Filipina Akan Upayakan Resolusi Damai di Laut Cina Selatan

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. telah menegaskan kembali keinginannya untuk solusi damai terhadap konflik dengan Cina di Laut Cina Selatan. Namun, ia menambahkan bahwa negaranya tidak akan mundur.

Pemimpin negara itu mengunjungi tentara yang ditempatkan di Provinsi Palawan, Filipina barat pada Minggu (23/06/2024).

Ia mengatakan kepada para tentara, "Kita tidak bermaksud untuk memicu perang, tetapi pada saat yang sama, kita bersikap teguh." Ia juga mengatakan sikap yang tenang dan damai itu tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan.

Marcos memberikan medali kepada tentara yang terlibat dalam perselisihan dengan Pasukan Penjaga Pantai Cina di Karang Second Thomas pada 17 Juni. Manila mengatakan terumbu karang tersebut berada dalam zona ekonomi eksklusifnya, tetapi juga diklaim Beijing.

Seorang tentara Filipina terluka parah ketika Pasukan Penjaga Pantai Cina mencegat dan mengganggu pasukan Filipina yang mengirimkan pasokan ke pos terdepan militer, sebuah kapal yang kandas, di Karang Second Thomas pekan lalu.

Cina membela aksinya dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk menjaga kedaulatannya.

Namun, Menteri Pertahanan Filipina pada Senin (24/06/2024) menyebut insiden itu sebagai penggunaan kekuatan ilegal.

Sikap itu mencerminkan perubahan pandangan pemerintah. Sekretaris Eksekutif Filipina mengatakan pekan lalu bahwa insiden tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahpahaman atau kecelakaan. Ia juga telah menyarankan rencana untuk mengumumkan jadwal pasokan di pos militer lebih awal, yang dianggap para pengamat merupakan indikasi Manila menerima permintaan Beijing.

Namun, Menteri Pertahanan Filipina mengatakan pada Senin bahwa presiden telah menolak rencana tersebut.