Avigan Disetujui guna Obati Infeksi Melalui Kutu

Panel ahli Kementerian Kesehatan Jepang telah menyetujui perluasan penggunaan obat anti-influenza, Avigan, untuk mengobati infeksi virus yang ditularkan melalui kutu yang disebut demam parah dengan sindrom trombositopenia, atau SFTS.

Setelah kementerian secara resmi menyetujui pengobatan tersebut, obat itu akan menjadi obat terapi pertama di dunia untuk SFTS.

Penderita SFTS kebanyakan mendapat infeksi virus melalui gigitan kutu. Gejalanya meliputi demam dan diare. Saat ini belum ada obat yang efektif.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan hingga 30 persen kasus SFTS di Jepang berakibat fatal.

Avigan dikembangkan oleh Fujifilm Toyama Chemical. Perusahaan tersebut meminta persetujuan Kementerian Kesehatan untuk penggunaan obat itu bagi SFTS pada bulan Agustus lalu, dengan mengatakan bahwa pihaknya telah memperoleh data mengenai efikasi.

Pada Jumat (24/05/2024), panel kementerian kesehatan mengonfirmasi bahwa obat tersebut efektif dan tidak ada kekhawatiran serius mengenai keamanannya.

Avigan awalnya disetujui sebagai obat anti-influenza di Jepang pada tahun 2014. Pemerintah telah memiliki stok obat tersebut.

Obat ini tidak boleh digunakan oleh ibu hamil atau wanita yang mungkin sedang hamil, karena pengujian pada hewan menunjukkan bahwa obat tersebut dapat menyebabkan kelainan bentuk pada janin.