Korsel Bahas Respons Peluncuran Rudal Korut

Kantor kepresidenan Korea Selatan mengadakan pertemuan untuk membahas peluncuran rudal balistik jarak pendek terbaru Korea Utara. Pyongyang tampaknya juga mencoba mengacak sinyal GPS.

Anggota Kantor Keamanan Nasional kepresidenan dan pejabat lainnya bertemu pada Kamis (30/05/2024) pagi untuk menganalisis situasi dan mendiskusikan respons terhadap peluncuran rudal tersebut.

Militer Korea Selatan mengatakan Korea Utara menembakkan lebih dari sepuluh proyektil yang diyakini merupakan rudal balistik jarak pendek dari daerah Sunan, dekat Pyongyang, sekitar pukul 06.14 pada Kamis.

Proyektil yang diduga adalah rudal itu dilaporkan meluncur ke arah Laut Jepang. Setidaknya satu proyektil diyakini menempuh jarak lebih dari 350 kilometer.

Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa rudal tersebut tampaknya merupakan rudal jarak pendek yang oleh Korea Utara disebut sebagai “peluru roket superbesar”.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan militer juga mendeteksi upaya Korea Utara untuk mengacak sinyal GPS pada Kamis pagi.

Upaya pengacakan sinyal tersebut dilaporkan berasal dari sisi utara Garis Batas Utara, yang merupakan perbatasan laut de facto antar-Korea di Laut Kuning.

Militer mengatakan serangan pengacakan serupa juga terdeteksi pada Rabu (29/05/2024). Disebutkan bahwa tidak ada pasukan Korea Selatan yang terdampak. Namun, media setempat melaporkan beberapa kapal sipil mengalami masalah dalam penggunaan GPS.

Korea Utara sebelumnya gagal meluncurkan proyektil yang disebutnya satelit pengintaian militer pada Senin (27/05/2024).

Pada Selasa (28/05/2024), Korea Utara mulai mengirimkan balon dalam jumlah besar berisi sampah dan kotoran melintasi perbatasan ke Korea Selatan.

Militer Korea Selatan mengatakan pihaknya tetap waspada terhadap kemungkinan provokasi lebih lanjut oleh Korea Utara.