Survei: Lebih dari 80% Khawatirkan Penurunan Kelahiran di Jepang

Jajak pendapat terbaru NHK menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen responden merasakan krisis akan dampak penurunan angka kelahiran di Jepang terhadap masyarakat.

NHK melakukan survei telepon acak selama tiga hari hingga Minggu (09/06/2024). Survei tersebut mendapat respons dari 1.192 orang, atau 49 persen dari responden yang ditargetkan.

Statistik pemerintah yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa tingkat kesuburan total di Jepang turun menjadi 1,20 pada 2023. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1947. Tingkat kesuburan menunjukkan jumlah anak yang diperkirakan akan dimiliki oleh seorang perempuan selama hidupnya.

Menurut survei NHK, 54 persen merasakan krisis yang sangat besar mengenai dampak sosial dari menurunnya angka kelahiran, sementara 31 persen mengatakan merasakan krisis hingga tingkat tertentu. Sementara itu, 6 persen menyatakan tidak terlalu khawatir, dan 2 persen menyebutkan tidak khawatir sama sekali.

Undang-undang tunjangan pengasuhan anak yang direvisi telah disahkan oleh Parlemen. Undang-undang ini menghapus batasan pendapatan yang menyebabkan sebagian orang tua tidak dapat menerima tunjangan anak. Undang-undang tersebut juga meminta kontribusi masyarakat untuk sebagian pendanaan yang diperlukan.

Ketika ditanya apakah langkah-langkah ini dapat membendung penurunan angka kelahiran, 3 persen responden mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut dapat memberikan dampak yang besar, dan 23 persen menyatakan langkah itu bisa membantu hingga tingkat tertentu. Di sisi lain, 46 persen responden menjawab langkah-langkah tersebut tidak akan banyak membantu, dan 20 persen menyebutkan tidak akan membantu sama sekali.