AS Tidak Dukung Operasi Darat di Rafah

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa AS tidak mendukung operasi darat di Rafah di tepi selatan Gaza.

Komentar Biden muncul ketika pasukan Israel menginstruksikan masyarakat untuk meninggalkan bagian timur Rafah, dengan memperingatkan adanya operasi militer yang akan segera terjadi.

Israel kemudian mengatakan pihaknya melakukan operasi terbatas di kota yang dihuni sekitar 1,2 juta orang tersebut, yang juga menampung banyak pengungsi.

Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan Biden menyampaikan kepada Netanyahu melalui telepon pada Senin (06/05/2024) bahwa AS tidak mendukung operasi darat yang akan membahayakan warga sipil.

Kirby mengatakan, "Kami mengajukan pertanyaan kepada Israel tentang apa niat mereka di sini, dan apa tujuan yang lebih besar dari evakuasi ini."

Kantor Netanyahu mengatakan pada Senin bahwa kabinet perangnya dengan suara bulat menyetujui kelanjutan operasi militer di Rafah, untuk memberikan tekanan pada Hamas dan mempercepat pembebasan sandera yang ditahan di Gaza.

Sementara perhatian terfokus pada kemungkinan serangan darat Israel, Hamas mengatakan melalui pernyataan pada Senin bahwa pihaknya telah menerima proposal gencatan senjata.

Kirby mengisyaratkan bahwa negosiasi telah mencapai tahap kritis. Menurutnya, "Kami ingin membebaskan para sandera ini, kami ingin melakukan gencatan senjata selama enam pekan, meningkatkan bantuan kemanusiaan. Kami masih percaya bahwa mencapai kesepakatan merupakan hasil yang paling diinginkan."