Lembaga Kajian Swedia: Makin Banyak Hulu Ledak Nuklir Dikerahkan

Sebuah lembaga kajian di Swedia mengatakan total hulu ledak nuklir global yang digunakan bersama rudal dan pesawat terbang bertambah 60 unit dibandingkan tahun lalu. Cina dan Rusia tampaknya meningkatkan pengerahan hulu ledak nuklir itu.

Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm merilis temuan ini dalam laporan tahunannya pada Senin (17/06/2024).

Dikatakan bahwa diperkirakan terdapat 12.121 hulu ledak nuklir pada Januari 2024, turun 391 dari tahun sebelumnya.

Rusia diperkirakan memiliki 5.580 hulu ledak, disusul Amerika Serikat (AS) dengan 5.044 hulu ledak. Kedua negara itu diyakini memiliki sekitar 90 persen dari total persediaan global. Cina diperkirakan memiliki persediaan terbesar ketiga, yaitu 500 hulu ledak nuklir, 90 lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

Dari total tersebut, diperkirakan 3.904 hulu ledak atau lebih dari 30 persen dikerahkan dengan rudal dan pesawat terbang.

Laporan tersebut mengatakan bahwa untuk pertama kalinya Cina diyakini memiliki sejumlah hulu ledak dalam siaga operasional tinggi. Dikatakan juga bahwa Rusia diperkirakan telah mengerahkan sekitar 36 hulu ledak lebih banyak dengan pasukan operasional dibandingkan pada Januari 2023.

Laporan itu juga menyebutkan jumlah rudal balistik antarbenua yang dimiliki oleh Cina kemungkinan akan mencapai atau bahkan melampaui jumlah yang dimiliki Rusia atau AS dalam satu dekade. Institut itu mengatakan Cina memperluas persenjataan nuklirnya lebih cepat dibandingkan negara lain mana pun.

Laporan tersebut menganalisis bahwa ketegangan terkait Ukraina dan Jalur Gaza makin melemahkan diplomasi nuklir.

Hal ini mengacu pada latihan senjata nuklir taktis yang dilakukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina pada bulan Mei. Dalam laporan itu institut tersebut mengatakan belum pernah melihat senjata nuklir memainkan peran penting dalam hubungan internasional sejak perang dingin.

Laporan itu selanjutnya menyebutkan bahwa sekarang kita berada di salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah umat manusia. Institut itu menambahkan sudah waktunya bagi negara-negara besar untuk mundur dan melakukan refleksi.