UNICEF Kecam Serangan Atas Sekolah Di Myanmar

Badan urusan anak-anak PBB, UNICEF, memperingatkan adanya lonjakan tajam jumlah ledakan di sekolah-sekolah di Myanmar. Selama empat bulan sejak kudeta 1 Februari, pihak militer dan para pengunjuk rasa prodemokrasi terus saling menyalahkan atas ledakan semacam ini.

Kantor cabang UNICEF di Myanmar menuliskan di laman Facebook-nya pada Kamis (03/06/2021) bahwa setidaknya 54 serangan terhadap sekolah dan para stafnya dilaporkan terjadi antara 1 Februari hingga 31 Mei. Disebutkan setidaknya 39 di antara serangan itu terjadi pada bulan Mei.

Badan PBB itu mengungkapkan bahwa dalam periode waktu yang sama, terdapat 141 insiden yang melibatkan penggunaan fasilitas pendidikan untuk tujuan militer. UNICEF menyerukan seluruh pihak terkait di Myanmar agar memprioritaskan upaya untuk menjaga keamanan sekolah-sekolah.

Militer Myanmar telah membuka kembali sekolah-sekolah di seluruh negeri setelah penutupan yang diberlakukan sebagai langkah penanggulangan terhadap pandemi virus korona. Namun, banyak guru dan siswa yang menolak kembali ke sekolah sebagai bentuk protes terhadap junta militer.