Aktivis Thailand yang Dipenjara Meninggal setelah Mogok Makan

Seorang aktivis Thailand, yang menyerukan agar undang-undang pencemaran nama baik kerajaan diubah, meninggal setelah melakukan mogok makan selama berbulan-bulan di penjara.

Netiporn Sanesangkhom (28) awalnya didakwa dan dipenjara pada 2022 karena menghina monarki. Ia melakukan jajak pendapat publik mengenai praktik penutupan jalan bagi iring-iringan kendaraan kerajaan.

Pengacara Netiporn mengatakan ia mulai melakukan mogok makan pada Januari. Disebutkan bahwa ia sempat dipindahkan ke rumah sakit luar setelah jatuh sakit, tetapi dibawa kembali ke penjara bulan lalu.

Otoritas Thailand mengatakan Netiporn telah mendapatkan asupan makanan sejak bulan April. Namun, kondisinya memburuk pada Selasa (14/05/2024). Dilaporkan bahwa ia dipastikan meninggal di rumah sakit.

Unjuk rasa masyarakat yang menyerukan reformasi monarki dan peninjauan undang-undang pencemaran nama baik kerajaan menyebar di Thailand pada 2020 dan berlanjut hingga tahun berikutnya.

Namun, protes mereda setelah pihak otoritas menindak para pengunjuk rasa. Hampir tidak ada demonstrasi antimonarki yang terjadi saat ini.

Amnesty International Thailand telah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan, "Berbicara tidak seharusnya menyebabkan kematian." Organisasi HAM tersebut mendesak otoritas Thailand agar membebaskan semua aktivis dan pembela hak asasi manusia yang ditahan secara tidak adil.