Cari Dukungan, Kerabat Korban Penculikan Pergi ke AS

Dua kerabat warga negara Jepang yang diculik oleh Korea Utara telah berangkat ke Amerika Serikat untuk mencari dukungan dari pejabat AS agar masalah ini segera diselesaikan.

Mereka adalah Yokota Takuya, yang memimpin kelompok keluarga korban penculikan, dan Iizuka Koichiro.

Yokota adalah adik dari Yokota Megumi, yang diculik oleh agen Korea Utara pada usia 13 tahun.

Ibu Iizuka, Taguchi Yaeko, diculik oleh Korea Utara ketika dia berusia satu tahun.

Keduanya berencana menemui pejabat pemerintah dan anggota parlemen dari kedua kamar Kongres sebelum kembali ke Jepang pada Sabtu (04/05/2024).

Pada Februari, kelompok keluarga korban penculikan menyusun rencana aksi yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menentang pencabutan sanksi pemerintah Jepang terhadap Korea Utara, jika semua korban penculikan yang tersisa dikembalikan saat orang tua mereka masih hidup.

Kelompok tersebut mendesak pemerintah Jepang agar mengambil tindakan dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk mengambil keputusan.

Yokota dan Iizuka diperkirakan akan menjelaskan kebijakan baru tersebut serta mencari pemahaman dan dukungan dari pihak AS agar para korban penculikan dapat secepatnya dikembalikan.

Berbicara kepada wartawan di bandara Haneda Tokyo, Yokota mengatakan tidak ada yang berubah sejak ia mengunjungi AS setahun lalu.

Ia mengatakan keluarga korban penculikan masih menghadapi kenyataan bahwa orang yang mereka cintai belum kembali dan penderitaan mereka terus berlanjut.

Yokota berharap dapat bertemu dengan anggota parlemen, pakar, dan pejabat pemerintah AS. Ia juga menginginkan para pejabat tersebut memahami situasi keluarga di balik kebijakan baru tersebut.

Iizuka mengatakan bahwa satu tahun sangat berarti bagi anggota keluarganya yang lanjut usia. Menurutnya penting untuk melanjutkan upaya mendapatkan dukungan, pengertian, dan kerja sama dari pejabat AS agar korban penculikan dipulangkan sesegera mungkin.

Pemerintah Jepang mengatakan setidaknya 17 warganya diculik oleh agen Korea Utara pada tahun 1970-an dan 1980-an. Lima orang sudah dipulangkan pada 2002, tetapi 12 lainnya masih belum diketahui nasibnya.