Para Diplomat Saling Tuding atas Upaya Peluncuran Satelit Korea Utara

Jepang dan Amerika Serikat (AS) saling tuding dengan Korea Utara di Dewan Keamanan PBB mengenai upaya terbaru Korea Utara untuk meluncurkan satelit mata-mata militer.

Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada hari Jumat (31/05/2024) atas permintaan Jepang, AS, dan negara-negara lain.

Korea Utara mengumumkan pada hari Senin (27/05/2024) bahwa peluncuran itu berakhir dengan kegagalan setelah roket jenis baru yang membawa satelit pengintaian militer meledak di udara.

Beberapa negara mengecam Korea Utara atas peluncuran itu, yang menggunakan teknologi rudal balistik yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Duta Besar Jepang untuk PBB Yamazaki Kazuyuki mengatakan, "Korea Utara sama sekali tidak menghormati resolusi Dewan Keamanan yang diadopsi secara mufakat, sekretaris jenderal, dan Piagam PBB."

Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood mengatakan Korea Utara secara ilegal telah mentransfer rudal balistik dan amunisi untuk membantu serangan Rusia terhadap Ukraina. Ia menambahkan bahwa tindakan itu memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina.

Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song, menuduh AS sering melakukan latihan militer di sekitar Semenanjung Korea.

Ia mengatakan, "Semenanjung Korea berubah menjadi zona paling rapuh di dunia, penuh dengan bahaya pecahnya perang."

Kim menambahkan bahwa peluncuran satelit pengintaian militer tidak hanya diperlukan untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara, tetapi merupakan isu penting untuk mempertahankan kedaulatannya.

Wakil duta besar Rusia untuk PBB menggambarkan tuduhan AS atas dugaan kerja sama militer Rusia dengan Korea Utara sebagai sama sekali tidak berdasar.