatkan persetujuan pemerintah.

Hingga saat ini, tidak ada obat-obatan lain yang diketahui dapat secara efektif merawat pasien virus korona baru, tetapi Avigan diperkirakan akan efektif melawan virus korona baru yang bermutipel sama seperti virus influenza. Penelitian mengenai efek-efek obat ini tengah dilakukan di banyak bagian dunia.

Pemerintah Cina telah mengumumkan sejumlah hasil penelitian klinis yang dilakukan di dua institusi medis. Salah satunya adalah di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, yang melibatkan 80 pasien. Pasien yang tidak diberikan Avigan membutuhkan rata-rata 11 hari pada hasil tesnya untuk berubah dari positif menjadi negatif. Sementara bagi pasien yang diberikan obat tersebut rata-rata 4 hari. Sinar X para pasien menunjukkan bahwa kondisi paru-paru dari 62 persen yang tidak diberikan Avigan telah membaik, sementara 91 persen yang diberikan obat tersebut menjadi lebih baik.

Pemerintah Cina mengumumkan bahwa hasil tersebut mendorong pemerintah untuk secara resmi memasukkan Avigan sebagai salah satu obat untuk merawat pasien yang terinfeksi virus korona baru.

Di Jepang, penelitian klinis yang melibatkan 80 pasien dengan gejala-gejala ringan atau tanpa gejala tengah dilakukan di institusi seperti Rumah Sakit Universitas Fujita di Provinsi Aichi sejak Maret. Para peneliti tengah membandingkan seberapa banyak obat tersebut dapat mengurangi jumlah virus.

Perusahaan Jepang yang memproduksi Avigan mengumumkan telah memulai percobaan klinis untuk mendapatkan persetujuan pemerintah. Jika efektivitas dan keselamatan obat tersebut dapat dipastikan, perusahaan itu berencana mengajukan persetujuan pada pemerintah.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 6 April.

Q15: "Apakah virus tersebut tengah bermutasi di Kota Wuhan Cina, Italia, dan negara-negara Eropa lainnya?"

Pada awal Maret, sebuah kelompok penelitian asal Cina menganalisis gen-gen virus korona yang diambil dari 100 lebih pasien virus korona di seluruh dunia. Tim itu menemukan sejumlah perbedaan pada gen-gen tersebut yang dikarakteristikkan menjadi dua tipe virus korona, yaitu tipe L dan tipe S.

Tim tersebut menemukan bahwa tipe S memiliki susunan genetik yang dekat dengan virus korona yang ditemukan pada kelelawar. Virus tipe L lazimnya ditemukan pada pasien dari negara-negara Eropa dan diyakini merupakan bentuk virus yang lebih baru dibandingkan tipe S.

Profesor Ito Masahiro dari Departemen Ilmu Biologi Universitas Ritsumeikan yang tengah mempelajari karakteristik virus tersebut mengatakan virus korona bermutasi dengan mudah, dan diyakini mengalami sejumlah perubahan lewat lebih banyak orang yang terinfeksi serta penyebaran virus secara berulang.

Sementara itu, mengenai kemungkinan virus yang bermutasi membuatnya lebih mudah ditularkan, Ito mengatakan virus tersebut masih pada tahap di mana susunan genetiknya belum banyak berubah. Meski terdapat perbedaan pada gen tipe L dan tipe S, namun kurang informasi yang memadai mengenai tipe mana yang mengarah pada gejala yang lebih parah. Ito menyebutkan, walaupun tingkat keparahan penyakit dan tingkat kematiannya berbeda di tiap negara, diyakini variasi-variasi tersebut diakibatkan oleh orang-orang sendiri, termasuk perbedaan pada rasio populasi lansia, kebudayaaan, dan budaya makanan di negara itu.

Tulisan ini merujuk pada data hingga 3 April.

Q14: "Apakah orang-orang yang lebih muda bisa mengalami sakit parah saat terinfeksi?"

Para pakar pernah mengatakan bahwa para lansia dan mereka dengan kondisi kesehatan serius cenderung mengalami gejala yang serius saat terinfeksi. Namun bulan lalu, laporan di media menyebutkan seorang wanita berusia 21 tahun di Inggris, dan perempuan berusia 16 tahun di Prancis, yang tidak memiliki riwayat penyakit serius meninggal akibat terinfeksi virus korona. Kasus-kasus terbaru menunjukkan beberapa anak muda juga bisa mengalami sakit serius.

Jepang juga mencatat kasus sakit serius yang dialami orang-orang yang relatif muda. Kutsuna Satoshi dari Pusat Nasional untuk Pengobatan dan Kesehatan Global menyatakan di antara 30 pasien lebih yang ia rawat, seorang pria berusia awal 40-an tahun yang tidak memiliki riwayat penyakit mengalami gejala yang serius.

Kutsuna mengatakan pria tersebut hanya mengalami demam dan batuk di beberapa hari pertama tapi sepekan setelah mengalami pneumonia serius, ia membutuhkan alat bantu pernapasan karena kondisi pernapasannya memburuk dengan cepat. Pria itu kemudian telah pulih.

Kutsuna mengatakan bahwa anak-anak muda tidak boleh berpikir bahwa mereka baik-baik saja karena kalangan muda juga bisa mengalami sakit yang serius.

WHO memperingatkan bahwa ada banyak kasus yang terjadi di kalangan berusia 50 tahun ke bawah yang dirawat di rumah sakit. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS melaporkan bahwa 2 hingga 4 persen orang yang terinfeksi di kalangan usia antara 20 hingga 44 tahun dirawat di unit perawatan intensif. Data tersebut tercatat hingga 2 April.

Q13: "Selama wabah SARS pada 2003, saya mendengar ada kasus virus menyebar melalui air limbah yang bocor dari pipa pembuangan. Virus korona baru disebutkan mirip dengan virus korona SARS. Apakah kondisi serupa terjadi dengan virus korona baru?"

Jawaban pakar: virus baru dan virus SARS merupakan satu keluarga yang sama dari virus korona. virus korona yang menyebabkan SARS dikenal tak hanya berkembang biak di tenggorokan dan paru-paru saja, tetapi juga di usus. Ketika virus SARS menyebar di antara orang-orang di sejumlah negara pada 2003, infeksi massal juga dilaporkan di sebuah kondominium di Hong Kong. Diduga infeksi massal itu disebabkan oleh percikan ludah yang mengandung virus yang bocor dari pipa pembuangan.

Profesor Kaku Mitsuo dari Universitas Kedokteran dan Farmasi Tohoku merupakan seorang ahli langkah-langkah pencegahan infeksi. Ia mengungkapkan bahwa terdapat risiko yang rendah virus menyebar melalui pipa pembuangan di negara-negara yang secara relatif memiliki tingkat kondisi kebersihan tinggi. Namun, ia mengatakan kemungkinan bagi virus menempel di permukaan toilet dan tempat di sekitarnya serta Anda dapat tertular karena menyentuh permukaan yang tercemar dengan tangan Anda.

Menurut Profesor Kaku, orang-orang harus menutup tutup toilet sebelum membilasnya dan memastikan mencuci tangan mereka sepenuhnya setelah menggunakan toilet. Ia mengatakan orang-orang harus berupaya untuk menjaga kebersihan dalam kehidupan sehar-hari, seperti membersihkan keran, wastafel, dan gagang pintu dengan disinfektan.

Tulisan ini dibuat berdasarkan data hingga 1 April.

Q11: "Apakah Sabun Lebih Efektif Dari Alkohol?"

Q11: Apakah Sabun Lebih Efektif Dari Alkohol?

Sakamoto Fumie, spesialis pengendalian penyakit menular dari Rumah Sakit Internasional St. Luke di Tokyo mengatakan sabun memiliki efek yang sama dengan alkohol dalam tingkat tertentu.

Ia mengatakan, sabun tangan umumnya mengandung surfaktan yang menghancurkan membran lipida yang menyelubungi virus korona, yang berarti virusnya dapat dihancurkan dalam tingkat tertentu.

Sakamoto mengatakan alkohol juga efektif. Namun apabila tangan kita kotor, maka kadang sulit bagi disinfektan untuk membunuh kuman. Sakamoto mendesak orang-orang untuk secara rutin mencuci tangannya dengan sabun.

Q10. "Dalam kondisi seperti apa penularan dapat dinyatakan berakhir?"

Q8. "Apakah Jepang telah menemukan terapi yang efektif guna mencegah atau merawat infeksi akibat virus korona?” dari seorang pendengar di Indonesia, Nurdian Syah.

Sayangnya belum ada obat yang terbukti jelas efektif melawan virus korona, seperti Tamiflu dan Xofluza untuk menangani influenza. Seperti di negara dan kawasan lain, para dokter di Jepang memfokuskan pada merawat gejala-gejala, seperti memberikan bantuan oksigen bagi pasien dan memberikan infus jika mengalami dehidrasi.

Meski obat yang efektif bagi virus ini masih belum dikembangkan, para dokter di Jepang dan di seluruh dunia tengah menggunakan obat-obatan yang telah ada untuk menangani kondisi lainnya karena obat-obatan tersebut mungkin mempan terhadap virus korona.

Salah satu obatnya adalah Avigan, obat antiflu yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Jepang enam tahun lalu. Otoritas Cina mengatakan obat tersebut efektif dalam merawat para pasien virus korona.

Pusat Nasional Jepang bagi Kesehatan dan Obat-obatan Global mengatakan telah mengembangkan obat antivirus yang digunakan untuk mencegah munculnya AIDS ke seorang pasien yang terinfeksi virus korona. Para petugas di sana mengatakan demam pasien menurun, dan rasa lelah serta sesak napasnya mulai membaik.

Penelitian bagi terapi yang efektif juga sedang dilakukan di berbagai negara. Sebuah tim termasuk para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) melaporkan penelitian sebuah obat antivirus yang tengah dikembangkan untuk merawat Ebola ke seorang pria yang mengalami pneumonia akibat virus korona. Para peneliti mengatakan gejala pria tersebut mulai membaik sehari setelah diberikan obat tersebut.

Para peneliti itu menyebutkan ia telah melepas bantuan oksigen dan demamnya turun. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Thailand mengatakan kombinasi obat flu dan AIDS telah meningkatkan kondisi seorang pasien yang kemudian bersih dari virus korona.

Namun, pada seluruh kasus, para pakar mengatakan studi klinis lebih jauh dibutuhkan guna menentukan keamanan dan efektivitas obat-obatan tersebut.

Data ini dilaporkan hingga 25 Maret.

Q7. "Apakah anak-anak cenderung mengalami gejala parah ketika terinfeksi?"

Tidak ada laporan di Cina yang mengatakan anak-anak cenderung mengalami gejala parah ketika terjangkiti virus korona baru. Satu analisis yang dilakukan oleh tim pakar bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina atas 44.672 orang yang terinfeksi di negara itu hingga 11 Februari, tidak menunjukkan anak berusia sembilan tahun ke bawah meninggal akibat terjangkiti virus korona baru. Hanya satu kematian dilaporkan dari pasien yang berusia belasan tahun.

Satu kelompok peneliti dari Universitas Wuhan dan institusi lainnya melaporkan bahwa sembilan bayi yang berusia antara satu hingga 11 bulan teruji positif virus korona di Cina Daratan hingga 6 Februari. Mereka mengatakan tidak ada yang menjadi sakit parah.

Profesor Tsuneo Morishima dari Universitas Kedokteran Aichi adalah pakar penyakit menular pediatri. Morishima mengatakan virus baru ini dalam beberapa hal serupa dengan galur virus korona yang telah ada. Anak-anak yang kerap kena batuk pilek, mungkin punya imunitas tertentu terhadapnya.

Namun Profesor Morishima menambahkan bahwa kita harus hati-hati karena penularannya cenderung menyebar secara cepat di sekolah dan tempat penitipan anak. Ia mengatakan wali anak-anak harus memastikan anak-anak mencuci tangan sepenuhnya dan menjaga ruangan tempat mereka berada berventilasi baik.

Data yang disajikan di sini adalah per 24 Maret.

Q6. "Siapa yang cenderung menunjukkan gejala serius saat tertular virus korona baru?"

WHO mengatakan banyak kematian yang disebabkan oleh virus tersebut adalah orang-orang dengan kondisi dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, para penderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung.

Orang-orang dengan sistem imun yang lemah harus sangat berhati-hati bukan hanya terhadap virus korona baru tetapi juga terhadap infeksi biasa seperti influenza musiman.

Orang-orang tersebut di antaranya adalah mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung, serta orang-orang yang meminum obat penekan imun untuk merawat penyakit seperti reumatik, dan lansia.

Para peneliti mengatakan belum jelas hubungan antara kondisi medis pasien berpenyakit kronis tertentu dengan tingkat keseriusan dari gejala virus korona yang dialaminya.

Untuk wanita hamil, tidak terdapat data yang mengindikasikan apakah mereka masuk dalam kategori berisiko tinggi terhadap virus korona baru. Namun secara umum, wanita hamil cenderung lebih rentan terhadap virus-virus. Apabila terjangkit pneumonia, mereka kemungkinan besar akan menunjukkan gejala serius.

Juga belum terdapat data mengenai gejala virus korona baru seperti apa yang akan dialami oleh balita. Namun, karena balita tidak dapat mengambil langkah-langkah pencegahan sendiri seperti mencuci tangan dan menghindari kerumunan orang, maka orang tua didesak untuk melakukan apa pun yang mereka bisa lakukan guna melindungi anak-anak.

Q5. "Siapa yang cenderung menunjukkan gejala serius saat tertular virus korona baru?"

WHO mengatakan banyak kematian yang disebabkan oleh virus tersebut adalah orang-orang dengan kondisi dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, para penderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung.

Orang-orang dengan sistem imun yang lemah harus sangat berhati-hati bukan hanya terhadap virus korona baru tetapi juga terhadap infeksi biasa seperti influenza musiman.

Orang-orang tersebut di antaranya adalah mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung, serta orang-orang yang meminum obat penekan imun untuk merawat penyakit seperti reumatik, dan lansia.

Para peneliti mengatakan belum jelas hubungan antara kondisi medis pasien berpenyakit kronis tertentu dengan tingkat keseriusan dari gejala virus korona yang dialaminya.

Untuk wanita hamil, tidak terdapat data yang mengindikasikan apakah mereka masuk dalam kategori berisiko tinggi terhadap virus korona baru. Namun secara umum, wanita hamil cenderung lebih rentan terhadap virus-virus. Apabila terjangkit pneumonia, mereka kemungkinan besar akan menunjukkan gejala serius.

Juga belum terdapat data mengenai gejala virus korona baru seperti apa yang akan dialami oleh balita. Namun, karena balita tidak dapat mengambil langkah-langkah pencegahan sendiri seperti mencuci tangan dan menghindari kerumunan orang, maka orang tua didesak untuk melakukan apa pun yang mereka bisa lakukan guna melindungi anak-anak.

Q4. "Bagaimana cara mendisinfeksi pakaian kita?"

Kita akan mengetahui apakah mencuci baju akan menghilangkan virus dan apakah kita harus menggunakan alkohol disinfektan di pakaian kita.

Erisa Sugawara dari Asosiasi Jepang untuk Pengawasan dan Pencegahan Infeksi mengatakan tidak perlu menggunakan alkohol disinfektan di pakaian. Ia menjelaskan bahwa kebanyakan virus akan tersapu dari pakaian melalui prosedur mencuci biasa, meski hal ini belum teruji dengan virus korona baru.

Sedangkan untuk barang-barang yang dirasa berisiko terkontaminasi virus, seperti misalnya sapu tangan yang digunakan untuk menutup mulut saat batuk atau bersin, Sugawara merekomendasikan untuk direndam dengan air mendidih selama 15 hingga 20 menit.

Q3. "Apa yang harus diperhatikan oleh perempuan hamil?"

Dalam wabah virus korona, Asosiasi Jepang untuk Penyakit Menular dalam Kebidanan dan Kandungan merilis sebuah dokumen yang menyediakan saran bagi calon ibu dan perempuan yang ingin hamil.

Asosiasi itu menyebutkan sejauh ini tidak ada informasi bahwa perempuan hamil memiliki gejala lebih parah akibat virus korona atau laporan mengenai virus tersebut dapat menyebabkan masalah pada bayi yang belum lahir.

Namun, asosiasi itu memperingatkan bahwa, secara umum, perempuan hamil dapat menderita sakit yang serius jika mengalami pneumonia.

Asosiasi itu menyarankan kepada perempuan hamil untuk mengambil langkah pencegahan seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah ke luar rumah dan sebelum makan, serta menggunakan disinfektan yang mengandung alkohol.

Rekomendasi lain untuk pencegahan adalah menghindari kontak dengan orang-orang yang menderita demam dan batuk, menggunakan masker sebagai pelindung serta menghindari menyentuh hidung dan mulut dengan tangan.

Profesor Satoshi Hayakawa dari Fakultas Kedokteran di Universitas Nihon mengatakan ia memahami perempuan hamil merasa cemas. Namun, ia mendesak perempuan hamil agar bertindak berdasarkan pada informasi yang terpercaya dan akurat karena banyak informasi yang salah beredar selama wabah penyakit menular.

Q2. "Bagaimana orang dapat terinfeksi?" dan "Bagaimana kita dapat mencegah terinfeksi?"

Para pakar meyakini virus korona baru ditularkan melalui percikan ludah atau kontak dengan permukaan yang terkontaminasi, seperti halnya dalam influenza musiman atau influenza biasa. Ini artinya virus tersebut menyebar melalui percikan ludah yang keluar ketika batuk atau bersin.

Orang juga dapat terinfeksi dengan menyentuh gagang pintu yang tercemar atau gantungan pegangan tangan di gerbong kereta dan kemudian menyentuh hidung atau mulutnya dengan tangan yang tercemar. Virus korona diyakini memiliki derajat penularan yang kurang lebih sama dengan influenza musiman.

Langkah-langkah dasar bagi pencegahan penularan virus korona sama dengan langkah dasar melawan influenza musiman. Ini adalah mencuci tangan dan mempraktikkan etika batuk.

Ketika mencuci tangan orang dianjurkan untuk menggunakan sabun dan mencuci setiap bagian tangan hingga ke pergelangan menggunakan air mengalir selama setidaknya 20 detik. Atau, orang dapat menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol.

Etika batuk adalah cara yang penting untuk mengendalikan penyebaran penularan. Orang dianjurkan untuk menutupi hidung dan mulut dengan kertas tisu atau lengan guna mencegah mencipratkan percikan terkontaminasi ke orang lain.

Langkah efektif lainnya termasuk menghindari tempat-tempat ramai. Saat berada di dalam ruang, kerap membuka jendela untuk menjaga ventilasi ruangan.

Di Jepang, masing-masing perusahaan kereta akan memutuskan apakah akan membuka jendela gerbong penumpang yang padat. Para pakar mengatakan gerbong-gerbong itu sudah diberikan ventilasi hingga tingkat tertentu karena pintu akan selalu terbuka saat berhenti di stasiun dan penumpang naik atau turun.

Q1. "Apa itu virus korona?"

Virus korona adalah virus yang menginfeksi manusia dan binatang lainnya. Umumnya, menyebar di antara orang-orang dan menimbulkan gejala yang serupa dengan flu biasa seperti batuk, demam dan pilek. Beberapa jenis dari virus ini menyebabkan Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau MERS yang pertama kali terkonfirmasi di Arab Saudi pada 2012, dan bisa menimbulkan pneumonia atau gejala serius lainnya.

Virus korona yang menimbulkan pandemi global adalah galur baru. Orang-orang yang terinfeksi mengalami gejala seperti demam, batuk, lelah, berdahak, sulit bernapas, sakit tenggorokan dan sakit kepala. Sekitar 80 persen pasien pulih setelah mengalami gejala ringan. Hampir 20 persen mengalami kondisi serius seperti pneumonia atau kegagalan fungsi organ dalam.

Orang-orang yang berusia 60 tahun ke atas yang memiliki hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskular dan pernapasan serta kanker lebih rentan mengalami kondisi yang lebih serius atau mati. Infeksi dalam jumlah yang lebih sedikit dilaporkan terjadi pada anak-anak dan gejala terhadap mereka relatif ringan.
TOP