Korsel Prihatin atas Perintah Jepang kepada Operator Aplikasi Line

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan keprihatinannya atas perintah yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang yang dapat memengaruhi sektor komunikasi.

Kementerian tersebut mengatakan pada Sabtu (27/04/2024) bahwa seharusnya tidak boleh satu pun perusahaan asal negaranya yang menghadapi tindakan diskriminatif atas perintah yang dikeluarkan Jepang kepada operator aplikasi media sosial Line, yang memintanya agar segera meninjau hubungan modal dengan sebuah perusahaan teknologi informasi Korea Selatan.

Kementerian komunikasi Jepang sebelumnya bulan ini mengeluarkan perintah untuk kedua kalinya terhadap LY Corporation, yang lebih dikenal di Jepang sebagai Line Yahoo, menyusul kebocoran besar-besaran data pengguna Line.

Perintah itu meminta perusahaan tersebut agar segera melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan modal dengan perusahaan teknologi informasi Korea Selatan, Naver, yang disalahkan atas pelanggaran data tersebut.

Naver memiliki 50 persen saham di perusahaan induk LY Corporation.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan akan memastikan niat Naver, dan jika perlu, akan mengadakan pembicaraan dengan Jepang.

Isu tersebut juga menimbulkan ketegangan di Korea Selatan.

Sebuah tajuk yang diterbitkan oleh surat kabar konservatif utama di Korea Selatan, Chosun Daily, mengatakan upaya Jepang untuk membubarkan hubungan bisnis bersama antara perusahaan swasta adalah "perilaku yang menunjukkan antipersaingan" serta juga "dapat melanggar" perjanjian investasi bilateral tahun 2003.

Surat kabar harian tersebut mengatakan apa yang dilihatnya sebagai "tekanan tidak adil" Jepang terhadap Naver itu "harus segera dihentikan".