Pertandingan Sepak Bola Myanmar-Jepang Ditandai Unjuk Rasa

Myanmar kalah telak 10-0 melawan Jepang pada Jumat (28/05/2021) dalam pertandingan kualifikasi bagi kompetisi sepak bola Piala Dunia 2022. Pertandingan internasional pertama bagi klub sepak bola negara Asia Tenggara itu ditandai dengan unjuk rasa di dalam dan luar stadion.

Setidaknya 10 pemain dari tim Myanmar tersebut menolak untuk turun ke lapangan pertandingan. Saat pembawaan lagu kebangsaan, kiper cadangan klub tersebut memberikan hormat tiga jari yang berkaitan dengan unjuk rasa itu.

Sekitar 100 orang Myanmar yang tinggal di Jepang mengadakan unjuk rasa di luar stadion. Mereka mengumandangkan tidak ingin para pemain sepak bola tersebut mewakili negaranya.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan, “Militer memaksa para pemain untuk ikut serta. Mereka mewakili junta militer dan saya menentangnya demi rakyat di Myanmar.”

Kapten Zaw Min Tun merupakan salah satu dari pemain yang memilih untuk keluar dari pertandingan tersebut. Ia menyampaikan kepada NHK dirinya tidak ingin beroposisi dengan para penggemar sepak bola Myanmar yang menentang kudeta.

Zaw Min Tun mengatakan, “Alasan utama saya memboikot pertandingan ini adalah karena saya berada di pihak rakyat Myanmar, sehingga saya harus berdiri bersama mereka. Saya tidak ingin anak-anak saya berpikir saya berpihak dengan ketidakadilan. Karena itu saya memilih keadilan.”

Federasi Sepak Bola Myanmar mengatakan para pemain yang menolak untuk mewakili negaranya akan menghadapi skors dan sejumlah sanksi yang memungkinkan.

Sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) setempat mengatakan 831 warga sipil telah terbunuh di penjuru Myanmar dalam pemberantasan militer yang menyusul terjadinya kudeta.