Anggota DK PBB Khawatir atas Kesepakatan Baru Rusia-Korut

Anggota Dewan Keamanan (DK) PBB telah menyatakan kekhawatirannya terhadap perjanjian baru yang ditandatangani Rusia dan Korea Utara yang memperkuat kerja sama militer bilateral.

DK mengadakan pertemuan darurat pada Jumat (28/06/2024) atas permintaan Jepang, Amerika Serikat (AS), dan sejumlah negara lain.

Perjanjian baru antara Moskwa dan Pyongyang menetapkan bahwa jika salah satu dari negara itu berada dalam keadaan perang, pihak lain akan memberikan bantuan militer dan bantuan lainnya.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Perwakilan Tinggi untuk Urusan Pelucutan Senjata Nakamitsu Izumi menekankan bahwa transfer senjata dari Korea Utara melanggar resolusi DK. Ia mengatakan semua negara, termasuk Rusia, harus sepenuhnya mematuhi sanksi DK yang relevan terhadap Korea Utara.

Duta Besar Jepang untuk PBB Yamazaki Kazuyuki mengatakan Jepang mengecam keras ekspor rudal balistik Korea Utara ke Rusia yang melanggar resolusi DK terkait, serta penggunaan rudal tersebut oleh Moskwa di Ukraina. Ia menambahkan bahwa transfer senjata ini akan memperburuk situasi di Ukraina.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menyebut spekulasi mengenai penggunaan rudal Korea Utara oleh Rusia di Ukraina tidak benar.

Nebenzia juga mengatakan perjanjian Rusia-Korea Utara dimaksudkan untuk membentuk stabilitas di Asia Timur Laut di tengah meningkatnya ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Nebenzia mengkritik AS karena meningkatkan aktivitas militernya di wilayah tersebut.

Utusan Korea Utara untuk PBB Kim Song menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan perjanjian ini jika tidak ada niat untuk menyerang Korea Utara dan Rusia.